Majalahayah.com, Jakarta – Memasuki area sistem zonasi saat Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2018 telah menjadi perbincangan hangat hingga membuat kisruh di masyarakat. Disampaikan oleh Ubaid Matraji sebagai Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia  (JPPI) makna merata bukan berarti sama, namun harus berkeadilan.

“Keadilan bagi anak-anak Jakarta dengan anak-anak di Papua itu kebutuhannya berbeda. Dipapua lebih membutuhkan afirmasi, seperti jarak kesekolah masih jauh, guru hanya 1 orang, sekolahnya belum layak, kondisi seperti itu tidak bisa disamakan dengan Jakarta,” ujarnya saat ditemui di Bakoel Coffe, Jakarta Pusat (26/12/2018).

Menyatakan kebijakan sistem zonasi dinilai cukup berani, Nisa Felicia, selaku Dekan Fakultas Pendidikan Universitas Sampoerna katakan bahwa saat dikoreksi ternyata belum ada filosofi yang jelas terkait sistem zonasi.

“Sistem zonasi ini merupakan langkah awal dari pemerataan pendidikan Indonesia, namun saat saya tanyakan ke orang Kemendikbud apa arti zonasi saja jawabannya berbeda-beda karena belum ada latarbelakang yang jelas. Oleh karena itu, jangan terburu-buru membuat sistem zonasi secara nasional,” tutur Nisa.

Naasnya, sambung Ubaid pemerintah masih berkeinginan kuat untuk mempertahankan sistem zonasi secara nasional.

“Mereka bilang bahwa kalau mau masuk sekolah tidak perlu daftar. Langsung masuk saja kesekolah terdekat. Padahal kita tau datanya masih amburadul. Ini menyangkut anak-anak Indonesia dan para orangtua yang menginginkan anaknya untuk bersekolah. Zonasi yang manual aja berantakan begini, apalagi diterapkan sistem seperti itu,” tegasnya.

Oleh karena itu, Ubaid sarankan agar sistem zonasi difokuskan terlebih dahulu di Jakarta. Hal tersebut dikarenakan agar daerah lain mempunyai contoh terlebihdahulu.

“Biarkan Jakarta jadi contoh terlebih dahulu bagaimana cara pemerataan pendidikan sekolah, mulai koordinasi guru dengan komite sekolah, dengan dinas pendidkan, kalau sudah siap boleh di adakan secara nasional. Jangan pemerintah berpikir bahwa sekklah itu seperti jakarta semua,” tukas Ubaid.