Kriteria Pasangan Ideal Menurut Ustadz Salim A Fillah

Kriteria Pasangan Ideal Menurut Ustadz Salim A Fillah

61
SHARE
Ilustrasi pasangan ideal. Sumber www.pinterest.com

Majalahayah.com – Dalam suatu kajian ustadz Salim A Fillah mendapatkan pertanyaan dari jamaahnya mengenai pasangan mana yang ideal yang jadi rekomendasi ustadz. Untuk menjawab pertanyaan menarik tersebut, berikut simak penjelasan jawaban dari ustadz Salim:

Satu, pilih karena agama, Nabi SAW mengajarkan pilihlah orang yang memiliki agama, maka engkau akan beruntung. Jadi yang pertama-tama bukan soal muda atau tua, janda atau perawan, pilihlah yang beragama niscaya kamu beruntung. Apa itu beragama? Para ulama lain mungkin memberikan definisi-definisi lain, kalau saya ubaru,  bukan ulama. Maka, saya memberikan rekomendasi kalau melihat agama seseorang, perhatikan hubungannya dengan 4 pihak :

  1. Dengan Allah,
  2. Hubungan dengan ibunya,
  3. Hubungan dengan teman sebayanya,
  4. Hubungan dengan anak-anak kecil

Kenapa dengan Allah? Kalau sama Allah gak setia masa  mau diharapkan setia sama pasangan?

Kenapa ibu? Kalau sama ibunya sendiri gak bisa hormat masa bisa hormat sama pasangan?

Kenapa kok teman sebaya? Teman sebaya dalam pergaulan paling kenal dia, coba ditanyain ke teman-temannya, dia kalau berjanji ditepati atau tidak, kalau bicara banyak bohong atau jujur, kalau jadi sahabat pernah nikung atau belum, kalau hutang kembalian tepat waktu atau tidak, kalau ditagih lebih galak yang nagih atau tidak, itu tahu teman-temannya. Itu penting untuk diketahui.

Kenapa sama anak kecil? Karena kita bukan hanya mencari istri, kita itu mencari ibunya anak-anak, maka pengajar TPA, pengajar Iqra, itu potensial.

Lebih tua apa lebih muda? Monggo selera masing-masing. Saya termasuk IPKK (Ikatan Pecinta Kakak Kelas) masalahnya saya dulu nikah itu telat, saya baru nikah ketika umur sudah 20 tahun. Yo telat orang sebenernya 14 tahun sudah bisa. Jadi 20 tahun sudah nikah, saya ajukan ke seorang ustadz.

Saya (Ustd. Salim) : Ustadz, saya mau nikah , kalau saya sendiri yang mencari kok saya belum percaya sama mata saya. Mata saya pasti masih mudah terkelabui oleh gemerlapnya dunia, hati saya pasti belum jernih, bashirah, maka saya percayakan kepada Pak Ustadz, tolong saya dicarikan

Pak Ustadz               : Kriterianya seperti apa?

Saya (Ustd. Salim)   : Yang sholehah dan mensolehkan

Pak Ustadz           : Bagus, tapi abstrak, tolong yang kongkrit kriterianya itu, yang gampang dicari yang bisa ditemukan orangnya.

Saya (Ustd. Salim)  : Kongkritnya gini tadz, tolong dicarikan akhwat yang muslimah, punya kelompok binaan pengajian, minimal  3 kelompok, dan stabil

Pak Ustadz              : Kok pinter antum? Kenapa kamu milihnya gitu?

Saya (Ustd. Salim)  : Karena puya binaan dan stabil itu artinya banyak, berarti dia teman curhat yang baik, berarti bisa menempatkan orang pada posisinya, berarti dia seorang muslimah yang pinter ngajar, berarti dia seorang murabbi yang pintar mendidik. Saya cukup yang seperti itu.

Kemudian saya dipanggil,

Pak Ustadz              : Ada ini, pilih mana? Ada 4 pilihan

Saya (Ustd. Salim)   : Gak milih bisa gak tadz? Langsung saja empat-empatnya haha

Pak Ustadz              : Jangan, milih saja milih

Kemudian memilih, lalu istikharah. Selesai istikharah, saya pilih.

Pada 8 Juni 2004 kami bertemu pertama kali. Sebelum bertemu saya sudah baca, namanya, keluarganya, tinggi badan sekian, berat  badan sekian, pernah punya penyakit apa, pakai kacamata atau tidak. Lalu riwayat pendidikan, pengalaman organisasi, tradisi dalam keluarga. Kemudian disebutkan, dia selain kuliah kerja part time disebuah apotek sebagai asisten apoteker. Maka satu hari sebelum tanggal 8 Juni 2004, saya sore-sore pergi ke apotek itu beli multivitamin harganya Rp. 18.000, niatnya pengen liat orangnya. Kan nadharnya boleh, diperintahkan nabi, lihatlah. Saya niati, saya salah sangka ternyata asisten apoteker itu tidak didepan melayani pembeli, tapi dibelakang meracik obat . Maka multivitamin itu merupakan nadhar yang gagal. Hari berikutnya, bertemu dirumah Pak Ustadz itu, sepanjang pertemuan saya tidak berani memandang wajahnya, saya nunduk terus. Alhamdulillah mejanya terbuat dari kaca, jadi keliatan.

Baca juga :   Pergolakan Sejarah Perseteruan kebenaran dan Kebathilan Sepanjang Zaman (Bagian 3/3)

Bismillah, kemudian makin mantap, kemudian bertanya, apa visi misi anda dalam pernikahan ini, gimana konsep anda dalam mendidik anak, apa pandangan anda tentang istri yang berkarir, apa konsep dari pandangan anda tentang homeschooling. Pertanyaannya lebih susah dari pertanyaan skripsi.

Di akhir dia mengaku, kalau mencari yang pintar masak, saya tidak terbiasa memasak.

Ya Allah, diriwayatnya dai tertulis sudan mengekost 8 tahun, masa gak bisa masak? Saya kan heran. Tapi saya merasa ini kan ujian Allah. Ya Allah, Allah mengujiku, karena saya mintanya yang shalihah, ya kan gak harus bisa masak ya Ya Allah ya. Yowis, tidak apa. Kemudian saya bilang di Yogyakarta ini banyak rumah makan

Calon istri        : Saya juga tidak terbiasa mencuci, tangan saya, pecah-pecah tangan saya kalau mencuci.

Saya (Ustadz. Salim) : Yowes, di Yogyakarta kan banyak laundry. Saya itu tidak cari tukang masak, saya tidak cari tukang cuci, apalagi tukang pijat, yang saya cari istri kalau mau, segera saya ajak keluarga untuk ngelamar

18 Juli 2004 saya ngelamar dengan peta buta yang digambar oleh dia (calon istri), mencari rumahnya tidak ketemu. Harusya jam 11.00 WIB sampai itu baru sampai jam 13.30 WIB. Itu disambut sama keluarga dan tetangga mukanya seram-seram. Saya tanya, mukanya serem-serem kenapa?

“Nungguin tamu yang dari Yogy”,  jawabnya.

Setelah makan, lamaran disampaikan oleh pakde saya, kemudian dijawab oleh pakde dari dia. Jawabannya lamaran diterima, tapi nikahnya 2 atau 3 tahun lagi, masih kuliah semua, nanti saja.

Kemudia saya tiba-tiba nyeletuk, ntah kekuatan darimana, saya bilang pak mohon maaf urusan saya sekarang ini segera menikah, karena hukum saya untuk menikah itu sudah mendekati wajib, saya sudah terlalu takut jatuh kedalam maksiat, godaan dimana-mana, dan saya ini termasuk orang yang lumayan laku. Karena itu pak, saya percaya jodoh saya sudah tertulis oleh Allah, nah kalau nama yang disana bukan Dwi Indah Rahmawati binti H. M. Samidi saya izin pak, mohon maaf  kami akan segera pulang nanti cari-cari dijalan,  siapa tahu ketemu jodoh yang lain. Disitu, bapak saya melototin saya terus “kamu ngomong apa ini”. Ada yang lagi minum ketika dengar omongan saya tersedak, batuk. Tapi calon mertua saya orang bijaksana, sehingga beliau mengatakan, mungkin dalam hati ya “ini makhluk langka, perlu dilestarikan”. Lalu kemudian beliau mengatakan. “jangan gitu dek, dek Salim memang mau kapan menikahnya?”

Baca juga :   Nasehat itu Punya Maksud, Ingin Orang Lain Jadi Baik

Saya (Ustadz Salim) : Putri bapak, menggambar peta keliru, bikin kami tersesat di Yogya. Dari Yogya kesini, saya sudah hafal teks ijab kabul, bahasa arab, bahasa inggris, bahasa jawa, bahasa Indonesia pak. Ayo mau pakai bahasa apa, sekarang saja pak. (diiringi dengan tawa)

Bapak calon istri      : Yo, ndak sekarang, ngawur. Kan perlu persiapan.

Saya (Ustadz Salim) : Ya sudah persiapannya, berapa lama pak?

Akhirnya 20 Agustus 2004, saya dinikahkan. Menjelang nikah, saya dipanggil calon mertua.

Bapak calon istri     : Selanjutnya, bagaimana? Ya ini kan masih sekolah semua, belum selesai, teruskan biaya biaya tanggungan macam-macam.

Saya (Ustadz Salim) : Yang namanya nikah itu, pengalihan tanggung jawab dari bapak ke suami. Maka, kalau putri bapak sudah jadi istri saya segala yang selama ini jadi tanggungan bapak pindah ke saya.

Lalu ada sms masuk ke handphone saya, dari calon istri, SPP  saya 1 setemester itu 4 kali SPP jenengan

Saya langsung berkeringat dingin, tidak terbayang SPP-nya akan lebih mahal dari saya

Mau ijab kabul rasanya jadi berat begini. Bismillah. Engkau berjanji ya Allah, akan menolong orang yang menikah untuk menjaga kesucian dirinya, tolong saya ya Allah, tolong. Ini ijab kabul saya mau memejamkan mata. Nanti tolong ketika saya membuka mata tujukan keajaiban ya Allah.

Nabi Ibrahim ketika menyembelih nabi Ismail juga memejamkan mata. Kenapa? Karena berprasangka baik sama Allah. Makanya saya memejamkan mata meskipun saya tidak berharap, nanti keajaibannya seperti Nabi Ibrahim,diubah menjadi domba kan gak lucu. Kemudian ketika saya membuka mata, hujan turun, dan makin deras padahal bukan musimnya. Setelah ijab kabul istri diminta cium tangan suami, untuk pertama kalinya kulit saya disentuh wanita yang dulunya tidak halal untuk saya, sekarang itu halal. Saat itu saya kuat-kuatkan hidung saya, saya dekatkan ke ubun-ubunnya saya sentuhkan sambil saya berdoa, saya berbisik kemudian “lihat bahkan langit pun menangis, kehilangan salah satu bidadarinya, turun ke bumi untuk mendampingiku”. Habis itu “yes gombal pertama sukses”. Gitu ya mas, jadi ceritanya begitu.

Jadi salah satu skenarionya pertama begitu insyaa Allah dimudahkan Allah SWT, ternyata, tidak sampai setahun kemudian. 17 Agustus 2005, istrinya yang dulu masih calon, ngaku tidak bisa masak, pada ulang tahun Republik Indonesia yang ke 60 tahun, lomba masak tingkat RT juara 1. Kalau kita saling menghargai insyaa Allah orang mau belajar, ternyata istri saya bisa masak. Saya belum pernah memakan yang lebih enak masakannya dari istri saya. Ini saya bohong atau jujur?

Jujur atau bohong itu dapat pahala, jadi gak masalah. Bohongya seorang suami menyenangkan hati istri itu berpahala.