Jalan Cinta, Hanya Dia yang Bisa Memilih

Jalan Cinta, Hanya Dia yang Bisa Memilih

62
SHARE
Ilustrasi pria dalam kesendirian. Sumber www.satumedia.co

Majalahayah.com – Di jalan cinta pejuang ada isyarat kemandirian dalam pilihan-pilihan itu. Hanya dia yang mandiri lah yang bisa memilih. Setidaknya kita harus memiliki – dan merasa memiliki – pilihan kita sendiri. Sebab jika tidak, pilihan-pilihan yang dikendalikan orang lain, pihak lain, atau kekuatan lain akan menyurutkan kita pada kesulitan-kesulitan tak berkesudahan.

Mengapa? Ketika tak ada rasa memiliki pada pilihan sendiri, kita jadi terseret arus, terbawa gelombang, dan kita tak mampu melawan hingga tersempyak-sempyak ke batu karang. Kita selalu tak siap menghadapi hal baru. Hatta selalu koyak dan pedih. Juga pilu.

Alkisah, seorang pemuda dihinggapi gelisah di saat kuliah. Godaan yang mengancam agama dan kehormatannya terasa kian keras mendera. Puasa dan beraktifitas positif telah dilakukannya. Tetapi kadang justru itu! Aktivitas da’wah justru mempertemukannya dengan si jilbab biru yang selalu menunduk malu, si jilbab hitam yang elegan dan anggun, juga si jilbab coklat yang manis, lugu, dan lucu. Hatinya kian gerah. Maka kepada ayahanda dan ibunda dikuatkannya hati untuk berkata, “Pak.. Bu.. Boleh nggak saya nikah sekarang..?”

Tentu saja ada empat mata yang terbelalak di ruang keluarga selepas Isya’ hari itu. “Heh.. Ngomong apa kamu? Nikah! Nikah! Gundhulmu itu!”
Kepalanya menunduk.
“Mbok ya sadar, Nak..”, kali ini terdengar lebih lembut. Sang ibu. “Kama itu kuliah masih semester berapa?! Bapak dan ibu nggak pernah melarang kamu ikut-ikutan aktivitas.. Apa itu namanya..ee
“Da’wah..”
“Iya da’wah!! Tapi jangan aneh-aneh! Nikah saat kuliah,
memangnya anak isterimu mau dikasih makan apa? Dipikirkan yang dalam ya Nak.. Jangan bicarakan lagi masalah nikah sebelum kamu lulus ya!”
“Tapi, banyak godaan Bu.. Nggak kuat!”
“Puasa, puasa!! Katanya belajar agama, gitu aja nggak ngerti.”
“Sudah Pak.. Sudah..”, sang ibu menarik tangan ayahnya. Lalu dia ditinggalkan. Sendiri. Tergugu. Wajahnya panas. Matanya berkaca-kaca. Hatinya belah.

Baca juga :   Agus Yudhoyono Harap Masyarakat Tidak Terprovokasi Isu Agama

Beberapa semester berlalu, dan esok hari adalah wisuda yang dinanti-nanti. Maka malam ini adalah saatnya bicara, begitu sang pemuda bergumam dalam hati. “Pak, saya sudah lulus.. tentang pernikahan..?”
“Eh, lulus itu artinya kamu pengangguran baru!”
“Iya Nak.. Kamu konsentrasi cari kerja dulu ya..”
Dan ia tak berkata-kata lagi. Harapan yang berkecambah telah tersiram air panas.
Waktu berganti. Dan kini pekerjaan sudah dalam genggaman.
“Pak.. Bu.. Emm, saya kan sudah kerja sekarang..”
“Kerja apa? Serabutan gitu! Tidak nyambung dengan kuliahmu! Hh.. Dengarkan! Bapak mau bicara baik-baik. Kamu cari pekerjaan yang mapan dulu, baru kita bicarakan pernikahan!”

Pucuk daun harapan kembali pupus, hangus terbakar matahari.
Tetapi Allah Maha Kuasa. Beberapa waktu berjalan, pekerjaan di sebuah instansi bergengsi pun didapat. Dan bersi-seri wajah pemuda itu menghadap, “Pak.. Saya sudah bekerja seperti harapan Bapak..”
“Lha, kamu itu berangkat kerja saja masih pakai motor yang
Bapak belikan. Nanti, ngomongin nikahnya kalau kamu sudah punya mobil..”

Baca juga :   411 Telah Dilewati, 212 Telah Terlaksana, 1212 Baru Dilalui, Selanjutnya Mari Songsong 247!

Dan beberapa waktu kemudian. “Pak.. Bu.. Saya sudah punya mobil..”
“Tapi nanti mau tinggal di mana Nak..? Coba ya, kamu usahakan punya rumah dulu..”, kali ini sang ibunda yang lembut hati. Yang ia merasa hilang daya dan lumer sumsum kalau beliau sudah bicara. Ia menyerah lagi.

Hingga suatu hari.. “Pak.. Bu.. Rumahnya sudah jadi!!! Jadi, kapan saya dinikahkan?”
Bapak dan ibunya saling berpandangan.. Dan mereka menangis, “Aduh Nak.. Umurmu sudah 55.. Siapa yang mau?”

Nah! Masukkan kisah ini ke dalam daftar hal-hal yang tak boleh terjadi di jalan cinta pejuang. Saya tak meminta Anda menjadi penentang orangtua. Tidak. Ini bukan soal patuh atau tak patuh, taat atau membangkang. Bukan di situ substansi masalahnya.

Masalahnya ada pada kemandirian kita. Bangunlah ia sejak kini, agar kita memiliki kuasa pada pilihan-pilihan kita sendiri. Jadilah anak yang berbakti dan juga mandiri. Mulailah dari visi yang jelas, masa depan yang terencana, kedewasaan, dan keberanian bersikap.

Begitulah jalan cinta para pejuang, Saudaraku..
Di jalan cinta para pejuang kita selalu berkelana dalam pilihan.
Dan itu butuh keberanian.

 

Dikutip dari buku “Jalan Cinta Para Pejuang”, Karya Salim A Fillah

LEAVE A REPLY