Kisah Perjuangan Fadlan Garamatan, Cita-cita Papua menjadi Serambi Madinah

Kisah Perjuangan Fadlan Garamatan, Cita-cita Papua menjadi Serambi Madinah

938
SHARE
Foto : Ustadz Fadlan saat berdakwah diatas kapal AFKN kepada anak-anak di distrik Kokas, Kab Fak-fak, Papua. Sumber www.koranfakta.net

Majalahayah.com – Seorang pria yang sempat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Jayapura, tapi kemudian memilih berhenti karena adanya pertentangan nilai keyakinan dalam pekerjaannya, lalu dengan tekad bulat ia putuskan berjuang di jalan dakwah. Pria ini bernama M Zaaf Fadlan Rabbani Al-Garamatan ini Seorang da’i yang pernah mendapatkan penghargaan “Tokoh Perubahan Republika 2011” dari wilayah ujung timur.

Ustadz Fadlan bersama 600-an da’i sedang berjuang menyebarkan indahnya Islam di tanah Papua. Melepaskan kebodohan dan berhala-hala keyakinan-pemikiran yang sengaja disebarkan oleh orang-orang yang ingin masyarakat Papua tetap menjadi orang-orang pinggiran dan tak berperadaban. Dengan sebuah cita-cita, tahun 2020 nanti Papua akan menjadi SERAMBI MADINAH, melengkapi SERAMBI MEKKAH di ujung barat Indonesia. Jika di ujung timur telah terbit cahaya Islam dan di ujung barat cahaya Islam semakin terang benderang.

Berjalan berhari-hari menembus hutan-hutan ganas Papua juga sudah biasa. Bahkan sambutan panah dan tombak tak sedikitpun melemahkan semangatnya untuk menyebarkan Islam. Ada yang menarik dari kisah pengalaman Ustadz Fadlan Garamatan, yang telah berdakwah sampai ke pelosok Indonesia Timur, khususnya pelosok Bumi Papua, Berikut kisahnya:

Dikisahkan, Ust Fadlan pernah berdakwah sendirian untuk menuju suatu perkampungan dengan waktu tempuh tercepat 3 bulan berjalan kaki. Dan Subhanallah hal tersebut tidak pernah menyurutkan hatinya untuk terus berdakwah, jika ada aral melintang dia selalu kembalikan kepada Allah SWT, dan dia selalu ingat bagaimana dulu Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam berdakwah dengan jarak ribuan kilo dan di padang tandus.

Ust Fadlan juga mengisahkan cerita ada seorang da’i dari Surabaya ingin ikut berdakwah dengannya di tanah Papua, dan diajaklah dia. Awalnya da’i tersebut tidak menyangka akan mendapatkan perjalanan yang sangat berat di tanah Papua. Da’i bersama dengan Ust. Fadlan harus menempuh perjalanan selama 12 hari berjalan kaki untuk menembus daerah yang akan di kunjungi. Pada hari ke-10 da’i dari Surabaya sudah merasakan kelelahan sehingga dia marah-marah, Ust. Fadlan pun bilang,

Baca juga :   Ramzan Kadyrov, Presiden Chechnya dan Pejuang Islam di Federasi Rusia

“Jika anda ingin kembali silahkan anda kembali sendiri, saya akan tetap meneruskan perjalanan ini, dan anda bukanlah umat Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam , karena anda hanya bisa mengeluh, anda tidak ingat betapa beratnya perjuangan Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam waktu pertama kali berdakwah?”. Setelah itu Ust. Fadlan tetap melanjutkan perjalanannya dan da’i tersebut dengan wajah menyesal mengikutinya.

setelah tiga bulan menetap di daerah tersebut dan tidak ada seorang pun yang masuk Islam, Ust. Fadlan mengatakan kepada da’i dari Surabaya bahwa ini karena da’i tersebut mempunyai niat yang salah sewaktu memulai perjalanan tersebut. Da’i tersebut merasa sangat bersalah sekali, dan dia berniat untuk memperbaikinya, dan Ust. Fadlan mengusulkan agar da’i tersebut untuk menikahi salah satu wanita yang ada di daerah tersebut.

Da’i tersebut meminta waktu untuk shalat istikarah, setelah 7 hari beristikarah, dia memberi jawaban bahwa dia mendapatkan petunjuk dengan cahaya putih, Ust. Fadlan menyimpulkan bahwa itu artinya da’i tersebut memang harus menikah dengan wanita dari daerah tersebut. Maka di bawalah salah seorang wanita dari penduduk setempat untuk di ajak ke pulau Jawa, dan di tanah Jawa dia diajarkan semua tentang agama Islam, dan akhirnya mereka menikah di tanah Jawa.

Foto : Ust. Fadlan berdakwah kepada warga suku pedalaman papua. Sumber www.kabarmakkah.com

Kisah berhadapan dengan panah-panah beracun

Dikisahkan pula,pada suatu waktu Ust. Fadlan menceritakan tatkala ia bersama 20 orang berniat ingin mengunjungi daerah yang masyarakatnya masih asing dengan orang luar, dia mengatakan bahwa jika mereka kesana maka kemungkinan mereka akan langsung berhadapan dengan panah-panah beracun, maka Ust. Fadlan menanyakan apakah mereka siap untuk mati syahid, dalam menghadapi hal-hal semacam itu. Ternyata hanya 6 orang yang bersedia untuk mati syahid dan berani mendampingi ust. Fadlan ke daerah tersebut.

Baca juga :   Bebaskan Warga Papua, Pramuka Apresiasi TNI dan Polri

Setelah mendekati daerah tersebut, mereka melihat masyarakat disana sudah siap menghadang mereka dengan senjata-senjata tradisional mereka. Selanjutnya di tengah perjalanan Ust. Fadlan menanyakan kembali kesediaannya dari 6 orang tersebut, apakah mereka benar-benar siap untuk mati syahid, dan mereka semua menyatakan siap. Sebelum mereka melangkah, Ust. Fadlan memberikan satu pesan, yaitu jika, Ust. Fadlan terkena panah dan sudah tidak dapat berdiri, ke-6 orang tersebut harus lari menyelamatkan diri.

Setelah ada kesepakatan, mereka pun melangkah dengan langkah pasti. Dan masyarakat tersebut pun menyambut mereka dengan panah-panah beracun yang di lepaskan, hingga ust. Fadlan terkena panah di beberapa bagian badannya, dan akhirnya jatuh tersungkur, dan ust. Fadlan tetap berusaha untuk berdiri dan terus melangkah walaupun darah terus mengalir dari tubuhnya, sedangkan ke-6 orang tadi melihat ust. Fadlan telah tersungkur, dan ingat pesannya, maka mereka pun melarikan diri. Dan melihat keadaan ust. Fadlan yang masih berusaha untuk berdiri, ketua adat daerah tersebut pun meminta agar masyarakatnya menghentikan panah-panah beracun.

Dia menghampiri ust. Fadlan dan membantunya, Ust. Fadlan hanya ingin kembali ke tempatnya agar bisa di obati luka-lukanya, dan ketua adat tersebut mengatakan bahwa dia akan ikut mengantarkannya. Ust. Fadlan mengira bahwa ketua adat akan menghantarkan dirinya sampai batas desa saja, tetapi ternyata ketua adat menghantarkannya hingga sampai ke rumahnya, sepanjang perjalanan ketua adat tersebut mengobati luka-luka Ust. Fadlan dengan bahan-bahan yang ada dari sekitar dan ketua adat tersebut bahkan berkeras untuk mengikuti ke rumah sakit yang ada di Makassar. Setelah pulang ketua adat tersebut akhirnya mengikrarkan diri masuk Islam.