Khabib Teladan Pemuda Islam Milenial

Khabib Teladan Pemuda Islam Milenial

47
SHARE

Majalahayah.com, Jakarta – Masih hot dan hit rasanya, peristiwa kemenangan seorang atlet tarung Mix Martial Arts (MMA) kategori UFC229, Khabib Nurmagomedov. Kemenangan pemuda asal Rusia ini menjadi kabar gembira muslim seluruh dunia.

Karena dalam pertandingan tersebut, tak hanya sekedar kompetisi olahraga tetapi juga pertaruhan kehormatan. Dan kehormatan itu tak sekedar gelar olah raga, tapi lebih jauh lagi adalah tentang kehormatan sportifitas, integritas, dan pembelaan agama.

Dari peristiwa ini pun kita bisa mengambil banyak hikmah. Beberapa teladan sekaligus analisis yang bisa kita ambil dari Khabib dan pertarungannya dengan McGregor

1) Jadilah Pemuda yang kuat dan amanah

Salah satu ciri ideal sosok pemuda yang didambakan oleh Islam adalah ia kuat dan amanah. Dijelaskan dalam firman Allah, QS. Al Qashshash:26, ciri tersebut diungkap oleh ALlah dalam firmannya ketika menceritakan tentang kisah Musa as berjumpa dengan orang shalih (dalam beberapa riwayat disebutkan ia adalah Nabi Syuaib) dengan kedua putrinya. Rasulullaah shalallahu alayhi wasallam juga menegaskan dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah.

Ciri-ciri ini seolah tampak pada diri Khabib. Terbukti dengan gelar UFC yang unbeatable (tak pernah kalah) selama 27 kali juga disertai kuatnya pemikiran Khabib mempertahankan identitas muslimnya di tengah lautan pemikiran hegemoni barat yang melalaikan. Ia teguh memegang amanah prinsip-prinsip agamanya bahkan lebih jauh lagi, ia mensyiarkannya di pusat pertandingan MMA yang disaksikan jutaan penonton dengan menyebut “Alhamdulillaah” serta gestur keimanan (menunjuk ke langit yang menandakan Allah lah pemilik segala kekuatan). Bahkan tak segan ia menyebut olahraga (sport MMA) baginya nomor 2, nomor 1 adalah agamanya, keimanannya. “When Allah no body can broke you, Alhamdulillaah”

Baca juga :   Disahkannya UU MD3, DPP IMM : Lonceng Kematian Demokrasi di Indonesia

2) Berakhlak Mulia

Meski menyandang gelar tak terkalahkan, Khabib jelas terlihat humble. Dalam beberapa kesempatan bertanding, Khabib memeluk dan memperlihatkan wajah empati terhadap lawannya yang terluka atau terkapar usai pertandingan. Ia tak segan membantu menolong. Sungguh puncak dari akhlak mulia adalah respect, sikap saling menghargai dan menghormati satu sama lain dengan penuh kasih sayang. Sikap ini lahir dari pribadi yang jujur dan jiwa petarung yang ksatria.

Tak dipungkiri, dalam arena pertandingan olahraga MMA dan sejenisnya, intimidasi kata-kata pasti terjadi. Ini dikenal dengan psy war, metode lawan menyerang psikologi lawan tandingnya agar down, sehingga mudah dikalahkan. Bagi mereka yang paham konsep kekuatan dan kehidupan apalagi berlandaskan Islam, hal-hal seperti ini tak akan ada pengaruhnya sama sekali. Namun bagi petarung yang jiwanya kerdil, psywar bisa membuat KO sebelum bertanding.

Yang dilakukan Gregor mungkin sah-sah saja bagi alam pertandingan MMA dunia barat, tapi menjadi luka apabila menyinggung kehormatan ayah/orangtua, ras, negara asal, atau bahkan agama.

3) Integritas dan Sportifitas

Integritas pribadi Khabib teruji. Ini merupakan bagian dari akumulasi akhlak yang baik, hasil dari pendidikan Islam yang matang dari keluarga maupun lingkungannya. Khabib tegas menolak alkohol yang ditawarkan kepadanya oleh Gregor dengan mengatakan “saya tak meminum alkohol, saya tak pernah meminumnya”. Bukankah ini narasi dakwah yang menunjukkan integritas dirinya sangat kuat dan terjaga?

Khabib pun menjaga pertandingan tetap fair, sportif. Ia tak pernah melakukan provokasi dan bahkan tak melanggar aturan ketika berhadap-hadapan sebagai bentuk simbolik prapertandingan, dengan aturan tidak boleh menyentuh lawan. Tapi kita lihat Gregor dengan penuh emosi menyentuk Khabib, menendang dan melanjutkan kata-kata provokasinya. “Ini olahraga terhormat. Ini bukan olahraga mulut. Saya ingin mengubah citra olahraga ini. Anda tidak bisa berbicara mengenai agama dan negara (orang lain seenaknya),” tegas Khabib.

Baca juga :   Ekonomi Nol Derajat

4) Meminta Maaf

Setelah kerusuhan yang terjadi pasca pertandingannya, tak segan Khabib meminta maaf. Meskipun pemicu kerusuhan adalah tim Gregor yang kerap rasis dan “menghina” agama serta ayahnya, Khabib tetap memohon maaf kepada panitia UFC. Ini adalah sifat mulia para ksatria. Di dalam QS Ali Imran, ALlah menyebutkan pribadi muttaqin salah satu cirinya adalah mudah memberi maaf kepada manusia yang lain.

Namun berkaitan dengan kericuhan tersebut, rumornya gelar juara UFC229 Khabib akan dicabut oleh presiden UFC, Dana White. Sebaiknya UFC juga memberi sanksi kepada Gregor dan timnya atas tindakan rasialis, menebar kebencian dan mengolok-olok agama orang lain.

5) Berani

Salah satu sifat terbaik yang muncul dalam peristiwa ini adalah keberanian. Khabib dengan gagah dan kokoh menyebarkan narasi syiar integritas dirinya dan agamanya dan tanpa sedikitpun mengolok-olok agama lawannya yang mungkin merupakan agama mayoritas penonton yang hadir di gelanggang tersebut.

Penulis pribadi kenal Khabib sudah beberapa bulan yang lalu sejak followernya sekitar 5 juta. Kini tersebab peristiwa heroik itu, followernya naik 2 kali lipat dalam waktu beberapa hari saja. Ia muncul dan telah menjadi idola baru anak muda.

Ghirahnya dalam membela agama dan ayahnya yang dihina menjadi inspirasi bagi kita semua generasi milenial bahwa untuk berprestasi menuju tangga kesukseskan itu, tak perlu malu-malu untuk tetap teguh beragama dan beribadah. Dan lebih jauh lagi, ketika di puncak karir, justru lebih berani memperjuangkan kebenaran, membela kehormatan agama.

Oleh: Agastya Harjunadhi, Mpd