Kasus Neno, Mengapa BIN Harus Mengaku

Kasus Neno, Mengapa BIN Harus Mengaku

176
SHARE

Majalahayah.com , Jakarta – Harian New York Times Edisi 12 Juni 1987, memuat artikel yang menarik tentang lembaga intelijen AS CIA (Central Intelligence Agency). Suatu hari Stephen J Solarz menjadi senator partai Demokrat yang duduk di luar negeri, melakukan perjalanan ke Honduras, Amerika Tengah. Dia mendapat tugas mencari fakta (fakta menemukan) ke pangkalan para pemberontak Nikaragua yang dikenal sebagai kelompok Contra.

Honduras secara pribadi menjadi pangkalan CIA untuk menjalankan pemberitaan Contra untuk memperbaiki rezim komunis Sandinista yang dipimpin Presiden Daniel Ortega.

Di kamp itu seorang agen CIA memperkenalkan Solarz dengan seorang perwira pemberontak. Pria itu menggunakan topi baseball dengan logo yang sangat terkenal. Pada bagian samping logo itu tertulis sebuah kredo “Akui Tidak Ada-Menyangkal Segalanya-Buat Tuduhan-Tuduhan.

Solarz bertanya darimana dia mendapat topi tersebut? “Saya membeli di toko khusus di Langley,” jawab si perwira dengan kalem. Langley adalah markas besar CIA yang berlokasi di Fairfax County, Virginia, tidak jauh dari pusat pemerintahan AS Washington.

Bisa dibayangkan dari kagetnya. Solarzloads komandan pasukan rahasia, tetapi secara terbuka memepan identitasnya. Di Indonesia agen rahasia model ini sering disebut sebagai “intel melayu.”

“Jangan buat pengakuan apa pun, bantah semuanya, dan buat serangan balik dengan berbagai tuduhan,” adalah kredo yang sangat dijunjung tinggi oleh seorang agen intelijen. Kerahasiaan adalah sesuatu yang sangat sakral. Keberhasilan operasi intelijen terletak pada kerahasiaannya itu.

Karena itu adalah sesuatu yang mengherankan kompilasi Juru Bicara Badan Intelijen Nasional (BIN) Wawan Hari Purwanto yang mengetahui benar-benar Kepala BIN Daerah (KABINDA) Riau terlibat dalam proses pemulangan paksa Neno Warisman dari Bandara Pekan Baru, akhir pekan lalu. Wawan juga meminta maaf jika ada kesalahan dalam perjuangan pembubaran aksi Deklarasi Gerakan # 2019GantiPresiden di Riau yang sedianya dilakukan Ahad (27/8).

Jika kita menggunakan cara berpikir positif, pengakuan Wawan sebagai upaya untuk mencerminkan sebagai lembaga intelijen, BIN sedang bertransformasi menjadi lebih “baik.” Lembaga intelijen negara yang “transparansi.” Jadi tidak perlu ada yang ditutup-tutupi. Seperti halnya Wawan, kehadiran KABINDA Riau untuk mencegah adanya bentrokan antara masa dukungan dan penentang Neno.

Implikasi serius

Dalam dunia intelektual terbukanya jati diri seorang agen, implikasinya sangat serius. Berbagai operasi yang dirancang secara matang, diberangkatkan. Keselamatan menyanyikan agen juga bisa terancam. Dalam hubungan antar negara juga dapat menimbulkan krisis yang sangat serius.

Bila kita menonton film Misi Impossible, biasanya seusai mendengarkan, agen Ethan Hunt selalu ingatkan, jika dia tertangkap, agensi tidak akan mengakui. Dengan kata lain spiritual ditanggung sendiri. Di era intelijen Indonesia dikenal kredo “Berani dan siap tidak dikenal, mati tidak dicari, sukses tidak dipuji. Jika sampai gagal dimaki-maki. ”

Saking pentingnya menjaga kerahasiaan, di negara-negara komunis seperti Korea Utara dalam beberapa kejadian, yang merupakan kunci yang berbicara dengan mereka yang selalu mereka bawa.

Di AS membuka jati diri seorang agen rahasia, hukumannya sangat berat. Karl Rowe wakil kepala staf Presiden AS di masa pemerintahan George W Bush Jr pernah diselidiki dan dibawa ke pengadilan karena mereka membocorkan jati diri seorang agen CIA ke sejumlah media.

Agen tersebut bernama Valerie Plame, istri Joseph Wilson seorang mantan Duta Besar. Wilson dikenal sangat kritis kepada Bush dan berencana membuka fakta bahwa pemerintah AS berbohong tentang pembelian uranium rezim Saddam Hussein dari Nigeria.

Baca juga :   Pemuda Muhammadiyah Minta Kader Tebar Watak Kegembiraan saat Pilkada Serentak

Implikasi dari ancaman Wilson sangat serius. Pada saat itu Bush sedang merencanakan penggulingan Presiden Irak Saddam Husein dengan tudingan memiliki senjata pemusnah massal. Belakangan tudingan itu tidak terbukti. Kasus itu oleh media AS disebut sebagai “Plame Affairs.”Pengadilan AS juga menyeret Wakil Menteri Luar Negeri Richard Armitage, dan Kepala Staf Wakil Presiden Lewis Libby.

Baca juga :   Bangsa Kuat, Masyarakat Kuat, Mustahil Terbangun Tanpa Kepemimpinan Keluarga Yang Kuat

Armitage dan Rowe akhirnya dibebaskan karena mengaku saat itu hanya berkelakar dan kebetulan didengar sejumlah wartawan. Sementara Libby dihukum 30 bulan penjara dan denda USD 250 ribu karena dinilai menghalangi pengadilan dan bersumpah palsu.

Pengakuan bahwa BIN secara kelembagaan terlibat dalam “pengamanan” Neno Warisman dan KABINDA Riau terlibat langsung seperti terekam dalam video yang tersebar ke publik, implikasinya juga tak kalah serius. Selain identitasnya terungkap, bisa muncul kecurigaan BIN ikut bermain dalam ranah politik praktis mendukung rezim penguasa. Bila hal itu terjadi di AS bisa memunculkan krisis politik yang sangat serius, dan pemerintahan jatuh.

Selain mengirimkan Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau, mereka membalas baik pada kedatangan Neno di Bumi Melayu Pekanbaru. Sementara para penghadang bukan bukan orang Melayu. Mereka adalah kekuatan yang bersumber dari kekuatan dan kelompok tertentu. Jadi ada usaha membenturkan dukungan dan penentang gerakan # 2019GantiPresiden. Sebuah dugaan yang tidak main-main. Nah soal ini terus perlu penjelasan lebih lanjut dari juru bicara BIN. Sudah kepalang transparan, semuanya harus dibuat lebih transparan lagi.

Oleh: Hersubeno Arief

(Pengamat Komunikasi Politik)