Jika Anak Dibesarkan dengan Permusuhan, Mereka Belajar Berkelahi

Jika Anak Dibesarkan dengan Permusuhan, Mereka Belajar Berkelahi

88
SHARE

Majalahayah.com, Jakarta – Kebanyakan orang tidak menganggap dirinya sendiri sedang bermusuhan. Masyarakat menilai bahwa sebagian mereka tidak terlahir dari keluarga – keluarga yang kasar dan suka menganiaya sehingga menjadi berita utama di media lokal. Hal tersebut dituliskan Dorothy Law Nolte dan Rachel Harris dalam buku “Anak Belajar dari Kehidupannya“.

Namun, dari pernyataan tersebut faktanya dalam setiap keluarga masih menciptakan atmosfer kebencian yang belum diakui di rumah dengan kemarahan terpendam yang dapat bocor dan masuk ke dalam dinamika keluarga dan dapat meletus secara tiba-tiba.

“Budaya kita menawarkan banyak contoh permusuhan dan perkelahian. Setiap saat perang dilancarkan di suatu tempat di planet ini bahkan di negara kita sendiri,” tulisnya.

Baca juga :   Mencontoh Denmark, Ini Cara Memuji Anak Agar Tetap Berproses

Kejahatan akibat kebencian, penganiayaan dalam rumah tangga, perenggangan antargang, menurut Rachel merupakan bagian dari kesadaran sehari-hari.

“Anak-anak selalu dipaparkan ribuan jam gambar perkelahian dan kekerasan melalui TV dan Film. Permusuhan dapat meletus bahkan setiap hari bagi sebagian anak,” tuturnya.

Menyampaikan bahwa anak-anak dapat mengenal permusuhan melalui pengelihatan atau mendengar tentang orangtuanya bertengkar atau orangtuanya bertengkar dengan atasan atau dengan tetangga, menjadi salah satu faktor utama bagi anak.

“Hidup dalam atmosfer permusuhan membuat anak-anak merasa rentan. Sebagian anak bereaksi dengan menjadi keras dengan chip di pundaknya, selalu siap merespon masalah atau bahkan mencari-cari masalah,” imbuhnya.

Namun, tak hanya itu, Rachel tambahkan anak-anak yang mengetahui permusuhan dapat bereaksi menjadi sangat takut untuk berkelahi sehingga menghindari segala macam konflik bahkan konfrontasi yang ringan sekalipun.

Baca juga :   Tidak Wajar Memaksa Anak Menjadi Pribadi Yang Sholeh/Sholehah!

“Reaksi-reaksi anak dapat orangtua saksikan di tempat bermain sekolah dasar, pola agresi di dalam keluarga dapat mengajari anak-anak bahwa berkelahi adalah sebuah keniscayaan sebuah solusi,” sampainya.

Menjelaskan bahwa jangan biarkan anak-anak tumbuh dengan memaknai hidup adalah peperangan maka dikhawatirkan mereka tidak akan diperlakukan adil tanpa berkelahi atau mereka harus berkelahi agar bisa bertahan.

“Jelas hal itu bukan yang kita inginkan untuk anak-anak kita. Bagaimana kita, sebagai orangtua mengatasi perbedaan dan menangani krisis-krisis keluarga menyiapkan anak kita untuk belajar menghadapi konflik baik permusuhan maupun perkelahian yang merusak atau dialog dan resolusi yang membangun,” tukasnya.