Majalahayah.com, Jakarta – Tantrum pada balita memang membuat orangtua dan sekitar gelisah. Pasalnya, ia tak hanya menangis tapi dilengkapi dengan teriakan, memukul orang sekitar atau menyakiti dirinya sambil berguling-guling.

Menurut studi anak alami tantrum saat mereka menginjak usia dua tahun dengan peluang 60-90%. Dan frekuensi puncak antara usia 2,5 tahun hingga tiga tahun.

” Penting bagi orang tua untuk menyadari bahwa mereka tidak dapat mengendalikan emosi karena memang belum matanya secara psikologis,” kata psikolog anak Christina Rinaldi dari University of Alberta di Edmonton dikutip dari dream.

Apa yang dapat dikendalikan, setidaknya sampai batas tertentu, adalah situasi yang cenderung memicu kemarahan anak. Salah satunya adalah mencari tahu hal-hal sering memicu anak menjadi tantrum. Berikut daftarnya.

1. Lelah
Anak-anak suka sekali beralrian ke sana ke mari. Apalagi jika banyak teman atau saudaranya. Biasanya setelah main seharian, ia akan sangat kelelahan fisik dan mental dan menjadi sangat rewel hingga mengamuk.

Jika sudah begini, hal apapun akan membuatnya menangis dan sulit dikendalikan. Penting untuk tetap tidur siang dan mengajak istirahat setelah kelelahan. Mandikan dengan air hangat, lalu balur tubuhnya dengan minyak telon. Ajak ia tidur sambil beri pijatan.

2. Lapar dan haus
Rasa lapar dan haus yang dialami anak-anak kerap kali diabaikan. Saat perutnya kosong dan kehausan, anak jadi mudah sekali mengamuk. Mereka juga cenderung menolak apapun yang ditawarkan.

Untuk itu, jika selalu sediakan camilan atau susu dalam kemasan yang bisa dinikmati si kecil setiap saat. Sehingga, saat bermain ia bisa menikmati camilan dan tak kelaparan hingga menunggu waktu makan.

3. Orangtua yang ‘pecah’ perhatian
Perhatian memang sangat dibutuhkan anak-anak. Mereka pun akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkannya termasuk mengamuk. Biasanya, saat orangtua sedang melakukan sesuatu dan anak meminta perhatian lalu tak didapatkan, mereka akan tantrum.

Mengatasinya harus seimbang. Jika memang bisa langsung memberi perhatian, segera lakukan. Tapi jika sedang ada hal yang harus diselesaikan seperti telepon penting, mengurus pekerjaan, jelaskan pada anak. Setelah itu baru perhatian akan fokus kepadanya.

Saat anak menginjak usia lima tahun, kalian para orangtua tak perlu khawatir. Sebab frekuensi anak tantrum sudah mereda.