Ketika Aku Memilih

Ketika Aku Memilih

216
SHARE
Ilustrasi ketika aku memilih. Sumber www.riautrust.com
Ilustrasi ketika aku memilih. Sumber www.riautrust.com

Majalahayah.com – Dalam setiap pilihan hidup, seorang mukmin beristikharah pada Allah Subhanahu wata’ala.

Tetapi shalat istikharah itu hanyalah salah satu tahapan saja,sebagian dari tanda kepasrahan kepada apa yang dipilihkan Allah bagi kebaikannya. Untuk dunia, agama, dan akhiratnya. Istikharah yang sesungguhnya dimulai jauh sebelum itu; dari rasa taqwa menjaga kesucian ikhtiar, dan kepekaan dalam menjaga hubungan baik dengan Allah SWT.

Ketika segala sebelumnya dijalani dengan apa yang diatur-Nya, maka istikharah adalah saat bertanya. Pertama tentang pantaskah kita dijawab oleh-Nya. Yang kedua, seperti apa jawab itu. Yang ketiga, beranikah kita untuk menerima jawaban itu. Apa adanya. Karena itulah sejujur-jujurnya jawaban. Disitulah letak furqaan, kepekaan khas orang bertaqwa.

Baca juga :   Serahkan Urusan Dunia Dengan Kesabaran Dalam Beribadah

Karena soalnya bukanlah diberi atau tidak diberi. Soalnya, bukan diberi atau tidak diberi yang lain. Urusannya adalah tentang bagaimana Allah memberi. Apakah diulurkan lembut dengan cinta, ataukah dilempar ke muka penuh murka. Bisa saja yang diberikan sama, tapi rasa dan dampaknya berbeda. Dan bisa saja yang diberikan pada kita berbeda dari apa yang diharap hati, tapi rasanya jauh melampaui. Di situlah yang kita namakan barakah.

Baca juga :   Peluncuran Buku Memilih Sekolah,  Najelaa Shihab Dorong Keterlibatan Orang Tua dalam Perbaikan Kualitas Sekolah

Di jalan cinta para pejuang, ada taqwa yang menjamin barakah untuk kita.

 

*Dikutip dari buku “Jalan Cinta Para Pejuang”, Karya Salim A Fillah