PT Kereta Api Indonesia (Persero). (Foto: Tribun)

Majalahayah.com, Jakarta – PT Kereta Api Indonesia (Persero) memperkirakan akan terjadi lonjakan perumpang kereta api pada masa liburan Natal dan Tahun Baru 2020 (Nataru). Diproyeksikan peningkatan penumpang akan mencapai 4% dari kondisi normal.

“(Peningkatan penumpang) diperkirakan 3%-4%, sama seperti tahun lalu,” ujar Direktur Utama KAI Edy Sukmoro ditemui di Ritz Carlton, Jakarta, Senin (11/11/2019).

Dia menyatakan, untuk mengantisipaso lonjakan tersebut sejumlah persiapan pun dilakukan oleh perusahaan pelat merah tersebut. Di antaranya, menambah jumlah ketersediaan kursi sebanyak 3%-4% menyesuaikan perkiraan lonjakan.

Kemudian, menerjunkan petugas untuk melakukan inspeksi disepanjang jalur kereta guna meminimalisir ganggguan perjalanan. Di samping juga memastikan kesiapan stasiun dan prasarana yang dibutuhkan.

“Inspeksi akan dilakukan di jalur utara maupun selatan,” imbuhnya.

Sementara itu, Direktur Keuangan KAI Didiek Hartantyo menambahkan, persiapan juga dilakukan dengan menjual tiket kereta sejak 30 hari sebelum tanggal keberangkatan. Hal ini memang mengalami perubahan dari biasanya 90 hari sebelum keberangkatan.

Menurut, Didiek hal itu berdasarkan kajian yang dilakukan KAI, di mana penjualan tiket dengan sistem 90 hari kurang diminati masyarakat. “Orang yang beli tiket 90 hari sebelum keberangkatan, itu hanya 50%, sehingga para penumpang maunya 30 hari sebelumnya,” katanya.

Mengikuti tren masyarakat tersebut, KAI bahkan kini tengah mengkaji mekanisme penerapan Tarif Batas Atas (TBA) dan Tarif Batas Bawah (TBB), layaknya moda transportasi udara. Saat ini, pemesanan tiket kereta dari jauh-jauh hari hingga mendekati hari-H keberangkan dipatok harga yang sama, maka nantinya akan berbeda.

“Agar nanti orang beli tiket 30 hari dengan 15 hari atau 5 hari itu harganya beda. Nanti dibatasi TBA dan TBB,” kata Didiek.