Karunia Berupa Anak, Bukan Pilihanmu dan Bukan Karena Keinginan Anakmu

Karunia Berupa Anak, Bukan Pilihanmu dan Bukan Karena Keinginan Anakmu

291
SHARE
Ilustrasi Sepasang suami-istri dikaruniai seorang anak. Sumber www.allcircles.wordpress.com

Majalahayah.comMendapat karunia buah hati adalah impian setiap pasangan yang sudah menikah. Bagaimana pun megahnya rumah jika belum ada tangisan bayi maka seakan-akan belum lengkap, bahkan terkesan rumah tersebut sepi dan kurang meriah. Ada beberapa pasangan suami-istri yang mendapat ujian belum dikaruniai keturunan dalam jangka waktu cukup lama, tentu hal ini membuat pasangan suami istri risau dan gelisah.

Pada umumnya dalam hal ini istri lah yang merasakan beban yang paling berat. Apalagi ada pandangan bahwa penyebab semua itu adalah dari pihak istri. Sering pula saling menyalahkan padahal bisa saja penyebabnya bukan masalah infertilitas maupun masalah psikologi. Padahal bukanlah seperti itu, bukanlah salah istri ataupun suami.

Berharap dan berusaha adalah dua hal yang wajar, namun berputus asa atau lupa daratan sehingga lalai akan keberadaan kuasa ilahi ada dua sikap yang tercela.  Agar terbebas dari dua hal tercela tersebut perlu kita renungkan dan pahami bahwa anak keturunan adalah karunia dan kuasa Ilahi. Serta yang lebih penting adalah bagaimana seharusnya sikap muslim yang belum dikaruniai keturunan cukup lama oleh Allah SWT dan menerima kehendak Allah apapun karunia yang diberikan?

Bagi pasangan menikah yang mendambakan buah hati tentu akan melakukan berbagai macam usaha agar bisa hamil. Ketika Allah SWT menghendaki dengan dikaruniakan tanda-tanda kehamilan, kebahagiaan pun tercurah bagi sang pasangan suami-istri. Kehamilan pertama merupakan anugerah Allah SWT kepada hambanya sebagai sebuah amanah yang harus dijaga dan dirawat dengan baik serta penuh rasa syukur.

Saat kehamilan tersebut disitu Allah menganalogikan tentang bagaimana sesuatu yang terkandung tersebut hingga mencapai batas waktu yang ditentukan. Yang mana tatkala seorang ibu yang menjalani proses kehamilan merasa berat, lelah dan letih, kandungan tersebut pun tak bisa ditaruh atau diletakkan di suatu tempat bahkan ditinggalkan sejenak. Sang ibu hamil pun terus menjaga dan memposisikan kandungannya itu selalu pada posisi terbaik, terjaga dan dalam kelembutan kasih sayang tulus kemanapun dimanapun sampai waktu saat dikehendaki sebuah proses kelahiran terjadi. Dan sesuatu yang terkandung itulah amanah. Allah SWT berfirman,

“Dan Kami tetapkan dalam rahim apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang telah ditentukan.” (QS. Al-Hajj 22 : 5)

Dalam surat yang lain Dia berfirman:

Baca juga :   Demi Masa, Inilah Perjalanan Panjang Seorang Ayah

“Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.” (QS. Al-Infithar 82 : 8)

Begitupula saat Allah memberikan karunia berupa anak, dengan segenap kelengkapan indera, paras, dan jenis kelamin. Hal yang perlu dipahami adalah bahwa anak-anakmu bukan pilihanmu. Mereka menjadi anak-anakmu bukan karena keinginan mereka, akan tetapi karena takdir dan kehendak Allah. Sebagaimana firman Allah SWT,

“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia).” (QS. Al-Qashash 28 : 68)

Dan semua takdir Allah pasti baik dan pasti menghendaki kemuliaan kepada hambanya. Karena Allah sangat sayang terhadap hambanya, Allah menginginkan kebaikan terhadap hambanya, akan tetapi terkadang hambanya cenderung ber-su’udzon terhadap Allah dan sedikit sekali bersyukur.

“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki,
atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.”
(QS. Asy-Syuraa 42 : 49-50)

Dengan demikian itu menunjukkan secara jelas bahwa realitas kehidupan yang ada ini menurut kehendak Allah SWT. Sedangkan apa yang tidak ada di alam ini dikarenakan tidak adanya kehendak dari-Nya.

Karena apa saja yang Allah takdirkan untuk hambanya, maka itu adalah amanah yang harus ditunaikan. Sebagaimana Firman Allah SWT,

“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.

Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfaal 8 : 27-28)

Pasangan suami-istri yang sudah menjadi orangtua dari anak keturunannya patut memahami bahwa karunia tersebut adalah yang sebelumnya didambakan, diimpikan bahkan diharapkan dan diikhtiarkan. Jadi orangtua lah yang menginginkan memiliki anak dan keinginannya itu adalah janji kepada Allah. Maka tepatilah janjimu karena akan Allah memintai pertanggungjawabannya.

Baca juga :   Sungguh Bejat Guru Ngaji Ini, Murid yang Kebanyakan Anak-Anak Jadi Korban Aksi Sodominya

Sebagaimana firman Allah SWT,

“Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran,

(yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian,

dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.

Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),

(yaitu) syurga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;

(sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum” [keselamatan atasmu berkat kesabaranmu]. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’d 13 : 19-24)

Oleh karena itu, teruntuk para orangtua penting sekali memahami bagaimana Allah berkehendak atas segala karunia kepada siapa saja yang dikehendaki Nya serta kapan pun waktu yang dikehendaki-Nya. Pada hal tersebut terdapat ujian dan tanda-tanda (petunjuk) agar setiap hamba memahami bahwa Allah sebaik-baik Pembimbing.

Ada sebuah hadits dalam buku Shahihain yang diriwayatkan dari Abdullah bin Amr, ia bercerita, aku pernah mendengar Rasulullah SAW  bersabda, ketika beliau sedang berada di atas mimbar:

“Sebenarnya kelangsungan kalian meneruskan apa yang ditinggalkan umat-umat sebelum kalian adalah seperti waktu antara shalat Ashar sampai terbenamnya matahari.. ”

Diriwayatkan Bukhari (XIII/7467/AI-Fath). Ahmad dalam buku Musnadnya (11/121, 129). Baihaqi dalam buku Al-Sunan (VI/118), dari Ibnu Umar.

 

Kemudian dilanjutkan penuturan hadits tersebut hingga pada akhirannya beliau membacakan:

“Demikian itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Maidah 5 : 54)

Selain itu Allah SWT juga berfirman:

“Allah membimbing siapa yang Dia kehendaki kepada cahaya-Nya itu.” (QS. An-Nuur 24 : 35)