Ilustrasi Petani. (Foto: Fimela)

Majalahayah.com, Jakarta – Generasi muda dinilai masih enggan terjun ke sektor pertanian. Masih banyak yang berasumsi bahwa petani bukanlah profesi yang menjanjikan sebagai lahan mata pencaharian. Mindset seperti ini rupanya kian berkembang di tengah masyarakat Indonesia.

Padahal, geliat sektor pertanian Indonesia tengah menunjukkan tren yang sangat positif. Buktinya, petani Indonesia menjadi salah satu penghasil kopi terbesar di dunia, menduduki posisi keempat di bawah Kolombia. Kualitasnya pun tidak perlu diragukan lagi.

Sayangnya, tren positif ini tidak dibarengi dengan pertumbuhan sumber daya manusianya yang dinilai masih kurang memumpuni. Permasalahan utama menyangkut regenerasi di kalangan petani.

Jumlah generasi muda untuk mendalami bidang pertanian dinilai masih sangat minim. Menurut penuturan Nona Pooroe Utomo selaku Executive Director The Learning Farm, salah satu penyebab utamanya tidak terlepas dari pola pikir dan pendekatan yang selama ini dilakukan oleh pemerintah.

“Selama ini banyak yang berpikir petani itu identik dengan kemiskinan, kayaknya enggak punya apa-apa. Selain itu, pendekatan pemerintah dalam memposisikan diri kurang tepat. Pendekatannya selalu menggunakan embel-embel desa tertinggal, perlu bantuan ini itu, kesannya profesi petani itu tidak mendatangkan nilai keekonomian,” tutur Nona mengutip dari Okezone, Jawa Barat, Kamis (14/11/2019).

Padahal, Nona menjelaskan, pemerintah seharusnya berupaya bagaimana sektor pertanian ini bisa dikembangkan hingga menyentuh kalangan generasi muda. Pasalnya, generasi muda inilah yang dinilai ide-ide besar dan memiliki work ethic yang sangat tinggi.

Nona menyebut mereka dengan istilah the new breed of farmer. Selain mengembangkan lahan pertanian, para petani-petani muda ini juga bisa menjadi agen perubahan.

“Mereka bisa menjadi penjaga bumi dengan bertani secara organik, karena anak milenial itu selalu punya ide-ide yang besar. Dengan menjadi petani, mereka bisa berkontribusi lebih nyata pada kesinambungan planet ini,” terang Nona.

Lain halnya dengan petani berusia lanjut, mereka cenderung sulit untuk menerima ide-ide baru karena sudah terbiasa dengan perilaku atau budaya yang telah mereka lakukan bertahun-tahun.

“Sudah habitual jadi susah diubah. Mereka juga cenderung permisif, misalkan dosisnya harus satu saja, mereka bisa menambahkan menjadi dua karena dianggap tidak akan menimbulkan masalah. Padahal, kebiasaan seperti ini bisa membuat lahan itu menjadi lebih sakit,” ungkapnya.

Menjadi petani itu sangat menjanjikan

Nona mengatakan, menjadi petani sebetulnya sangat menjanjikan asal dikelola dengan baik. Apalagi dengan perkembangan media sosial dan teknologi yang begitu pesat.

Para petani tidak perlu bingung lagi mencari konsumen, atau berhubungan dengan para lintah darat. Mereka bisa memutus mata rantai ijon.

“Memang perlu dikoordinasi. Nah, seharusnya penerintah memainkan perannya di situ. Petani-petani kita seharusnya tidak lagi bersinggungan dengan lintah darat. Sekarang bagaimana pemerintah berperan dalam memaksimalkan potensi mereka,” jelas Nona.

Salah satu karakteristik petani muda yang hingga saat ini masih membuat Nona terkesima adalah bagaimana mereka berinovasi dengan cara sendiri, bukan cara orang lain.

Poin inilah yang seharusnya didorong sehingga mereka menjadi lebih percaya diri dalam mendalami sektor pertanian.

“Kita harus mendorong mereka dengan memberi ide-ide dan semangat. Kalau ditanya apakah jadi petani itu menjanjikan atau tidak? Lihatlah secara objektif, berapa kemungkinan mereka menthasilkan uang dari lahan yang mereka kelola sendiri. Lalu berapa yang mereka bisa hasilkan dari bekerja kantoran dengan gaji UMR?” tegas Nona.

“Kita harus membuka pemahaman bahwa apapun yang dilakukan terprogram dan dianalisa dengan baik, ada nilai ekonominya. Di samping itu mereka juga membantu mengubah dunia menjadi lebih baik,” tukasnya.