Komisioner ABH KPAI : Sistem Peradilan Pidana Anak Amanat yang Harus Ditunaikan

Komisioner ABH KPAI : Sistem Peradilan Pidana Anak Amanat yang Harus Ditunaikan

41
SHARE
Putu Elvina. foto : KPAI.go.id

Majalahayah.com, Jakarta – Catatan akhir tahun Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menghimbau bahwa Kasus anak berhadapan dengan hukum (ABH) masih menjadi kasus tertinggi sebanyak 1.209 kasus.

Tercatat 530 anak menjadi pelaku kekerasan dan 477 anak sebagai korban kekerasan. Data tersebut, KPAI menilai bahwa kerentanan anak saat ini bukan hanya menjadi korban tetapi juga menjadi pelaku.

Upaya penegakan hukum terhadap kasus-kasus kekerasan seksual harus menjadi komitmen seluruh aparat penegak hukum. Menanggapi pidana hukum pada anak sebagai pelaku, Komisioner Penanggung Jawab bidang anak berhadapan dengan Hukum (ABH) , Putu Elvina mengatakan bahwa “Bagi pelaku anak, penegakan sistem peradilan pidana anak merupakan amanat yang harus segera ditunaikan untuk menjaga kepentingan terbaik untuk anak,” ujarnya saat konferensi pers di KPAI Jakarta (18/12).

Baca juga :   Bahas Persoalan Akte Lahir Serta KIA, KPAI Temui Mendagri

Dalam rilis yang diperoleh majalahayah.com, menjelaskan, meskipun anak menjadi pelaku tersebut juga merupakan ‘korban’ dari problem pengasuhan dikeluarga maupun kondisi lingkungan yang kurang mendukung.

Sedangkan anak sebagai korban, Lanjut Putu, “KPAI menghimbau pemerintah untuk hadir melakukan upaya rehabilitasi korban secara maksimal,” tambahnya.

Menanggapi hal tersebut, Susanto selaku Ketua KPAI menjelaskan harus adanya peningkatan kualiti kontrol pada anak, kurangnya pola asuh orang tua terhadap anak dan lingkungan yang kurang mendukung menjadikan anak sebagai korban dan pelaku kekerasan,” ujarnya.

Baca juga :   Mahir Berbahasa Arab dengan Membaca Al-Quran

Kasus bidang Keluarga dan Pengasuhan Alternatif menjadi nomor urut kedua setelah kasus ABH, sebesar 593 kasus, dan kasus pornografi dan cybercrime menggantikan posisi bidang pendidikan yakni sebanyak 514 kasus.