ibrahim dan qurban
ibrahim dan qurban

Majalahayah.com – Ketika jelas perintah datang dari Tuhannya, Nabi Ibrahim A.S. pun pergi dari Mesir dengan membawa Siti Hajar dan bayinya  menuju daerah padang pasir yang gersang (Mekkah). Singkat cerita Nabi Ibrahim tiba di sebuah pohon kurma di tengah gurun. Merekapun berteduh dibawahnya. Tak berapa lama tiba-tiba Nabi Ibrahim pergi meninggalkan Siti Hajar bersama bayinya (menurut riwayat dengan perbekalan kurang lebih hanya cukup untuk 2 hari). Tentu saja Siti Hajar kaget dan heran, dan ia protes. Mengapa suaminya meninggalkan dia dan anaknya yang masih kecil di padang pasir gersang, panas dan tak bertuan? (Sebagian riwayat mengatakan Siti Hajar menduga bahwa ini akibat kecemburuan Siti Sarah, istri pertama suaminya yang belum juga bisa memberi putra).

Siti Hajarpun mengejar Nabi Ibrahim, suaminya, dan berteriak: “Mengapa engkau tega meninggalkan kami di sini? Bagaimana kami bisa bertahan hidup di tanah gersang ini?” Ibrahim terus berjalan meninggalkan keduanya, tanpa menoleh.

Hajar masih terus mengejar sambil menggendong Ismail, kali ini dia setengah menjerit, “Apakah ini perintah Tuhanmu?” Kali ini Nabi Ibrahim berhenti melangkah. Ia membalikkan tubuhnya lalu berkata tegas, “Iya!”.

Hajar berhenti mengejar. Dia terdiam sebentar. Kemudian berkata, “Jika ini perintah Tuhanmu, pergilah, tinggalkan kami di sini. Jangan khawatir. Tuhan akan menjaga kami.” Ibrahim pun beranjak pergi.

Sepenggal kisah yang menakjubkan, sebuah skenario dari Alloh untuk hamba-hamba-Nya. Apakah Ibrahim sengaja meninggalkan keluarganya atas kehendaknya? Beliau adalah pendakwah yang menyampaikan ajaran-Nya, meluruskan yang bengkok, berhati welas asih dan sayang pada keluarganya. Lalu mengapa bersikap demikian pada istri dan anaknya yang pada waktu itu baru mempunyai anak setelah lama menunggu?

Jawabanya hanya satu “keimanan” atau keyakinan penuh pada Tuhannya bahwa Alloh sangat pengasih dan penyayang, yang akan menjaga beliau dan keluarganya. Keyakinan penuh bahwa Alloh Maha Kaya dan pemelihara yang paling baik.

Ketika beliau melaksanakan perintah-Nya maka beliau teramat yakin akan penjagaan, pemeliharaan serta pertolongan-Nya. Tentu saja terjadi peperangan didiri beliau antara keyakinan dan perasaan manusiawinya sebagai suami dan ayah yang meninggalkan keluarga tanpa perbekalan yang layak, di tempat yang tidak layak pula (menurut perhitungan logika).

Bisa dibayangkan perasaannya yang berkecamuk pada waktu itu. Tidaklah heran jika beliau pergi dengan tanpa menoleh lagi. Beban perasaan yang tentunya perih, meninggalkan istri dan anak yang teramat dicinta dengan kondisi seperti itu. Melihat mereka hanya menambah hancur perasaannya.

Beliau baru berhenti dan menoleh pada pertanyaan terakhir Siti Hajar yaitu “Apakah ini perintah Tuhanmu?”. suatu pertanyaan yang jawabannya tak bisa dibantah lagi. Jawaban Nabi Ibrahim pendek dan tegas, ‘Iya”.

Disini kita melihat bagaimana Nabi Ibrahim berhenti dan menoleh pada istrinya. Beliau sangatlah tahu keimanan dari istrinya tentang Tuhannya. Seolah-olah dari jawaban ini beliau ingin menegaskan bahwa Allohlah yang memerintahku dan berkehendak atas kondisi ini, dan ada rencana-Nya di balik semua ini.

Seolah-olah dia juga berkata bahwa aku ini suamimu dan anak yang kau gendong itu adalah buah hatiku yang teramat kucinta. Kalau aku serba ada wahai istriku, niscaya kutempatkan dalam istana dan perbekalan yang berlimpah untuk kalian selama aku tinggalkan. Tapi inilah aku hamba Tuhanku dan Tuhanmu, aku utusan-Nya, engkaupun tahu itu wahai istriku. Jadi kutinggalkan Engkau bersama Pemeliharaan dan Penjagaan Tuhanku. Ini bukan kehendakku, ini perintah-Nya dan aku pergi melaksanakan tugas dari-Nya, jadi wahai istriku cukuplah Alloh bagi kalian.

Juga disini kita dapat melihat bagaimana Nabi Ibrahim sebagai suami telah memberikan pendidikan Tauhid yang berhasil kepada Siti Hajar, istrinya. Hingga dengan satu jawaban, “Iya (Alloh yang menyuruhnya)” terjawablah gundah gulana, prasangka dan kekhawatiran dari Siti Hajar. Sesuai dengan jawaban Siti Hajar kepada suaminya, “Jika ini perintah Tuhanmu, pergilah, tinggalkan kami di sini. Jangan khawatir. Tuhan akan menjaga kami”.

Suatu perpaduan pemahaman keimanan yang indah antara suami dan istri dalam menyikapi suatu masalah. Subhannalloh! Perpaduan iman ini pun menjadi bekal dalam pendidikan anaknya Nabi Ismail kelak.