Kebesaran Allah SWT, Ini Bukti Allah Maha Baik Banget

Kebesaran Allah SWT, Ini Bukti Allah Maha Baik Banget

182
SHARE
Ilustrasi bentuk bersyukur. Sumber www.plus.google.com

Majalahayah.com – Dalam menjalani aktifitas sehari-hari seringkali kita disuguhkan berbagai hal yang mengharuskan kita berpikir, merenung dan mengambil hikmah. Kali ini para pembaca akan kami bagi kajian yang bisa jadi renungan dari Ustadz Hanan Attaki tentang Allah Maha Baik Banget, berikut kita simak bersama:

Ada banyak orang bahkan mungkin kita merasa bahwa kita itu kurang beruntung dibandingkan orang lain. Merasa bahwa sepertinya Allah tidak adil sama kita, karena kita melihat orang lain mendapatkan banyak nikmat sedangkan kita tidak. Kita merasa kayak orang yang paling dicurangin oleh Allah SWT. Kita merasa seperti orang yang paling sengsara diantara semua manusia ketika kita membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain. Kalau kita pernah merasa seperti itu karena kita sedang diuji oleh Allah dengan satu masalah, pasti kita berarti belum mengenal Allah SWT.

Ada orang yang diuji mungkin dengan ujian fisik, dan kadang-kadang itu bukan ujian sebetulnya. Dia aja yang tidak mampu bersyukur atas nikmat fisik yang Allah berikan. Ada yang merasa warna kulitnya adalah ujian. Ada orang yang merasa jenis rambutnya adalah ujian, tinggi badannya adalah ujian, bentuk hidungnya adalah ujian, gemuk dan kurusnya adalah ujian.  Ada orang yang bahkan merasa nasab keturunan adalah ujian, sehingga bagi dia menjadi orang yang paling tidak beruntung karena diberikan fisik yang menurut dia tidak ideal. Ini orang pasti tidak kenal Allah SWT. Kalau dia mengenal Allah SWT, maka dia akan melihat sebaliknya. Alih-alih dia mengeluhkan nikmat, justru dia makin bersyukur kepada Allah.

Ada juga orang yang merasa dirinya paling menderita karena melihat dirinya orang yang paling tidak beruntung dalam urusan harta. Dia menilai orang lain lebih beruntung karena gajinya lebih besar, karena diberikan nafkah oleh suaminya lebih banyak, karena kendaraannya lebih baik, karena rumahnya lebih luas, karena tempat kerjanya lebih bergengsi, karena titel dan gelarnya lebih tinggi, sehingga dia merasa karena hartanya terbatas, menjadi orang yang paling sengsara di muka bumi. Ini juga orang yang tidak kenal sama Allah.

Atau ada juga yang merasa dirinya itu paling menderita karena masih jomblo, dia cemburu pada temannya yang nikah, bahkan dia cemburu pada temannya yang baru putus ada banyak sekali hal yang dikeluhkan oleh manusia untuk dia merasa pantas menyebut dirinya sebagai orang yang paling sengsara. Ada banyak hal yang dianggap oleh manusia pantas dikeluhkan kepada Allah SWT karena dia ngerasa dicurangin oleh Allah SWT.

Baca juga :   Belajar dari Cara Abu Hurairah Menyerap Ilmu dari Rasulullah

Nah, bagaimana mengubah keluhan-keluhan?

Abu Ubaidah bin Zarrah sebagai gubernur di Syam Suriah, suatu hari ketika dia sedang memantau keadaan rakyatnya, Abu Ubaidah pernah melalui suatu hutan yang tidak ada penduduk tinggal disana, tiba tiba menemukan gubuk kecil di tengah hutan. Karena penasaran Abu Ubaidah mendekat ke gubuk itu, dari luar gubuk Abu Ubaidah mendengar suara laki laki bertahmid kepada Allah. Akhirnya Abu Ubaidah penasaran memberi salam, minta izin supaya dibolehkan masuk ke dalam, sementara para prajuritnya menunggu diluar.

Ketika masuk ke dalam rumah, Abu Ubaidah merasa heran karena dia melihat di dalam rumah itu hanya ada kakek yang terbaring diatas tanah tidak punya kasur, tiker, bantal, benar-benar terbaring diatas tanah dan rumahnya kosong tidak ada perabotan apapun. Ketika Abu Ubaidah mendekat ke kakek ini, ternyata Abu Ubaidah baru ngeh kakek ini adalah seorang tuna netra. Kakek ini dalam keadaan lumpuh, usianya sudah sangat tua, matanya buta, yang bergerak hanya bibir saja sambil mengucap “alhamdulillah”. Abu Ubaidah duduk di sisi kakek lalu bertanya “kek dengan siapa kakek tinggal disini” kakek itu menjawab “saya tinggal disini dengan anak saya, tadinya saya punya keluarga besar. Saya punya isteri dan beberapa orang anak. Isteri dan anak-anak saya sudah meninggal cuma tinggal satu orang. Saya lumpuh dan saya tidak bisa melihat, tapi Allah maha baik.”

Abu Ubaidah bertanya lagi, “Kek dari tadi saya dengar kakek terus memuji Allah, dari sejak saya di luar rumah saya dengar kakek terus memuji Allah. Tetapi saya perhatikan sepertinya kakek ini tidak punya kehidupan yang layak, rumahnya gubuk, di dalam rumah tidak ada apa-apa, kakek sakit-sakitan tidak punya keluarga. Saya penasaran apa yang kakek syukuri kepada Allah sehingga kakek tidak berhenti mengucapkan alhamdulillah, terus apa yang kakek syukuri?” Kakek itu tersenyum dan mengatakan “Wahai tuan, ada dua nikmat yang diberikan Allah kepada saya, dan itu lebih saya cintai dari pada dunia dan seisinya, yang nikmat ini tidak akan diberikan kecuali kepada orang-orang yang Allah cintai saja. Dua nikmat itu adalah qalban syakiran wa lisanan dzakiran. Dua nikmat yang diberikan Allah hanya kepada orang yang Allah cintai adalah nikmat hati yang selalu bersyukur dan nikmat lisan yang selalu berdzikir.”

Baca juga :   13 Cara Jitu Untuk Anda GAGAL Dalam Kehidupan, DIJAMIN! (Seri Kedua)

Bukankah kita banyak melihat orang kafir yang sehat wal’afiat, bukankah kita banyak melihat orang kafir yang keliling dunia sukses secara bisnis, produk-produknya ada di seluruh dunia, bukankah kita melihat orang kafir itu sukses dalam karir-karirnya. Allah berikan nikmat itu kepada orang mukmin dan kepada yang bukan mukmin sekali pun, karena nikmat itu nikmat murah, Allah berikan kepada siapa saja. Sehingga itu bukan ciri bahwa seseorang telah dicintai oleh Allah, sehingga kita menilai diri kita menjadi orang yang kurang beruntung, karena kita tidak diberikan nikmat yang Allah berikan kepada orang kafir, sehingga kita menjadi orang yang kurang beruntung karena harta kita sedikit, dan orang kafir lebih beruntung karena hartanya berlimpah. Makanya saya bilang di awal pasti dia tidak kenal Allah SWT, dia tidak mengerti Allah SWT. Seendainya dia mengerti, maka dia akan bersyukur dan tidak akan berhenti untuk memuji Allah SWT.

Kalau hati kita mulai merasa tidak puas dengan nikmat Allah SWT, kalau hati kita mulai mengeluh pada ketentuan Allah SWT, saat itulah kita harusnya banyak-banyak minta ampun kepada Allah. Kalau Allah cabut nikmat qalban syakiran dia akan jadi orang yang sengsara. Sedangkan hati yang tidak bersyukur akan membimbing lisannya untuk mengeluh, untuk mengutuk, untuk menyalahkan diri sendiri ataupun orang lain. Hati itu kalau benar maka seluruh anggota organ tubuhnya akan benar termasuk lisan. Kalau hatinya rusak, maka seluruh organ tubuhnya termasuk lisannya akan menjadi rusak.