Kiai Sholeh Darat, Ulama Penabur Benih-Benih Nasionalisme

Kiai Sholeh Darat, Ulama Penabur Benih-Benih Nasionalisme

91
SHARE

Majalahayah.com, Jakarta – Kiai Sholeh Darat (1820-1903) merupakan ulama Nusantara yang hidup di abad ke-19 dan awal abad ke-20. Ia hidup di masa antara dua revolusi Indonesia, yaitu antara Perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro dan di masa pertempuran Kemerdekaan 1945.

Perannya dalam menanamkan nilai-nilai patriotisme dan semangat melawan penjajah sebenarnya sangat besar. Di pertengahan abad ke-19, ketika Kiai Sholeh Darat pertama kali mendarat di kampung Melayu Darat Semarang, paska pengembaraan intelektualnya dari Mekkah selama bertahun-tahun, Nusantara terutama Jawa berada di bawah rezim kolonial.

“Di masa ini pemberontakan massal dan revolusioner sudah tidak terjadi. Pergolakan massa secara signifikan tidak muncul, sehingga kaum kolonial semakin mudah memapankan kekuasaan,” mengutip dari buku Kiai Sholeh Darat dan Dinamika Politik di Nusantara Abad XIX-XX karya Taufiq Hakim.

Di masa ketika kaum kolonial memapankan sistem kekuasaan itulah, Kiai Sholeh Darat juga telah menanamkan “perlawanan kultural” di tengah masyarakat untuk menentang penjajah. Perlawanan kultural itu ia bangun melalui gerakan pencerahan dan pendidikan masyarakat.

Di masa itu Kiai Sholeh Darat sangat aktif membina dan mendidik masyarakat melalui serangkaian aktivitas keagamaannya. Ia dikenal sebagai ulama Nusantara yang sangat intensif mengintegrasikan antara syariat dan tasawauf.

“Dari sinilah kemudian ia disebut-sebut sebagai “Al-Ghazali”-nya Jawa,” tegasnya kemudian dalam buku tersebut.

Pola keagamaan yang integratif semacam ini membuat pemikiran Kiai Sholeh Darat bisa membumi dan dekat dengan tradisi lokal. Misi utama Kiai Sholeh Darat ketika diajak pulang oleh Kiai Hadi Girikusumo dari Mekkah ke Jawa adalah untuk mencerdaskan masyarakat, terutama dalam bidang keagamaan, yang saat itu tengah berada dalam kungkungan penjajahan.

“Namun, pendidikan keagaaman yang dilakukan oleh Kiai Sholeh Darat itu sarat dengan nilai-nilai Nasionalisme dan Patriotisme,” paparnya.

Kelahiran “Al-Ghazali” nya Jawa

Masjid As Sholeh Darat

Kiai Sholeh Darat lahir dipesisir Utara Jawa, tepatnya Kedung Cumpleng, Kecamatan Mayong, Jepara. Akan tetapi karya-karyanya menyebar di berbagai penjuru, bukan hanya di Indonesia tetapi juga mancanegara.

Kiai Sholeh Darat sendiri lahir dengan nama Muhammad Sholeh bin Umar. Sebagai anak yang lahir di penghujung abad ke-19 Sholeh Darat sejak dini sudah dihadapkan pada beragam peristiwa penting di negeri ini.

“Di tahun 1820-an ini, ketika Sholeh Darat lahir dan mengalami pertumbuhan, mulai berkecamuk pemberontakan-pemberontakan fisik kaum pribumi terhadap penjajah. Kebanyakan peristiwa-peristiwa pemberontakan tersebut sangat terkait dengan pengumuman politik global,” terang Taufik.

Kiai Sholeh Darat sendiri adalah anak dari seorang Kiai dan pejuang. Bapaknya bernama Umar bin Tasmin. Kiai Umar telah dikenal sebagai ulama dan mitra perjuangan Pangeran Diponegoro. Saat terjadinya Perang Jawa pada 1825-1830, yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro, Kiai Umar turut bergabung dalam peperangan tersebut.

Baca juga :   Media itu Anjing Penjaga, Bukan Pujangga Istana

Dijelaskan dalam buku tersebut, Kiai Umar menjalankan peran yang penting. Selain sebagai penasihat keagamaan, Kiai Umar juga menjadi prajurit tempur Diponegoro untuk kawasan Pantura.

Keberadaan Kiai Umar sebagai pejuang tidak lepas dari posisinya sebagai bagian dalam jejaring ulama-ulama di Jawa kala itu yang sama-sama mempunyai pemikiran dan perasaan anti-kolonialisme.

“Hal ini karena di abad ke-19 itu sebenarnya telah terkonsolidasi jaringan ulama di berbagai daerah yang adah di Nusantara. Kiai Umar termasuk bagian dari jejaring ulama Nusantara itu.”

Dikatakan K.H Mustofa Bisri, bahwa jiwa nasionalisme umat Islam Indonesia terbangun di antaranya karena sejak dulu para kiai-pesantren sendiri mengajarkan kepada para santri dan umatnya, bahwa umat Islam Indonesia merupakan orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang kebetulan hidup di Indonesia.

“Sehingga, ketika Indonesia diserang oleh bangsa lain, maka tanpa diminta atau ditanya, umat Islam akan melakukan perlawanan untuk membela “rumahnya”  sendiri.

Ketika perang Jawa berakhir dan Pangeran Diponegoro ditangkap Belanda, maka Kiai Umar merasa dirinya tidak aman untuk tinggal di Jawa. Sehingga ia mempunyai hasrat untuk pindah ke Mekkah sambil menunaikan ibadah haji. Dengan seluruh anggota keluarganya, termasuk anaknya, Muhammad Sholeh (Sholeh Darat),  Kiai Umar hijrah ke Mekkah.

Pengembaraan Intelektual

Sebagai santri pengelana, Sholeh Darat telah melakukan pengembaraan intelektual (Tafaqquh Fiddin) ke berbagai pesantren dan bahkan negara. Sebagai anak Kiai dan pejuang, Sholeh Darat oleh ayahnya memang dididik dalam dunia pesantren untuk mendalami ilmu agama.

“Rata-rata yang turut menggembleng jiwa intelektual dan spiritual Sholeh Darat merupakan kiai-kiai yang berjiwa pejuang. Para Kiai itu juga pernah terlibat pertempuran melawan penjajah dalam perang Jawa. Kiai Murtadlo misalnya, yang mempunyai pesantren di Darat Semarang, merupakan mitra perjuangan Pangeran Diponegoro.”

Berkat berguru kepada ulama-ulama Nusantara yang berjiwa pejuang-nasionalis, Sholeh Darat juga tetap menjadi ulama yang sangat nasionalis, meski hidup lama di Mekkah. Lantaran bekal keilmuannya dari para ulama di Jawa, Sholeh Darat tidak kehilangan jati dirinya sebagai orang Jawa.

Selain itu ketika sudah menetap di Mekkah, Kiai Sholeh Darat juga menjadi seorang mufti, Sehingga wajar, banyak kiai-Kiai di Nusantara yang mempunyai sanad keilmuan ke Kiai Sholeh Darat. Posisinya sebagai mufti itulah yang membuat Kiai Sholeh Darat mempunyai reputasi internasional.

Kiai Sholeh Darat menimba ilmu di tanah Arab (Haramain) hingga 1880. Kurang lebih empat puluh lima tahun, Kiai Sholeh Darat menimba ilmu di Hijaz. Selama berpuluh-puluh tahun itu, Kiai Sholeh Darat banyak belajar dan mengajar.

Baca juga :   Hasil Karya Anak Bangsa, Pusat Penjualan Sepatu Cibaduyut Dikategorikan Terpanjang di Dunia

“Ia berguru ke banyak ulama dunia yang berada di Mekkah kala itu. Sebagaimana ketika masih belajar di Pesantren-pesantren di Jawa, selama di Mekkah Kiai Sholeh Darat juga mempelajari berbagai banyak disiplin keilmuan.”

Tiba di Semarang dan Mendirikan Pesantren

Setelah belajar banyak di Mekkah, maka Kiai Sholeh dituntut harus pulang kampung dan mengamalkan ilmunya di tanah airnya. Mengingat, masyarakat Jawa kala itu masih awan dengan agama Islam.

Dalam Sejarahnya Kiai Sholeh Darat kembali ke tanah air karena pengaruh Kiai Hadi Girikusumo. Saat itu, Kiai Hadi Girikusumo memandang bahwa Kiai Sholeh Darat merupakan orang alim yang menguasai banyak ilmu agama. Sangat disayangkan bila dirinya mengetap di Mekkah tidak pulang ke tanah air.

“Seandainya tidak ada Kiai Hadi Girikusumo kemungkinan besar Kiai Sholeh Darat akan terus menetap di Mekkah sampai akhir hayatnya sebagaimana ayahnya. Kiai Umar dan sahabatnya, Syekh Nawawi Al-Bantani.”

Setibanya di tanah air, Kiai Sholeh Darat diambil menantu oleh Kiai Murthado, dengan menikahkannya dengan putrinya yang bernama Shofiyah. Setelah itu Kiai Sholeh Darat memilih Kampung Mlayu Darat sebagai tempat tinggalnya. Di Darat inilah yang kemudian ia mendirikan sebuah pesantren yang dikenal dengan nama Pesantren Darat.

Belum banyak data yang ditemukan tentang tanggal tepat pendirian pondok pesantren tersebut. Ada yang menyebut pesantren tersebut didirikan pada tahun 1880 an.

Bahkan ada riwayat yang menyatakan pesantren tersebut sudah ada sebelum Kiai Sholeh Darat datang ke Semarang. Mengingat tahun tersebut Kiai Sholeh Darat memilih tinggal di Darat.

“Dalam riwayatnya, dulunya Pesantren Darat merupakan salah satu basis prajurit Diponegoro untuk melawan Belanda, dulu juga ditandai dengan adanya pohon sawo.”

Pesantren Darat waktu itu tidak berbeda dengan pesantren-pesantren lainya, di kompleks pesantren tersebut ada rumah Kiai, ada Mushola atau masjid untuk salat dan pengajian, ada asrama santri dan sebagainya. Pesantren ini dibangun dengan kayu jati.

“Sekarang ini, bekas pesantren sudah berubah menjadi tempat tinggal para penduduk. Hanya masjid pesantren yang masih tersisa, itu pun sudah direnovasi.”

Pesantren Darat sendiri menampung banyak santri yang telah mengembara di pesantren-pesantren lainya. Beberapa alumni dari pesantren tersebut pun akan menjadi tokoh besar nasional pada masa depan.

Seperti KH Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama (NU) juga KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah. Bahkan tokoh emansipasi perempuan R.A Kartini pun sempat nyantri kepadanya.

“Selain menjadi pusat kaderisasi ulama, pesantren ini juga menjadi tempat penggemblengan para pejuang NKRI. Karena itu, Pondok pesantren Darat ini dulunya juga termasuk lembaga pesantren yang selalu diawali oleh Belanda.”