KPAI Soroti Fenomena Anak-Anak Minum Rebusan Pembalut Biar “Nge-Fly”

KPAI Soroti Fenomena Anak-Anak Minum Rebusan Pembalut Biar “Nge-Fly”

35
SHARE

Majalahayah.com, Jakarta – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) prihatin atas kasus anak-anak yang meminum air rebusan pembalut. Komisioner bidang Kesehatan dan Napza KPAI, Sitty Hikmawaty mengatakan kasus tersebut bukanlah kasus pertama kalinya.

“Pada saat kami tangani kasus penyalah gunaan PCC , 2017 lalu juga sudah kita temui, namun jumlahnya relatif kecil,” tutur Sitty dalam pesan tertulis (08/11/2018).
Menyampaikan bahwa kegiatan remaja yang mencari alternative zat yang dapat membuat mereka “fly”, tenang ataupun gembira, sambung Sitty, awalnya didapatkan secara coba-coba atau eksperimen.
“Jadi kalau kita mengenal beberapa golongan psikotropika diluar Narkoba, maka beberapa zat “temuan” para remaja ini termasuk kelompok eksperimen psikotropika,” tutur Sitty.
Sementara, atas kasus ini, Sitty katakan jumlahnya belum bisa diprediksikan, karena ini berkaitan erat dengan jumlah anak serta kreatifitas mereka “meramu” bahan-bahan yang mudah di dapat dipasaran
“Minum air rebusan pembalut juga di dapat dari coba-coba, selain fenomena lain seperti ngelem, dll,” imbuhnya.
Berbekal ilmu melalui internet sehingga dapat membuat beberapa varian, pada dasarnya Sitty katakan anak-anak yang terlibat adalah anak yang cerdas.
“Dan disinilah tingkat resiko/bahaya menjadi meningkat karena mereka hanya konsen pada satu zat tertentu dalam sebuah bahan, namun zat lainnya cenderung diabaikan sehingga reaksi sampingan yang terjadi bisa berakibat fatal,” tambahnya.
Hasil penelusuran KPAI mendapatkan bahwa awalnya dorongan ekonomilah yang membuat mereka melakukan percobaan ini. Karena tidak mampu membeli dan tidak punya biaya,  sementara sudah kecanduan, maka mereka berupaya mencari tahu dengan bantuan informasi Internet tadi, meracik sendiri ramuan-ramuan yang diharapkan akan memberikan hasil seperti kebutuhan mereka.
KPAI terus berkoordinasi dengan banyak pihak agar fenomena ini bisa ditangani, namun tetap saja garda terdepan ada di dalam keluarga, dan lingkungan terdekat dimana anak tinggal.
“Deteksi dini atas perubahan perilaku anak-anak disekitar kita, jika tidak ada alasan yang wajar, perlu menjadi bahan bagi para orang tua agar menjadi lebih waspada,” tutup Sitty.