Jika Anak Dibesarkan dengan Kecemburuan, Mereka Belajar Iri Hati

Jika Anak Dibesarkan dengan Kecemburuan, Mereka Belajar Iri Hati

97
SHARE

Majalahayah.com, Jakarta – Rasa iri hati atau cemburu ialah monster berwarna hijau. Gambaran itu berfokus pada mata, mengungkapkan kebenaran tentang perasaan. Menurut Dorothy Law Nolte dan Rachel Harris dalam buku Anak-Anak Belajar dari Kehidupannya, menuliskan bahwa cemburu muncul dari bagaimana seseorang melihat sesuatu.

“Kita dapat melihat rumput tetangga lebih hijau. Seperti mobil mereka lebih bagus, rumah mereka lebih mengesankan. Atau kita dapat mensyukuri dan menikmati rumput kita sendiri,” tulisnya dalam buku.

Kenyataan dalam dunia kehidupan, Dorothy katakan selalu ada orang-orang yang punya lebih banyak dari yang kita inginkan, namun selalu ada yang punya lebih sedikit dari kita.

“Jadi terserah kita untuk memutuskan bagaimana kita hidup dengan fakta itu, kalau kita tidak puas, selalu membandingkan diri kita dengan mereka yang punya lebih banyak dan iri dengan apa yang mereka punyai,” tuturnya.

Maka jangan heran, jika mempertahankan sifat iri hati, anak-anak kemungkinan besar akan mengikuti langkah kita sebagai orang tuanya menjalani hidup yang dicemari oleh rasa kecemburuan dan ketidakpuasan.

Baca juga :   Aris Merdeka Sirait : Prostitusi Online di Bogor Merupakan Bagian Jaringan Internasional

“Kita harus menjinakkan monster bermata hijau kita, agar anak-anak dapat belajar bagaimana menikmati apa yang mereka punya dan bukan tidak bahagia dengan apa yang tidak mereka punyai,” jelasnya.

Menyadari perbedaan dan membandingkan merupakan hal yang normal, tak terelakkan dan pada kenyataanya esensial bagi eksistensi seseorang, maka Dorothy katakan kemampuan melihat perbedaan ialah satu elemen penting dalam keterampilan observasi atau mengamati.

“Bagi anak, belajar melihat perbedaan adalah langkah pertama ke arah kemampuan untuk berpikir kritis. Kesimpulan yang kita ambil sebagai hasil perbandingan, kitalah yang dapat menyerat kita ke dalam masalah atau ke dalam perasaan cemburu dan iri hati yang merusak,” sampainya.

Seperti kisah satu keluarga yang mempunyai mobil baru. Ayah baru saja mendapatkan mobil dengan warna yang ibu sukai sehingga putra-putri mereka merasa kegirangan. Karena itu adalah mobil pertama mereka, maka benar-benar menjadi suatu kejutan dan ayah sangat bangga.

“Merawat mobil baru adalah usaha keluarga yang dinikmati setiap orang, selama berbulan-bulan musim panas, mereka membantu mencuci mobil diakhir pekan dan ketika mereka ikut berkendara dengannya, anak-anak berprilaku baik, seperti meletakan sepatu pada karpet pelapisnya dan tidak makan didalam mobil,” ujarnya.

Baca juga :   Tak Biasa, Ini Dampak Buruk Ruang Kelas Penuh Dekorasi

Namun saat musim gugur tiba, salah satu tentangga mereka membawa mobil baru dengan model yang lebih mewah dan harga yang lebih murah. Seketika ayah merasa tidak senang dan menyesal.

Meskipun ibu sudah menenangkan ayah, namun sifat cemburu ayah tak hanya berdampak pada dirinya tetapi menular pada sikap putra dan putrinya.

“Mereka tahu bahwa ayah cemburu meskipun mereka tidak mengerti alasannya. Hilangnya antusiasme keluarga tersebut menular. Mobil itu sudah tak lagi terasa istimewa bagi anak-anak,” imbuhnya.

Kecemburuan mengirimkan pesan kepada buah hatinya bahwa perasaan harga diri bergantung pada kepemilikan dan harta. Dan ini bukan pesan yang ingin kita berikan kepada anak-anak kita.

“Membandingkan tidak selalu menimbulkan masalah, ia dapat menghasilkan apresiasi dan kekaguman dengan sama mudahnya. Seandainya ayah dapat memisahkan keberuntungan tetangganya dari peruntungannya sendiri dalam pikirannya, maka ia akan mampu menghormati tentangganya,” tukasnya.