KPAI : Anak Terlibat Gang Motor, karena Kurang Diapresiasi

KPAI : Anak Terlibat Gang Motor, karena Kurang Diapresiasi

106
0
SHARE
Wakil ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) (Foto: KPAI)

Majalahayah.com, Jakarta – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) prihatin dengan maraknya keterlibatan anak dalam peristiwa geng motor. Menurut Wakil Ketua KPAI, Rita Pranawati bahwa keterlibatan anak dalam geng motor bentuk pencarian identitas diri namun dengan cara yang tidak tepat. 

“Anak-anak ini terlibat dalam geng motor karena merasa ingin diakui keberadaan dan eksistensi dirinya di kelompok sehingga ikut terlibat dalam geng motor,” ujar Rita dalam rilis (20/2/2019).

Menurut Rita, anak akan bersikap positif jika orang tua memberikan perhatian penuh pada anak dan memberikan rasa nyaman, sehingga anak-anak merasa diterima oleh orang tua.

“Banyak anak merasa komunikasi orang tua dengan anak hanya ngomel melulu, jarang diapresiasi, sehingga anak merasa lebih nyaman di luar rumah dan mencari eksistensi diri dengan cara yang tidak tepat. Salah satunya geng motor,” tutur Rita 

Mengetahui peristiwa geng motor banyak terjadi di waktu dini hari hingga subuh. Rita tegaskan para orangtua patut mencari anaknya jika jam 9 malam belum ada di rumah.

“Semua pihak perlu menjaga anak-anak dan lingkungan bebas dari narkoba. Temuan Polres Jakarta Barat bahwa semua angota geng motor mengkonsumsi narkoba dan zat terlarang lainnya adalah bukti efek buruk, halusinasi, serta hilangnya akal sehat akibat mengkonsumsi narkoba dan zat terlarang lainnya,” jelas Rita 

Oleh karenanya, Rita menghimbau agar orang tua dan sekolah perlu memberikan aktivitas yang positif dan fasilitasnya sehingga anak tidak mencari aktivitas yang negative dan mengkonsumsi narkoba.

Dengan adanya keterlibatan anak yang sudah menjalani pidananya di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA), namun justru menjadi “panglima” geng motor kembali, KPAI meminta Dirjen Pemasyarakatan untuk melakukan proses pembinaan yang lebih lagi bagi anak-anak di LPKA. 

Selain itu, proses rehabilitasi dan reintegrasi sosial paska anak keluar dari LPKA perlu ditingkatkan proses dan kualitasnya. Termasuk bagaimana memampukan orang tua untuk dapat mengasuh anak, serta masyarakat dapat menerima keberadaan anak ini, sehingga anak yang keluar dari LPKA tidak lagi terlibat dalam tindak pidana.

LEAVE A REPLY