Deklarasi “Masyarakat Duri Pulo: Memilih Nutrisi Bukan Rokok” (Foto: MA/Dini)

Majalahayah.com – Perlawanan terhadap adiksi rokok sudah seharusnya dimulai dari ranah rumah tangga, salah satunya melalui manajemen uang belanja rumah tangga yang dikelola ibu-ibu. Hal tersebut disampaikan Ketua Lentera Anak, Lisda Sundari.

Lisda katakan gerakan tersebut sudah dilakukan oleh Ibu-Ibu di Kelurahan Duri Pulo, Jakarta Pusat.

“Kesadaran akan pentingnya mengutamakan nutrisi anak ketimbang rokok di Kelurahan Duri Pulo dibuktikan melalui temuan survey dari Yayasan Lentera Anak (2019) mengenai anggaran belanja rumah tangga di Duri Pulo,” ujar Lisda.

Melalui hasil survey tersebut, Lisda katakan mereka telah berhasul menunjukkan makanan bergizi menjadi pilihan anggaran belanja nomor satu sebelum jajan anak dan rokok.

Namun sayangnya, sambung Lisda, data skala nasional tidaklah demikian. Tercatat dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2010 bahwa pengeluaran keluarga miskin untuk membeli rokok adalah 5 kali lebih banyak daripada untuk membeli telur dan susu, dan menjadikan rokok sebagai pilihan belanja nomor 2 keluarga miskin.

Menanggapi temuan tersebut, Ibu-Ibu di Kelurahan Duri Pulo memilih untuk menyuarakan kekhawatiran mereka secara serentak melalui Deklarasi “Masyarakat Duri Pulo: Memilih Nutrisi Bukan Rokok” yang dibacakan di Festival Telur VS Rokok yang diselenggarakan Lentera Anak bekerjasama dengan Kelurahan Duri Pulo, RPTRA Melati Duri Pulo dan sejumlah komunitas dan organisasi yang berlangsung pada hari Minggu, 3 Februari 2019. Tidak hanya masyarakat sekitar, deklarasi tersebut juga dihadiri secara langsung oleh Wakil Walikota Jakarta Pusat, Irwandi.

Deklarasi yang bertempat di RPTRA Melati Duri Pulo dibacakan oleh Ibu Ika, seorang warga setempat yang dinobatkan sebagai Duta Telur VS Rokok.

Ibu Ika dipilih karena komitmennya yang tinggi dalam memerangi adiksi rokok di dalam rumah tangganya. Ia mengakui bahwa dulu dirinya pernah merokok, dan tersadar untuk berhenti ketika beliau hamil 3 bulan. Ia mengakui bahwa alasan terbesar dari keputusannya ialah karena cinta.

“Cinta kepada diri sendiri dan orang sekeliling. Itu yang membuat tekad saya semakin kuat untuk berhenti merokok,” ucap Ibu Ika.

Tak hanya itu, Ika pun menghimbau para perokok untuk segera sadar untuk mengutamakan kepentingan anak ketimbang rokok, dan untuk berhenti merokok sebelum terlambat.

“Selain menyampaikan kekhawatiran warga, deklarasi tersebut juga berisikan pernyataan dukungan kepada pemerintah Indonesia untuk menaikkan pajak dan cukai rokok. Hal ini dimaksudkan agar harga rokok naik dan menjadi tidak terjangkau dengan mudah oleh masyarakat, terutama anak-anak,” tukas Lisda.