KPAI Catat 4.885 Kasus Pelanggaran Anak di Tahun 2018

KPAI Catat 4.885 Kasus Pelanggaran Anak di Tahun 2018

43
SHARE

Majalahayah.com, Jakarta – Potret kasus pelanggaran hak anak dari tahun ke tahun terjadi secara fluktuatif. Kasus pengaduan yang masuk di KPAI, tahun 2015 berjumlah 4.309 kasus, kemudian tahun 2016 mencapai 4.622 kasus, selanjutnya tahun 2017 berjumlah 4.579 kasus dan tahun 2018 mencapai 4.885 kasus.

Tahun 2018, kasus anak berhadapan dengan hukum (ABH) masih menduduki urutan pertama, yaitu mencapai 1.434 kasus, dan didominasi kasus kekerasan seksual.

“Laki-laki mendominasi sebagai pelaku dibandingkan anak perempuan. Sedangkan perempuan mendominasi sebagi korban kasus kekerasan seksual”, kata Susanto, selaku ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia dalam keterangan tertulisnya.

Selanjutnya, disusul kasus terkait keluarga dan pengasuhan alternatif mencapai 857 kasus. Kasus terkait keluarga dan pengasuhan alternatif didominasi kasus pelarangan bertemu orang tua.

Baca juga :   Temui KPAI, Manajemen Tik Tok Sepakat Perbaiki Sistem Perlindungan Anak

“Kasus tersebut mencapai 210 kasus di tahun 2018, sementara kasus perebutan kuasa pengasuhan mencapai 189 kasus”, tukasnya.

Lalu terkait kasus pornografi dan siber mencapai 679 kasus, yang didominasi sebagai korban pornografi dari media sosial dan korban cenderung berjenis kelamin perempuan. Namun untuk anak sebagai pelaku kepemilikan pornografi, yaitu mecapai 112 kasus. Sebanyak 71 anak pelaku didominasi anak laki-laki.

Kasus pendidikan berjumlah 451 kasus, dimana tahun 2018 anak pelaku kekerasan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

“Di tahun 2017, anak sebagai pelaku kekerasan di satuan pendidikan mencapai 116 kasus, sementara tahun 2018 berjumlah 127 kasus”, ujarnya.

Lanjut Susanto, sementara kasus kesehatan dan NAPZA mencapai 364 kasus dan didominasi oleh kasus anak korban layanan kesehatan yang bermasalah, yaitu mencapai 84 kasus, dimana nampaknya, anak laki-laki justru lebih banyak menjadi korban daripada anak perempuan.

Baca juga :   Peran Ayah Terkait Pengetahuan dan Pengasuhan dalam Keluarga Sangat Kurang

“Sementara masalah pengaduan karena penyakit menular dan kasus keracunan makanan menempati urutan berikutnya, sebelum masuk pada pengaduan kasus NAPZA. Tampaknya, anak laki-laki justru lebih banyak menjadi korban daripada anak perempuan,” jelasnya.

Kemudian kasus trafiking dan ekploitasi anak mencapai 329 kasus. Anak korban prostitusi menduduki angka paling tinggi dalam anak korban trafficking dan eksploitasi. Hal ini disebabkan adanya perluasan prostitusi secara online yang menjerat anak selain cara konvensional.

“Kasus pelanggaran hak anak di bidang sosial dan anak dalam situasi darurat, masih dominasi oleh kasus anak terlantar, yaitu berjumlah 152 kasus. Balita terlantar tampaknya mendominasi kasus anak terlantar”, tutupnya.