Kapan Usia yang Ideal untuk Menikah?

Kapan Usia yang Ideal untuk Menikah?

749
SHARE
Ilustrasi Usia ideal menuju berkeluarga. Sumber : Tim Samara Academy.
Ilustrasi Usia ideal menuju berkeluarga. Sumber : Tim Samara Academy.

Oleh: Samara Academy

Majalahayah.com – Kabarnya, sebuah studi terbitan Journal of Political Economy tahun 2008 menjelaskan bahwa setiap penundaan 1 tahun untuk menikah, maka peluang untuk bercerai semakin rendah. Dari berbagai survei juga dihasilkan bahwa angka perceraian menurun hingga 50% jika usia menikah pada 25 tahun, dibanding jika menikah di awal usia 20 awal.

Alasannya, usia pertengahan 20 hingga 30 adalah menjadi patokan usia ideal menikah yang aman. Salah satu penyebabnya adalah kedewasaan. Dewasa yang dimaksud bukan hanya umurnya yang bertambah, tapi juga dari segi emosional dan kematangan cara berpikir.

Diusia pertengahan 20-30 ini pula seyogianya sudah dapat membedakan antara cinta ‘monyet’ dan cinta sejati. Antara sekedar suka dengan yang tulus mencinta, antara yang memberi harapan palsu dengan yang siap bertanggung jawab dengan pilihannya.

Lalu, bagaimana dengan mereka yang menikah di bawah usia 20 tahun? Bukankah dalam UU Nomor 1 tahun 1974, dijelaskan bahwa saat pria menginjak usia 19 tahun sudah diperbolehkan menikah dan wanita yang sudah berusia 16 tahun tidak ada pelanggaran baginya untuk membangun rumah tangga.

Baca juga :   Ketika Aku Memilih

Jika kita membuka petuah Nabi Muhammad SAW, maka akan dapat kita temukan korelasinya usia yang ideal untuk menikah. Berikut penjelasan Nabi:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.

“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng). (HR. Al-Bukhari [no. 5066 kitab an-Nikaah], Muslim [no. 1402 kitab an-Nikaah], dan at-Tirmidzi [no. 1087 kitab an-Nikaah])

Yang Nabi sebutkan bukan batasan usia, melainkan kata Ba’ah. Apakah yang dimaksud dengan Ba’ah ini? Jika melihat artinya maka Ba’ah adalah mampu (menikah). Lalu, apakah mereka yang sudah mampu cara berpikir dan segi ekonominya yang matang memang seyogianya sudah menikah?

Baca juga :   Mengapa ibu adalah Madrasah pertama & utama bagi anak ?

Bagaimana dengan mereka yang sudah atau baru mapan secara finansial tetapi belum menikah pada usia 40 tahun? Jika ada orang usianya lebih di atas 30 tahun, yang secara pemikiran seyogianya sudah dewasa, tapi karena berbagai faktor masih belum juga menikah. Apakah masuk dalam kategori Ba’ah?

Bukankah banyak di sekitar kita yang dewasa berpikirnya, mapan ekonominya tapi menginjak usia yang ke 30 tahun lebih masih belum juga menikah?

Mau memantapkan diri usia berapa kita menikah? Dapatkan jawabannya di Kuliah Tematik Pernikahan “Samara Academy di mulai pada 4 Februari 2018. Informasi lengkap pendaftaran klik http://shakaro.or.id/pendaftaran-samara-academy atau hubungi selengkapnya 081617170061 / 089653390485 (for akhwat) dan 085379900990 (for ikhwan).

Add Friend