Kemerdekaan Potensi Umat, Mendayagunakan Energi Sisa Menjadi Prioritas Utama

Kemerdekaan Potensi Umat, Mendayagunakan Energi Sisa Menjadi Prioritas Utama

145
SHARE
Ilustrasi Memerdekakan potensi diri. Sumber www.youtube.com

Majalahayah.com – Salah satu cara menjadikan hidup bermakna adalah menjadikan diri dengan segenap potensi yang diberikan Allah SWT sebagai pribadi yang memberikan manfaat bagi orang banyak. Setiap hari kita disuguhkan berbagai pilihan yang hanya didi kita sendri lah yang mempunyai peluang menjadi seperti apa kelak.

Sayyid Quthb mengatakan, “Orang yang hidup bagi dirinya sendiri akan hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil. Tapi orang yang hidup bagi orang lain akan hidup sebagai orang besar dan mati sebagai orang besar.”

Kira-kira kita selama ini masuk kategori mana, kerdil atau besar? Berapa waktu yang kita gunakan untuk memikirkan dan mengembangkan diri, karakter dan kemajuan umat? Berapa pengorbanan yang kita berikan untuk “memerdekakan” diri kita dari belenggu egoisme pribadi?

Seringkali kita sangat disibukkan dengan masalah-masalah diri kita sendiri, repot dengan keluarga, bingung mengelola organisasi, stress mengelola waktu, nervous memanajemen potensi sehingga kita kehilangan banyak sekali momentum di sekitar kita. Banyak saudara-saudara kita terjerumus narkoba, bahkan banyak pula anak-anak yang jadi korban. Banyak tetangga kita teraniaya karena ketidak pedulian kita. Bahkan, naudzubillah banyak para remaja dan pemuda yang merindu dibina karakternya malah “dibinasakan” karena kesalahpahaman metodologi pemberdayaan potensi.

Kaidah Sayyid Quthb di atas tak saja berlaku bagi kehidupan individu. Sama sekali tidak. Tapi bisa merambah ranah perbaikan kolektif ketika amalan sehari-hari tak beranjak dari “kesibukan berkutat masalah diri sendiri.” Ini kaidah umum untuk menyegerakan potensi keshalihan menjadi kontribusi kebaikan kolektif. Maka simak juga keprihatinan Syakib Arselan, pemikir Muslim asal Syiria yang menulis buku Mengapa Kaum Muslimin Mundur dan Orang Barat Maju. Ia menjelaskan jawaban itu dengan kalimat sederhana tapi mengena,

“Karena orang-orang Barat lebih banyak berkorban daripada kaum Muslimin. Mereka memberi lebih demi agama mereka ketimbang apa yang diberikan kaum Muslimin bagi agamanya.” (Tarbawi , edisi 5 Th. I)

Nah lho, kena juga kita. Berarti ….? Ya, selama ini barangkali kita belum serius seserius mereka. Padahal ini sudah diperingatkan Allah dalam Al-Qur’an mulai dari QS. Al-Baqarah 120, 217; At-Taubah 32-33; Ash-Shaff, Al-Fath; dan Surat Jumu’ah.

  1. Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS. Al-Baqarah 2 : 120)
  1. Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Baqarah 2 : 217)
  1. Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.
  2.  Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai. (QS. At-Taubah 9 : 32-33)
Baca juga :   Tipu Daya Taktis Kekuasaan Fir’aun Modern dengan Media Propagandanya

Semua berbicara tentang “keseriusan mereka” dalam menghalangi kaum Muslimin untuk memajukan laju agamanya. Dan itu sudah kewajiban mereka untuk berbuat seperti itu, tidak salah, justru menegaskan perjuangan perlawanan mereka.

Makanya jangan hanya “sekadar marah” lalu kecewa dan lupa, tapi bagaimana kita selama ini menggunakan seluruh potensi, waktu, dan tenaga kita? Maka tunjukkan dong keislaman kita jangan sekadar berkoar-koar saja!

Maka, kalau yang kita gunakan hanyalah waktu sisa, tenaga-tenaga ampas saja, pikiran-pikiran kosong semata, sebagian kecil saja dari harta, masak kita berharap hasil yang prima? Ah mengada-ada Dikau, wahai saudaraku. Sekaranglah kita beranjak dari sisa energi menuju energi prima dengan mendahsyatkan segala potensi yang ada.

Maka kalau kita berpikir quantum, maka tak ada lagi waktu untuk berleha-leha. Sebab setiap waktu adalah momentum pendidikan dan pemberdayaa, minimal bagi diri kita. Termasuk memberdayakan energi ibadah untuk meningkatkan kualitas diri dan percaya diri. Sebab ibadah yang kita lakukan akan menjadi energi, kekuatan yang tak pernah henti, nyali yang nggak ada matinya, maupun ide yang tak layu lalu pergi.

Kata Utsman bin Affan, “Bila Kati bersih, maka ia tidak akan kenyang untuk terus membaca Al-Qur’an.”

Karena setiap ibadah yang kita lakukan, apabila digali dengan sepenuh kontemplasi akan mampu menghasilkan kebaruan yang tak pernah padam. Dari semuanya. Shalat, puasa, zakat, haji, tilawah, majelis ilmu, ibadah sosial dan semua aktivitas pemberdayaan untuk mendahsyatkan jiwa.

Maka aneh bin nyata kalau orang ingin hasil yang maksimal tapi usahanya asal-asalan saja. Yahya bin Mu’adz menyindir kita dengan cerdik sekali, simak berikut:

Menurutku, ada enam hal yang termasuk Yan paling besar:

  1. pertama, mengharap ampunan dari Allah tapi terus-menerus melakukan dosa tanpa penyesalan.
  2. Kedua, merasa dekat dengan Allah tetapi tidak melakukan ketaatan.
  3. Ketiga, menunggu tanaman surga tetapi selalu menyemai benih amalan neraka.
  4. Keempat, mencari istana orang-orang yang taat tetapi selalu berbuat maksiat.
  5. Kelima, menanti pahala tapi tak mau beramal.
  6. Keenam, mendambakan kasih sayang Allah tetapi selalu melanggar ketentuan-Nya.

Karena pembinaan dan pemberdayaan tak bisa dikelola dengan tenaga sisa, maka saatnya untuk mengubah cara pandang kita. Yakni menciptakan suasana pendidikan yang menyenangkan bukan membosankan, tilawah yang melembutkan jiwa bukan membuat gundah gulana, taushiyah yang menggugah bukan membuat orang jengah atau ogah sehingga memilih tidur saja, program yang cerdas dan inovatif bukan pasif, pembangunan karakter yang proaktif bukan reaktif, serta pengembangan diri yang integratif.

Baca juga :   Siapakah Sang Pemimpin yang Bertakwa Sebagaimana Amanat Konstitusi NKRI? (Bagian 1/2)

Kita bisa belajar dari Mush’ab bin Umair yang all-out untuk menjadi pemuda kontributif, dan duta pertama Islam, mengubah Yatsrib menjadi Madinatul Hijrah, Madinatul Munawarah, kota yang penuh cahaya. Atau belajar dari Khalid bin Walid yang menghabiskan seluruh waktunya untuk berjuang memenangkan peperangan demi peperangan, sebagaimana yang ia katakan,

“Berada di suatu malam yang sangat dingin untuk berjihad di jalan Allah lebih aku senangi daripada mendapatkan hadiah seorang pengantin di malam pengantin.”

Coba sejenak kita cermati perbandingan ini. Maka, jangan heran bila saking cintanya Khalid untuk berjihad sehingga ia tidak begitu banyak hafalan Qur’annya. “Jihad telah menyibukkan aku dari Al-Qur’an.”

Tetapi ini bukanlah untuk justifikasi, bahkan alasan kita untuk tidak sempat membaca dan mempelajari Al-Qur’an. Sebab kesibukan kita sesungguhnya tak sesibuk Khalid dan kita pun barangkali masih lebih memilih bermalam indah dengan pengantin baru daripada berdingin gelap berjihad di jalan Allah. Dan uniknya, benar-benar unik, justru kita bisa khatam satu juz sehari pada saat liburan ramadhan, padahal saat itu sedang disibukkan dengan aneka program yang menyita seluruh energi kita. Di saat seperti itu bisa kok saat waktu longgar lainnya tak bisa?

Tentu untuk bisa khatam satu juz sehari tak perlu  menunggu momen ramadhan. Kembali kepada diri sendiri: mau atau tidak mendahsyatkan diri?! Demikian juga untuk berprestasi tak perlu harus menginap dulu di madrasah Nabi Yusuf sebagai para ulama dahulu.

Justru sekaranglah, gunakan seluruh waktu dan potensi untuk berkarya, semaksimal kemampuan kita. Dengan memohon pertolongan dari Allah SWT agar dimampukan dan diberi kekuatan untuk menjadi lebih unggul, menghasilkan kontribusi terbaik yang manfaatnya dirasakan oleh umat. Tentunya dengan menjadi bagian dari lingkungan orang-orang yang mendayagunakan keshalihan dan semangat daya juang yang terjaga.

  1. Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS. Al-Fath 48 : 29)