Kiai Sholeh Darat, Aksara Pegon dan Strategi Perjuangan Dakwah

Kiai Sholeh Darat, Aksara Pegon dan Strategi Perjuangan Dakwah

117
0
SHARE
Ilustrasi ilmu hidupnya hati. Sumber www.fearthedunya.wordpress.com

Majalahayah.com, Jakarta – Kiai Sholeh Darat dikenal sebagai ulama yang menulis dengan aksara Pegon (tulisan Arab berbahasa Jawa). Seluruh karya-karyanya ditulis dengan aksara Pegon.

Dalam diskursus tasawuf, Kiai Sholeh Darat bahkan disebut-sebut sebagai ulama pertama di tanah Jawa yang menyshari kitab Al-Hikam karya Ibn ‘Athoillah As-Sakandri dengan menggunakan aksara Pegon.

“Sebagian orang juga menyebut Kiai Sholeh Darat sebagai tokoh ulama yang berjasa menghidupkan dan menyebarluaskan tulisan Pegon,” jelas buku Kiai Sholeh Darat dan Dinamika Politik di Nusantara Abad XIX-XX M karya Taufik Haqim (Hlm 150).

Pegon dan Masuknya Islam ke Nusantara

Pada buku bertebal 242 Hlm, tersebut dijelaskan bahwa Pegon adalah teks berbahasa Jawa yang ditulis dalam huruf atau aksara Arab. Dinamakan Pegon karena bentuknya menyimpang.

“Aksara Arab yang lazimnya digunakan untuk menulis bahasa Arab, namun oleh orang Jawa dipergunakan untuk menulis teks berbahasa Jawa. (Hlm 151).

Tulisan Pegon sendiri diadopsi dari Melayu-Jawi. Bedasarkan bentuk huruf, sifat dan fungsinya kedua tulisan ini tergolong ke dalam tipe tulisan Nasta’liq yang berasal dari Parsi.

Mulanya, Pegon difungsikan sebagai sarana penyebaran Islam di Jawa, namun selanjutnya juga pergunakan untuk menulis hal-hal lain yang berkaitan dengan aktivitas masyarakat Jawa.

“Anggapan yang umum dipercaya adalah keberadaan Pegon erat kaitannya dengan masuknya Islam ke Nusantara.” (Hlm 152).

Banyak peneliti yang memperkirakan bahwa Pegon muncul pada 1200/1300 bersamaan dengan masuknya Islam di Nusantara. Ada pula yang menganggap bahwa Pegon kali pertama muncul pada 1400 an yang digagas oleh Raden Rahmat atau yang dikenal dengan Sunan Ampel, di Surabaya.

“Sementara pendapat lain, Pegon digagas oleh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati Cirebon dan Imam Nawawi Banten.” (Hlm 152).

Tapi besar kemungkinan penerjemahan Al-Qur’an baik terhadap surah-surah maupun ayat-ayat tertentu sudah berlangsung sejak awal-awal Islam di Nusantara. Sebagai contoh, ada manuskrip dari abad ke-16 yang diduga merupakan karya Sunan Bonang.

Pegon : Sebuah Strategi Perjuangan

Di Abad 19 ada tiga ulama besar di Mekkah yang terkenal karena karya-karyanya, yaitu Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Kholil Bangkalan Madura, dan K.H Sholeh Darat, Semarang.

Syekh Nawawi dan Syekh Kholil dikenal mengarang kitab dan ditulis dengan Bahasa Arab. Namun, Kiai Sholeh Darat berbeda, ia menulis kitab-kitabnya dengan aksara Pegon.

Pilihan untuk menulis kitab dengan menggunakan aksara Pegon mempunyai dasar dan alasan yang kuat. Salah satu alasanya adalah strategi perjuangan.

Di tengah kekuasaan dan otoriteranisme rezim kolonial, maka salah satu yang diawasi ketat oleh penguasa adalah pemikiran pribumi lagi, termasuk tingkat pemahaman warga pribumi terhadap agamanya. Ajaran agama bisa dipahami lewat bahasa.

“Karenanya, seseorang bisa memahami agamanya dengan bahasa yang sudah dimengerti sebelumnya, yakni bahasa Jawa yang membangkus ajaran-ajaran agama.” (Hlm 153).

Sementara itu, Islam dalam sejarahnya berasal dari Arab, sehingga Al-Qur’an pun berada dalam bahasa Arab. Di sinilah kendalanya, masyarakat Jawa kala itu masih banyak yang tidak menguasai bahasa Arab, sehingga wajar kalau mereka masih awam dengan Islam.

Dengan kondisi itulah maka Kiai Sholeh Darat memilih aksara Pegon untuk menulis karya-karyanya. Dengan aksara Pegon berbahasa Jawa, ia bermaksud supaya masyarakat Jawa bisa lebih mudah dalam memahami agama Islam.

“Strategi Kiai Sholeh Darat pun berhasil. Dengan usahanya itu, kitab-kitabnya banyak dibaca oleh masyarakat Jawa, sehingga membuat mereka sedikit banyak tahu tentang Islam.” (Hlm 154).

Dengan jasa besar Kiai Sholeh Darat itulah, masyarakat Jawa semakin banyak tahu tentang Islam. Atas jasa Kiai Sholeh Darat tersebut, sampai ada sebagian orang yang bilang bahwa seandainya tidak ada Kiai Sholeh Darat bisa jadi masyarakat Jawa tidak ada yang memahami ajaran Islam.

“Pernyataan ini bisa dimaknai bahwa peran Kiai Sholeh Darat dalam mengarang kitab-kitab beraksara Pegon dan berbahasa Jawa itu mempunyai dampak yang signifikan terhadap pemahaman masyarakat Jawa terhadap Islam.” (Hlm 154).

LEAVE A REPLY