KPAI : Kekerasan dalam Keluarga Faktor Penyebab Anak Jadi Kasar

KPAI : Kekerasan dalam Keluarga Faktor Penyebab Anak Jadi Kasar

149
0
SHARE
Wakil ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) (Foto: KPAI)

Majalahayah.com, Jakarta – Awal Februari, dunia pendidikan di suguhi tindakan melampaui batas normal. Setelah viralnya video murid mengancam guru di Kab Gresik, Jawa Timur, dilanjut tindakan murid mengeroyok cleaning service di Sulawesi Selatan.

Menanggapi peristiwa di Sulawesi Selatan, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sampaikan bahwa minimnya pola asuh orang tua terhadap murid yang melakukan tindakan tak terpuji.

“Kekerasan dalam lingkungan keluarga menjadi salah satu faktor penyebab anak menjadi kasar,” ujar Rita Pranawati, Wakil ketua KPAI dikutip dari detik (11/2/2019).

Rita tegaskan bahwa terdapat banyak faktor anak melakukan tindakan kekerasan. “Jadi tidak tiba-tiba kemudian menjadi seperti itu, misalnya anak ini tumbuh kembangnya banyak melihat kekerasan atau main game kekerasan sehingga menjadi sebuah budaya yang ada dalam dirinya,” jelas Rita.

Menyatakan peran sentral dalam mencegah anak menjadi pelaku kekerasan ada di tangan orang tua. Rita katakan saat ini banyak orang tua yang mendidik anak dengan pola yang mereka terima saat masih kecil tanpa mengikuti perkembangan budaya dan teknologi.

“Jadi orang tua tidak banyak skill zaman now, dulu kan distrupsi itu tidak banyak tapi sekarang distrupsi itu dari game, dari pertemanan, bahkan misalnya anak remaja lebih percaya temannya daripada orangtuanya, berarti ada gab di situ,” ujarnya.

Selain itu, Rita teranggkan karakter anak juga dibentuk lewat jenjang pendidikan yang mereka tempuh. Rita menilai di setiap sekolah, para pendidik tak bisa menyamaratakan perlakuan terhadap para murid karena mereka memiliki latar belakang yang berbeda.

“Guru-guru juga harus melihat, kalau ada keluarga rentan, sejak awal anak masuk ya diperhatikanlah, anak ini mungkin keluarganya tidak utuh, itu bagian dari pencegahan. Ketika ada anak sekolah melakukan hal tidak tepat handling-nya juga pas, bukan hal yang mengada-ada,” ujarnya.

Sebelumnya, seorang petugas cleaning service SMP Negeri 2 Takalar, Faisal Daeng Pole (38), dikeroyok oleh siswa sekolah itu dan orang tuanya. Pria ini juga sempat dimaki dengan panggilan binatang oleh para siswa. 

Peristiwa pengeroyokan ini terjadi pada 9 Januari lalu di sekitar lingkungan sekolah. Faat itu Faisal tengah membersihkan sampah di luar kelas. Tiba-tiba datang lima siswa yang mengejek Faisal.

Karena diumpat, Faisal kesal dan menampar salah satu siswa sebanyak satu kali. Siswa yang ditampar berinisial I ini kemudian pulang dan mengadukan peristiwa penamparan itu kepada ayahnya hingga berujung pengeroyokan terhadap Faisal. 

“Kemudian para siswa tersebut secara bersama-sama memukul korban dengan menggunakan sapu ijuk yang bergagang besi yang mengenai kepala sebelah kiri yang mengakibatkan luka robek pada kepala sebelah kiri,” kata Kapolres Takalar AKBP Gany Alamsyah saat berbincang dengan detikcom, Senin (11/2/2019).

LEAVE A REPLY