(Foto: Albalad)

Majalahayah.com, Direktur Jenderal Keamanan Federal (FSB), Aleksandr Bortnikov mengatakan bahwa ISIS hampir dikalahkan saat mencoba membangun kekhilafahan mereka di Irak dan Suriah. Meski begitu, dengan tekadnya, ISIS mencoba membentuk jaringan teroris baru ke lingkup global.

“para pemimpin IS dan kelompok teroris internasional lainnya telah menentukan tujuan strategis global mereka sebagai penciptaan jaringan teroris baru di seluruh dunia,” kata Bortnikov pada sebuah pertemuan dinas keamanan dan penegak hukum dari Rusia dan 73 negara lainnya di Kota Krasnodar, dilansir dari RT Question More.

Bortnikov menjelaskan bahwa ekspansi tersebut dilihat melalui serangan yang tidak hanya menimpa negara yang dilanda perang, seperti Irak dan Suriah, tetapi juga Spanyol, Turki, Rusia, Swedia, Finlandia dan Inggris.

Selama beberapa bulan terakhir para teroris kehilangan Irak dan Suriah, kini “militan sengaja menyebar di luar Timur Tengah, berkonsentrasi di daerah yang tidak stabil dengan tujuan menciptakan titik api baru” catat Bortnikov.

Yang terpenting dari wilayah ini adalah Afganistan, lanjut Bortnikov, dimana IS telah mendapat pijakan di daerah tertentu dan mencoba menyebar pengaruh ke India, China Iran, dan Asia Tengah.

Selain teroris yang memuncul di Yaman, Afrika, dan Asia Tenggara, Bortnikov mengungkapkan bahwa teror tidak hanya terjadi di dunia nyata, tapi juga online. Tidak hanya menyebar propaganda dan menemukan anggota baru, mereka juga membentuk ‘divisi maya’, yang nantinya dipergunakan menyerang divisi utama.

Terkait ancaman tersebut, kepala FSB itu memperingatkan bahwa kerjasama tingkat dunia amatlah dibutuhkan. “Mengingat bahwa banyak serangan komputer bersifat internasional, efektivitas penghitungannya sangat ditentukan oleh organisasi dan kerjasama agen keamanan nasional yang bereaksi terhadap insiden tersebut,” tuturnya.

Melihat bahwa perangkat lunak dalam bentuk malware, spyware, virus, dan program lainnya yang bisa menjadi media penyusup, Bortnikov mengusulkan adanya hukum internasional.

“mempertimbangkan untuk membentuk kerangka hukum internasional untuk melarang pengembangan perangkat lunak berbahaya,” tambahnya. Ucapan Bortnikov tersebut muncul setelah sejumlah serangan cyber global serius pada sistem komputer dibeberapa negara.

Pada bulan Mei, lebih dari 250.000 sistem komputer dari 150 negara di seluruh dunia, termasuk Rusia, Amerika Serikat, Inggris, India, Brazil dan Jepang, terinfeksi dengan uang tebusan WannaCry.

Sebulan kemudian WannaCry diikuti oleh serangan serupa namun lebih kecil dengan menggunakan alat perusak Petya, yang dikatakan telah mempengaruhi lebih dari 20.000 orang di seluruh dunia.