Presiden AS, Donald Trump (Foto: Abcnews)

Majalahayah.com, Presiden AS, Donald Trump mengatakan dalam sebuah tweet pada hari Minggu (12/11), bahwa pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un telah menghina dia dengan memanggilnya tua.

Dalam tweet yang dibuat Trump setelah menghadiri KTT Asia Pasific Econimic Coorporation (APEK) di Vietnam itu juga bertuliskan, bahwa dirinya tidak pernah memanggil Kim Jong Un dengan sebutan gemuk dan pendek.

Meski begitu, Trump tetap berusaha untuk menjadi teman Kim, “dan mungkin suatu hari nanti akan terjadi” harapnya.

Cuitan Trump tentang hinaan yang diterimanya dari Kim Jong-Un. (Foto: Twitter)

Trump telah menukar penghinaan dan ancaman dengan Kim di masa lalu, di tengah meningkatnya ketegangan mengenai program nuklir dan rudal Pyongyang. Kini, sesuatu yang dicegah Trump adalah tujuan Korea Utara yang berpacu untuk mengembangkan rudal berujung nuklir yang mampu mencapai Amerika Serikat.

Korea Utara melakukan uji coba bom nuklir keenam dan paling kuat pada 3 September, yang mendorong putaran sanksi PBB lainnya.

Pada awal bulan September, Kim menggambarkan Trump sebagai “diktator yang gila mental” yang akan dia jinakkan dengan api. Komentarnya muncul setelah Trump mengancam dalam pidatonya di Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk “menghancurkan negara” sebanyak 26 juta orang jika Amerika Serikat diancam.

Setelah Menteri Luar Negeri Korea Utara, Ri Yong Ho berbicara di Majelis Umum PBB pada bulan September Trump men-tweet “Kudengar Menteri Luar Negeri Korea Utara berbicara di PBB Jika dia menggemakan pemikiran Little Rocket Man, mereka tidak akan lama lagi!” cuitnya dikutip dari Reuters.

Korea Utara telah melakukan puluhan uji coba rudal balistik yang bertentangan dengan sanksi PBB. Korut telah berjanji untuk tidak pernah melepaskan program persenjataannya, dengan mengatakan bahwa mereka perlu untuk melawan permusuhan dari Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya.

Amerika Serikat telah mengatakan bahwa semua opsi, termasuk militer, ada di meja perundingan, meskipun pilihannya adalah untuk solusi diplomatik.