Kasus Romy dan Konflik PSI-PDIP Lemahkan TKN Jokowi-Ma’ruf

Kasus Romy dan Konflik PSI-PDIP Lemahkan TKN Jokowi-Ma’ruf

116
SHARE
Ketua PPP Romahurmuziy (Dok : Antara)

Majalahayah.com, Jakarta – Pengamat Politik sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago menilai, kasus penangkapan Ketua Umum PPP, Romahurmuziy alias Rommy dan kegaduhan internal atau konflik antara PSI dan PDIP melemahkan Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin.

“Koalisi Jokowi-Ma’ruf akan kehilangan fokus dan melemah karena kegaduhan internal dan tertangkapnya Ketum PPP,” kata Pangi di Jakarta, Senin (15/3/2019).

Terkait kasus Roy, menurut Pangi, TKN akan dibuat sibuk dan fokus pada kasus hukum yang dialami Romy, karena mereka harus bekerja keras untuk menjaga dan mempertahankan elektabilitas Jokowi-Ma’ruf karena kasus ini dengan mengelola emosi publik.

“Harus kita akui bahwa ini akan berimbas pada figur pak Jokowi sendiri, personal brendingnya. Yang kedua itu soal isu sentimen, soal mengelola emosi publik,” ujar dia.

Pangi melanjutkan, pasca ini internal PPP akan sibuk pada pemulihan nama baik partai, dan yang lebih urgen lagi adalah bakal ada perebutan kekuasaan atau pemilihan ketua umum baru pengganti Romy, tidak mustahil konflik berkepanjangan akan terjadi lagi.

Baca juga :   Politisi PDIP Minta Operasionalkan Penerapan Pancasila pada Tata Kelola Pemerintahan

“Nanti akan berlanjut pada konflik memperebutkan ketua umum di internal PPP. Belum nanti pengaruhnya pada mesin partai dan pemenangan pak Jokowi di pilpres.

Pangi menjelaskan, peranan partai sangat penting dala pemenangan Pilpres, kalau mesin partai mati maka kemenangan di pilpres akan mustahil dicapai.

“Saya melihat mesin partai di koallisi Jokowi-Ma’ruf masih tanda tanya, masih setengah hati,” katanya.

Sementara terkait konflik PSI-PDIP, menurut Pangi akan memperparah keadaan dan semakin melemahkan koalisi ini.

“Ketika partai sudah berkonflik sesama pendukung Jokowi, misalnya antara PSI dengan PDIP tentu tidak baik dari segi soliditas dukungan,” jelas Pangi.

Pangi mengatakan, PSI ini tidak memikirkan soliditas dukungan, dia hanya ingin terkenal karena elektabilitasnya di bawah elektoral untuk itulah mereka menyerang PDIP dengan harapan mereka ikut numpang tenar menaikkan elektabilitas, karena PDIP itu adalah mesin utama bersama beberapa partai yang lain.

Baca juga :   Ini Sejarah Panjang dan Kontroversi Perayaan Hari Ayah

“Memang ini sebenarnya menjadi rumit ketika PSI berkonflik dengan PDIP, itu adalah mesin utama. Mestinya solid dan fokus pada pilpres, tapi sesama mereka malah berantem demi kepentingan sesaat,” ungkapnya.

“Saya melihat mesin partai di koallisi Jokowi-Ma’ruf masih tanda tanya, masih setengah hati,” imbuhnya.

Selain kedua permasalahan di atas, ternyata partai NasDem sedang terjadi konflik internal, yakni digugatnya Surya paloh oleh Kader NasDem, Kisman Latumakulita. Ia menggugat keabsahan Surya Paloh sebagai Ketum Nasdem. Kisman menyebut masa jabatan Surya Paloh seharusnya berakhir pada 6 Maret 2018.

Untuk itu, Pangi mengingatkan, kalau konflik antar parpol pendukung Jokowi ini terus dibangun dan tidak dihentikan, maka akan mengganggu mesin-mesin partai untuk pemenangan pilpres dan berujung kekalahan.

“Jadi soliditas internal partai pendukung Jokowi harus dipertanyakan sekarang. Efektifitas mesin partainya seperti mau mematikan mesin,” tutup dia.