Foto : Ustadz Adi Hidayat, Lc. MA saat mengisi kajian. Sumber www.youtube.com

Majalahayah.com, Jakarta – Ustadz Adi Hidayat atau UAH adalah salah satu ulama yang banyak digemari oleh umat Islam Indonesia. Kajiannya yang selalu merujuk pada ayat-ayat Al-Quran dan Hadits menjadikan banyak orang tertarik untuk mendengarkan.

UAH juga dikenal ulama yang sopan, tidak kaku, mau menerima perpedaan pendapat di kalangan para ulama sebagai bentuk rahmat, dan kekayaan khazanah ilmu Islam. UAH dekat dan akrab oleh semua golongan. Karenanya banyak orang yang ingin mengundang UAH untuk mengisi kajian.

Dalam satu kajiannya, ada orang yang sempat memberanikan diri untuk bertanya, berapa tarif yang harus dikeluarkan jika ingin mengundang UAH? Lalu apa jawaban Ustadz Adi?

Seperti dikutip dalam akun youtubenya, Senin (6/7/2020), UAH menegaskan ia paling tidak suka jika ditanya tarif. Ia tekankan bahwa dirinya tidak punya tarif. Bicara tarif terhadap seorang ulama, itu sama saja merendahkan. Dalam berdakwah dia tidak memikirkan tarif, bila perlu dia datang sendiri.

“Saya paling tidak suka. Kalau boleh saya katakan, saya paling benci jika ada seorang mengatakan berapa tarif mengundang Ustadz Adi. Saya tegaskan hari ini, saya tidak punya tarif, kalau perlu Anda enggak usah bayar,” tegas UAH.

“Engga ada tiket, saya datang sendiri, saya beli tiketnya ya. Sepanjang Allah memberikan tugas kepada saya, saya yakin Allah pasti belikan kelengkapannya,” sambung UAH.

Dari pada memberikan UAH tarif, dia lebih suka dikasihkan ke orang lain yang membutuhkan. Tidak bermaksud sombong, tapi UAH tidak mau orang sibuk mencari uang untuk membayar ceramahnya, tapi malah menjerumuskan.

“Saya lebih suka, Antum teman-teman, Antum belikan tuh yang antum mau kasih amplop untuk beli makanan untuk macam-macam, supaya semuanya mendapatkan kenyamanannya. Dibandingkan untuk sibuk mencari sesuatu, yang bisa menjerumuskan ustadznya,” jelasnya.

“Demi Allah, teman-teman sekalian jangan terjebak pada yang seperti ini, terutama para asatidz, itu sangat berbahaya.”

UAH yang lama mengemban ilmu di luar negeri memang merasa sedih ketika tiba di Indonesia. Dimana ulama atau ustadz selalu dikaitkan dengan tarif. Ia tidak terbiasa dengan amplopa putih. Karena di Timur Tengah, ya merasakan ulama begitu dihormati bukan dengan tarif, tapi karena keilmuanya.

“Di Timur Tengah agak beda ya, kalo Ustadz itu diperhatikan, Guru, Alim Ulama diperhatikan sama negara. Negara yang memperhatikan, dijamin oleh mereka. Di Malaysia saja, tukang adzan itu digaji, dijamin keadaannya. Karena itu, tidak sibuk mencari yang lainnya.”

“Jadi, begitu datang, kemudian ini yang paling berbahaya, datang amplop sana-sini, begitu sudah melihat isi amplop, di situlah penyakit muncul dalam jiwa. Dan bahayanya, kalau seorang guru sudah, kemudian pasang tarif, melihat isi amplopnya, maka ilmunya hanya akan senilai dengan kadar amplopnya. Itu poinnya, dia begitu melihat aplop, senilai itu, selesai keilmuannya,” tutupnya.