Recep Tayyip Erdogan, Presiden Turki. Foto : http://en.trend.az

Majalahayah.com, Ankara – Presiden Turki Recep Tayyib Erdogan kembali melontarkan pernyataan kontroversial kepada Amerika Serikat (AS). Erdogan mengatakan bahwa Turki tidak membutuhkan sekutu NATO-nya itu.

Pernyataan tersebut muncul di tengah ketegangan kedua pihak terkait masalah visa dan penangkapan yang dilakukan Turki pada pekan lalu terhadap Metin Topuz, seorang pegawai Konsulat Jenderal AS di Istanbul. Topuz yang juga seorang warga Turki itu dituduh sebagai pengikut pemimpin oposisi Turki, Fethullah Gullen dan dituding melakukan spionase dalam upaya penggulingan Erdogan pada kudeta tahun lalu.

Pasca penahanan pegawainya, AS lalu mengumumkan pada 8 Oktober bahwa mereka telah berhenti mengeluarkan visa non-imigran di Turki. “Kami bukan negara kesukuan. Kami adalah negara Republik Turki dan anda (AS) akan menerimanya. Jika tidak, mohon maaf tapi kami tidak membutuhkan Anda,” kata Suami Emine Erdogan itu dalam pertemuan dengan para Gubernur Provinsi di ibukota Ankara, Turki, dikutip dari hurriyetdailynews.com, Kamis (12/10/2017).

Erdogan juga merasa kesal dengan AS karena membiarkan Topuz menyusup ke Konsulat AS di Istanbul dan meminta Washington untuk “kembali ke akal sehat”. Ia seraya mengulangi klaimnya bahwa Duta Besar AS untuk Ankara, John Bass sebagai orang yang bertanggung jawab atas krisis saat ini.

“Biarkan saya menjadi sangat jelas, orang yang menyebabkan ini adalah duta besar di sini. Tidak dapat diterima bahwa AS telah mengorbankan mitra strategis seperti Turki ke duta besar yang sombong,” tukas Erdogan.

Ia menganggap keputusan yang diambil oleh Konsulat AS dan pernyataan yang dibuat setelahnya tidak benar. “Sebuah Junta di dalam birokrasi Amerika yang terkait dengan pemerintahan sebelumnya bertujuan untuk menyabot hubungan antara pemerintahan baru (AS) dan Turki,” tambahnya.

Komentar Erdogan itu datang hanya sehari setelah Dubes Bass menyatakan bahwa keputusan untuk penangguhan visa diambil oleh pemerintah AS atas koordinasi dengan Departemen Luar Negeri, Gedung Putih dan Dewan Keamanan Nasional. Lebih lanjut, Erdogan menegaskan bahwa Turki akan bertindak berdasarkan asas timbal balik dan mengikuti langkah-langkah yang dianggap tidak adil dan proporsional atas penghentian aplikasi visa warga negaranya.

“Keinginan kami agar lawan bicara kami kembali ke akal sehat dan tenang, meninggalkan langkah-langkah yang akan membahayakan persahabatan dan persekutuan kami,” pungkasnya.