Majalahayah.com, Jakarta – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) bidang pendidikan dan pengkaderan, KH Abdullah Jaidi meminta adanya pengusutan terkait hilangnya surat Al-Maidah ayat 51-57. Baginya walaupun pihak percetakan dalam hal ini PT Suara Agung telah meminta maaf, tapi hal ini tidak bisa dianggap selesai.

“Kita semua tidak tahu, apakah itu murni khilaf atau mungkin ada unsur lain. Yang pasti, kelalaian tersebut telah mengakibatkan masalah serius,” ujar Jaidi yang dilansir dari Arahmah.com, Sabtu (27/5/2017).

Karena baginya kekhilafan tersebut sudah terkait dengan hal yang sakral bagi umat Islam. Baginya perlu mendapat perhatian lebih dari segala pihak.

“Ini (Al-Qur’an) kalamullah, bukan kalam manusia. Dan ini menyangkut kitab suci dan pedoman umat Islam. Jadi jangkan satu ayat, satu huruf saja itu sangat fatal. Karena sudah pasti mengubah makna,” tegasnya.

Karena itulah Jaidi meminta kemenag tidak hanya memberikan sanksi teguran kepada pihak percetakan. Tapi juga harus menelusuri lebih lanjut terkait kejadian tersebut.

“Ini harus dipertanggung jawabkan sesuai aturan yang berlaku. Seperti segera menarik dari peredaran dan memperbaiknya. Tapi, Kemenag sebagai penaggung jawab juga harus membentuk tim khusus guna melakukan penelusuran secara mendalam. Jika tidak dikhawatirkan justru mengundang spekulasi dan kegaduhan yang tidak perlu. Kali ini ketegasan Kemenag ditunggu umat,” tegasnya kembali.

Selain itu dirinya meminta Kemenag bekerjasama dengan pihak kepolisian untuk menelusuri kasus tersebut. Sehingga mampu ditemukan motif dari tindakan pihak percetakan tersebut.

“Sekali lagi, Al-Qur’an itu kitab suci dan agung. Ini kalamullah yang kemurnianya wajib kita jaga bersama. Tapi karena Kemenag adalah yang punya otoritas, maka kita serahkan kepada Menteri Agama untuk mengambil langkah-langkah serius, biar ke depan percetakan yang lain tidak main-main,” ungkapnya.

Diketahui sebelumnya publik dibuat geger dengan ditemukanya sebuah Mushaf Al-Qur’an “tanpa ada” surat Al-Maidah ayat 51-57. Kejadian ini sendiri bermula dari laporan KH Basith, pengurus DKM Masjid Assifa. Desa Sukamaju, Megamendung Bogor pada selasa (23/5/2017).