Foto : kalteng.procal.co

Majalahayah.com, Jakarta – Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menegaskan jika penanggulangan teroris bukan hanya tugas Polri. Melainkan, sudah menjadi tanggung jawab bersama dari seluruh entitas bangsa.

“Melawan terorisme tidak dapat dilakukan sendirian,” kata Tito di acara MoU penanggulangan terorisme di Indonesia antara Polri dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Mou di hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Selasa (6/12).

Menurut mantan Kepala BNPT itu, ada tiga pendekatan dalam menghadapi terorisme. Pertama, soft approach dengan penekanan deradikalisasi.

Teknisnya, melalui konseling dengan tujuan untuk memahami pikiran mereka kenapa masuk dalam jaringan ini. Ada faktor materi, ada juga faktor emosi.

“Seperti di Poso, mereka karena dendam. Mereka dendam karena pada saat terjadi konflik di Poso, keluarga mereka merasa banyak dibunuh dari kaum nasrani,” ujar Tito.

Lalu, langkah kedua berupa soft approach, dan perlu dilakukan post release. Metode tersebut, kata Tito, ditekankan untuk penguatan sistem pembinaan bagi narapidana terorisme di LP (Lembaga Pemasyarakatan).

“Deradikalisasi di LP sangat minim. Tak ada program khusus. Yang ada hanya di BNPT, itupun sporadis. Oleh karena itu MoU tadi Polri menyambut gembira,” ungkap lulusan Akpol 1987 itu.

Sedangkan langkah pendekatan ketiga, dilakukan melalui metode Hard Approach (penanganan keras). Metode ini, terdiri dari tiga instrumen yang saling bertautan dalam penerapannya.

Antara lain, Military Strategy Approch, Intelligent Strategy Approch dan Law Enforcement Approch.

“Tetapi, dalam hal ini tidak ada yang murni Militer strategy Approch. Dalam Militer Strategy Approch harus dibantu intelijen dan penegak hukum. Intelligent Strategy Approch juga harus didukung militer dan penegak hukum. Begitu juga Law Enforcement Approch juga harus didukung militer dan intelijen,” paparnya.

Dalam acara tersebut, selain Kapolri hadir pula Kepala BNPT Komisaris Jenderal Suhardi Alius, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, anggota komisi III DPR RI, Arsul Sani dan Junimart Girsang, serta tamu dari kedutaan besar negara-negara sahabat.