Home Ekonomi Jelang Laporan Gubernur The Fed, Dollar Menguat Hingga Rp 14.110

Jelang Laporan Gubernur The Fed, Dollar Menguat Hingga Rp 14.110

31
Pihak berwenang di 17 negara membongkar skema pencucian uang besar-besaran yang dilakukan sebuah perusahaan berbasis di Kosta Rika (foto: voaindonesia/ilustrasi)

Majalahayah.com, Jakarta – Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.110 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Selasa (9/7/2019) pagi. Dengan demikian, maka rupiah melemah 0,02 persen dibandingkan penutupan Senin (8/7/2049) yakni Rp 14.108 per dolar AS.

Pagi hari ini, sebagian besar mata uang utama Asia melemah terhadap dolar AS. Baht Thailand melemah 0,01 persen, dolar Singapura melemah 0,02 persen, dan dolar Hong Kong melemah 0,03 persen. Kemudian, ringgit Malaysia melemah 0,05 persen dan yen Jepang melemah 0,15 persen.

Di kawasan Asia, hanya won Korea Selatan saja yang menguat terhadap dolar AS dengan nilai 0,19 persen. Sementara itu, pergerakan mata uang negara maju cenderung bervariasi terhadap dolar AS, di mana euro menguat 0,01 persen namun dolar Australia dan poundsterling Inggris masing-masing melemah sebesar 0,03 persen dan 0,04 persen.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka, Ibrahim mengatakan pelemahan rupiah berkaitan dengan susutnya ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga acuan The Fed, Fed Rate setelah data ketenagakerjaan AS membaik. Pada Juni lalu, Departemen Ketenagakerjaan AS mencatat 224 ribu orang atau naik signifikan ketimbang Mei yakni 72 ribu orang.

Akibatnya, pelaku pasar juga memasang posisi menunggu (wait and see) laporan Gubernur The Fed Jerome Powell di Kongres AS yang dijadwalkan Rabu dan Kamis pekan ini. Meski memang, peluang The Fed untuk cenderung dovish terbuka lebar pada laporan tersebut.

“Di satu sisi, The Fed memandang ekonomi AS masih kuat yang tercermin dari data-data ketenagakerjaan. Namun di sisi lain, perlambatan ekonomi bisa berpengaruh negatif seperti membuat beban utang korporasi membengkak. Kombinasi dua faktor ini menyebabkan The Fed memilih untuk bersabar dalam menyesuaikan suku bunga acuan,” jelas Ibrahim mengutip dafi CNN, Selasa (9/7/2019).

Lalu, sentimen negatif dari domestik juga muncul setelah Gubernur BI, Perry Warjiyo mengatakan pertumbuhan ekonomi kuartal II akan melandai dibanding tahun lalu. Ia meramal pertumbuhan ekonomi kuartal II akan bergerak di angka 5,07 persen hingga 5,1 persen, sama seperti kuartal sebelumnya.

“Data eksternal dan internal ini akan membuat range rupiah di angka Rp14.165 hingga Rp14.200 per dolar AS,” tutur dia.