Gus Mus dan Cak Nun.
Foto : Gus Mus dan Cak Nun. Foto: Gusmus

Majalahayah.com – Perjalanan hidup terkadang membawa kita dari menelusuri ujian ke ujian, mengalami jatuh-bangunnya kehidupan. Ada yang semakin tenggelam dalam permasalahan dan terlarut dalam kegelapan. Dari hal demikian mari kita coba sejenak menyimak kajian dari Cak Nun yang ditranskrip oleh tim majalahayah.com berikut:

Hidupnya manusia itu dari gusti Allah lalu mencari gusti Allah, kamu ketemu enggak ketemu yaa kepergok gusti Allah juga. Keindahan yang terjadi kalau kamu menemukan potensi yang ada pada dirimu. Kalau pada saat yang sama Allah itu mengaku atau menyebut dirinya adalah cahaya (Allahu nuurusama wati wal ard) maka perjalanan manusia dari cahaya menuju cahaya. Allah menuju Allah dengan panduan dari Muhammad menuju Muhammad dengan penjelasan dari  cahaya menuju cahaya. Jadi yang pertama kita pelajari adalah fisika dan biologi, kedua yang kita pelajari adalah kosmologi yang merupakan makro dari ilmu fisika, matematika dan biologi, ketiga yang kita pelajari adalah fisika kebudayaan. Jadi tata kelola, perilaku manusia, seperti akhlak, kamulyan, pamrikso macem-macem. Supaya pada tahap keempat kita temui cahaya yang sebenarnya.

Tidak mudah menjelaskan, ini kan (lampu) yang menyinari kita bukan cahaya, hanya benda yang memantulkan apa yang secara fisik disebut cahaya. Bahkan matahari pun tidak memancarkan cahaya, matahari itu cuma memancarkan energi inti yang ketika menimpa benda-benda alam tertentu membuat mata kita kompatibel untuk melihatnya. Jadi cahaya adalah suatu yang sangat misterius yang merupakan awal dari kehidupan kita dan merupakan hal gaib dari ujung kehidupan kita.

Baca juga : Memberikan Pilihan Pada Anak Jadi Pola Didik Cak Nun

Ketika ada big bang tadi kehidupan terbagi menjadi tiga yaitu cahaya yang merupakan cahaya esensial, kemudian ada cahaya yang merupakan frekuensi-frekuensi atau gelombang-gelombang yang tidak kasat mata (aura, kharisma sugesti) itu merupakan cahaya yang tidak kasat mata yang kalau dalam bahasa Jawa disebut dudu ilmu katon, cahaya pada padatan ketiga atau yang paling rendah disebut ilmu katon atau materialisme, Bumi itu keraknya cahaya, kalau kopi itu ampasnya, Jadi segala sesuatu yang terlihat mata bukan mata kemanusiaan atau mata hati, kalau mata hati itu jenis yang kedua, Cahaya sejati ada ditingkat keempat, tapi kita berada di ditiga gelombang.

Gelombang yang paling rendah ada gelombang materialisme dan semua manusia sekarang urusannya adalah materialisme, ada 3 gelombang yang sedang berlangsung baik dari luar anda ataupun diri anda. Anda kan datang kesini tidak disuruh siapa-siapa berarti ini gelombang kedua, sebab gelombang pertama itu materalisme missal jadi bupati, ada raskin, subsidi bbm, parpol, balsam, ada badokan/kuliner. Itu semua dunia materialisme, anda sebenarnya terlibat dalam gelombang tersebut, pertama gelombang mainstream yang disebut materialisme, adanya Negara mengikat anda semua, mencemaskan anda semua, menjadikan anda sedih, takut enggak bisa makan, enggak bisa sekolahkan anak, takut presidennya sama saja, itu semua mencemaskan anda.

Pertama yang harus kita ketahui adalah apakah setelah mati itu selesai masalah ataukah anda sedang meninggalkan yang paling kotor dalam hidup anda menuju gelombang kedua yang lebih halus dan bermutu. Sudah pasti jasad mu tidak bisa kamu bawa, uangmu tidak bisa kamu bawa, hartamu dalam materialisme untuk berjodoh dengan cahaya sejati. Sedangkan manusia sekarang sibuknya 99% pada yang letek-letek ini. Adanya majelis ini berarti anda memberontak dalam gelombang materialisme, apa itu hidup? NKRI ini? Bung Karno, Pak Harto, Pak Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY? Kayak enggak ada orang lain lagi di Indonesia?

Materialisme adalah alat utama dajjal dan iblis untuk memperdaya anda dan tujuan utama membalik cara berpikir anda supaya anda mengejar-ngejar surga yang sesungguhnya adalah neraka, lalu supaya anda lari dari neraka yang sesungguhnya adalah surga. Di sini nih gelombang kedua di mana anda anda juga tidak aman dari gelombang pertama. Hatimu aman enggak dari Indonesia, sebagai warga Negara tidak aman, sebagai umat islam tidak aman, sebagai siapa saja tidak aman. Tapi sekarang kan anda memberontak dari gelombang pertama lalu mencari gelombang yang lebih sejati. Sekarang di sini pelaku-pelaku nya juga sedang mengayuh-gayuh gelombang ketiga.

Baca juga : Belajar dari Keikhlasan dan Doa Nabi Ibrahim

Saat ini jangankan rohani, kebudayaan saja tidak dipahami, saya berjalan dari Solo, Grobokan, Pati, yang tampak adalah bukan orang yang punya komunitas budaya, yang tampak dari rumah-rumah mereka restoran-restoran mereka adalah persaingan pribadi untuk menunjukan saya lebih materialistik daripada kamu. Berarti anda berada ditengah-tengah manusia mainstream yang berpedoman pada leletek atau materialisme. Padahal materialisme adalah keraknya cahaya yang paling rendah yang umurnya pendek, yang tidak bisa anda bawa kemana-mana. Padahal perjalanan mu masih sangat jauh ke Surga, dan yang nanti dipanggil oleh Allah adalah orang yang sudah menemukan tentrem dalam dirinya. Orang yang sudah mutmainah yang tidak kepincut ole dunia, makan ya makan, tapi tidak jadi yang utama, cari jodoh ya yang cantik, tapi tahu cantik itu berapa tahun.

Sejak dahulu saya tidak mengelami peningkatan dalam karir, karena peningkatan yang anda maksud itu bisa kaya, terkenal, sementara sejak saya kelas 3 SMA saya menolak 5 hal itu, kaya, kondang, jadi orang, jabatan, aku tidak orang tertinggal, kita disuruh jadi bangsa maju, maksudnya itu harus kaya kan? Saya tidak mau dari dahulu. Itu bukan tujuan saya jadi saya tidak pernah tertinggal dari orang barat. Kalau menurut saya pribadi orang barat jauh di belakang saya. Saya tidak taat kepada dunia materialisme, tidak taat kepada dokter, tidak taat kepada hukum, kamu bikin peraturan atau tidak saya juga tidak niat maling. Jadi tidak usah kalian suruh, tulisan nya barangsiapa.. kok nyuruh?

Jadi anda dikuasai oleh materialisme, UU yang dijalani dengan tidak jujur, tapi saya ingin katakan anda tidak boleh tertekan oleh gelombang pertama. Jangan mau dibuat sedih, stress, kamu harus mengelak mengatasi. Nah uang itu lima ribu sepuluh ribu itu kerak cahaya, kalau kamu memberi kepada orang yang membutuhkan itu gelombang cahaya, kalau dari uang itu membarokahi orang-orang sekitar dan keluargamu itu cahaya sejati. Saya tidak menolak materialisme, saya tidak menolak Indonesia, tapi jangan Indonesia menyuruh saya mengikuti itu.

Batas-batas kamu dengan gelombang pertama itu kamu manajemen terus, tidak papa. Anda harus terus berjuang untuk mencari gelombang sejati yaitu Nur Muhammad. Ikhlas saja tidak usah disuruh jadi saja orang baik, tidak ada hukum tetap jadi orang baik, ihsan-ihsan-ihsan.  Jadi anda selalu bermain silat supaya tidak diperbudak oleh gelombang materialisme, tapi anda adalah orang yang berada di gelombang kedua yang menuju ke gelombang ketiga. Yaitu Cahaya sejati.

Baca juga : Cak Nun : Perbanyak Wudhu Cegah Corona Virus