CEO Facebook, Mark Zuckerberg, sumber: gettyimages

Majalahayah.com, Amerika Serikat – Raksasa jejaring media sosial Facebook,  mengatakan pada Kamis (15/12/2016) bahwa mereka akan membuat sejumlah fitur baru demi mencegah penyebaran berita bohong (hoax). Fitur baru itu akan menandai berita bohong, serta kemungkinan perubahan terhadap algoritma Facebook.

“Kami meyakini prinsip memberikan suara pada orang-orang dan bahwa kami tidak bisa menjadi penengah dari kebenaran sendirian, jadi kami melakukan pendekatan terhadap masalah ini dengan hati-hati,” jelas perusahaan yang bermarkas di California itu dalam pengumumannya, dilansir dari BBC.

Facebook juga telah menambah sebuah pilihan baru bertuliskan “itu adalah berita palsu” pada fitur pelaporan, yang saat ini digunakan untuk spam atau konten ‘mengganggu’ lainnya. Setelahnya, berita bohong itu akan berada di posisi terbawah dalam lini masa.

Selain itu, fitur yang ada akan dilengkapi peringatan kepada para pengguna sebelum mereka membagikan kabar yang terindikasi adalah berita bohong. Facebook juga akan bekerjasama dengan beberapa media dan laman penguji fakta seperti Snopes, ABC News, dan Associated Press untuk memeriksa validitas informasi.

Facebook yang merupakan media sosial terbesar di dunia dengan pengguna bulanan sekitar 1,7 milyar orang ini memang tengah melakukan berbagai upaya dalam menangkal penyebaran berita bohong di platform mereka. Hal itu karena Facebook juga sudah berulangkali dikritik karena secara tidak langsung berperan menyebarkan informasi dan berita palsu.

Sebelumnya pada Agustus lalu, Facebook meningkatkan penggunaan otomatisasi untuk menyeleksi topik paling hangat dengan fiture ‘Trending’ sebagai cara untuk mengurangi bias. Namun facebook kembali menuai kritik besar setelah memasukkan berita palsu soal insiden 9/11 pada Trending Topic-nya.

Kemudian pada September, bersama Twitter akhirnya Facebook memutuskan untuk bergabung dengan jaringan ‘anti-hoax’ bernama ‘First Draft Coalition’. Jaringan yang dibentuk pada Juni 2015 dengan dukungan dari perusahaan induk Google, Alphabet Inc itu beranggotakan 30 perusahaan media besar dan teknologi untuk memerangi berita palsu dan meningkatkan kualitas informasi di media sosial.

Keikutsertaan Facebook dalam koalisi FDC tersebut juga diharapkan bisa membantu raksasa media sosial itu menangkal berita palsu pada platform-nya. Sampai pada bulan November, Facebook harus mendapat kritikan luas kembali setelah banjir laporan berita palsu tentang pemilihan presiden Amerika Serikat.