Majalahayah.com, Jakarta – Pembalap legenda MotoGP Valentino Rossi baru saja menginjak usia 40 tahun 16 Februari lalu. Meski jadi pebalap paling senior di deretan pebalap MotoGP, Rossi tetap ingin tampil kompetitif bersama tim dan rival-rivalnya.

Tak ada hal yang paling ingin dikejar Valentino Rossi, pembalap Monster Energy Yamaha selain gelar ke-10 di MotoGP. Terakhir memenangkannya pada 2009 lalu, Rossi benar-benar ingin menuntaskan ambisi gelar ke-10 MotoGP itu di musim ini.

Terus kompetitif meski sudah tidak muda lagi, Rossi mengklaim kekalahan dramatis dari Nicky Hayden musim 2006 membuktikan bahwa dirinya pantas mengklaim gelar juara dunia kedelapan.

Kondisi ini membuat Rossi ingin terus memunculkan motivasi dalam dirinya. Dikutip dari wawancaranya dengan tabloid Gazzetta dello Sport, Rabu (20/2/2019), Rossi mengungkapkan hal yang membuat dirinya tancap gas tahun ini. “Memenangi gelar juara ke 10 adalah mimpi yang saya masih percayai sampai saat ini. Tapi itu juga suatu penyesalan besar karena saya pantas mendapatkanya,” ucap Rossi.

“Saya kehilangan dua gelar (2006 dan 2015) pada balapan terakhir, dan saya juga jadi runner-up selama beberapa kesempatan (2000, 2014, dan 2016), karier saya pantas mendapatkan 10 gelar. Karena ini juga saya masih mencoba.”

The Doctor mengaku membuat kesalahan krusial, membuatnya kehilangan gelar musim 2006. Selain itu, ia juga menyebut beberapa keputusannya di masa lalu, khususnya saat berpindah dari satu pabrikan ke pabrikan lainnya.

“Valencia 2006, jika saya tetap tenang dan tidak terjatuh, saya bisa menang. Kemudian, ada beberapa hal saya tidak tahu apakah itu blunder atau tidak, pindah ke Ducati, atau memilih Yamaha ketimbang terus menang bersama Honda,” katanya.

“Kemudian pada akhir 2015, saat saya kehilangan gelar (dikalahkan Lorenzo, dan lagi-lagi di Valencia). Namun, kesalahan sebenarnya adalah tahun 2006, saya bisa saja menang.”

Meski umur semakin bertambah, Rossi sama sekali tidak menutup peluang kontrak baru dan tetap balapan setelah 2020. Apalagi, dia mendapatkan dukungan penuh untuk terus membalap hingga usia 46 tahun.

“Sejujurnya, saya tidak tahu. Ini bisa jadi yang terakhir, mungkin tidak. Kita berbicara tentang bagaimana sesuatu akan selesai bahkan sebelum dimulai,” ujarnya.

Meski kini era MotoGP sudah berganti namun kita dapat melihat sejarah yang sudah dicapai oleh Valentino Rossi yang hinnga saat ini belum pernah dicapai oleh pembalap manapun.

Berikut 4 pencapaian Valentino Rossi yang belum terpecahkan oleh pembalap lain yang kita rangkum dari bola.com

1. Rekor Bersama Yamaha

Valentino Rossi saat ini tercatat menguasai empat rekor Yamaha di MotoGP, yaitu gelar terbanyak, jumlah kemenangan terbanyak, kemenangan terbanyak dalam semusim, dan kemenangan beruntun terbanyak.

Rossi membela Yamaha dalam dua periode, yaitu pada 2004-2010 dan 2013 sampai sekarang. Selama 11 musim di Tim Garpu Tala, Rossi merebut empat gelar juara pada 2004-2005 dan 2008-2009 serta total mengoleksi 55 kemenangan. Dalam rentang waktu tersebut, Rossi pernah meraih 11 kemenangan dalam semusim pada 2005. Rossi paling banyak meraih lima kemenangan beruntun dalam semusim, yaitu pada 2005 dan 2008.

Rekor Rossi bersama Yamaha ini tak mungkin bisa dilewati Marquez jika tak pindah tim. Kontrak Rossi dan Marquez di tim masing-masing akan habis pada 2018. Tak ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi di masa depan. Sebagai catatan, Rossi menyeberang ke Yamaha setelah sukses meraih tiga gelar beruntun bersama Honda. Apakah Marquez bersedia mengikuti jejak Rossi?

2. Gelar dan Kemenangan Beruntun dengan Pabrikan Berbeda

Valentino Rossi merebut titel kelas primer (500cc/MotoGP) bersama dua pabrikan berbeda, yaitu Honda dan Yamaha. Bersama Honda, The Doctor meraih tiga gelar beruntun pada 2001-2003. Sementara bersama Yamaha, Rossi empat kali jadi juara dunia pada 2004-2005 dan 2008-2009.

Artinya, dua titel beruntun Rossi pada 2003 dan 2004 diraih dengan dua pabrikan berbeda. Rossi juga menang pada balapan terakhir bersama Honda di Valencia pada 2003 dan menjuarai balapan pertama bareng Yamaha di Afrika Selatan pada 2004.

Rossi juga pernah membela Ducati pada 2011-2012. Namun, selama dua tahun di pabrikan asal Italia itu, Rossi gagal jadi juara dunia.

Untuk kategori ini, Marquez lagi-lagi harus berani pindah tim. Saat ini, seluruh gelar Marquez di MotoGP diraih bersama Honda.

3. Juara Dunia dengan 4 Motor Berbeda

Bukan tanpa alasan Valentini Rossi punya julukan The Doctor. Pasalnya, dia terbukti bisa juara dengan motor berbeda dari pabrikan yang berbeda pula.

Pada 2001, Rossi juara dengan motor Honda NSR500 yang memiliki kapasitas mesin 500cc. Saat kelas 500cc berubah menjadi MotoGP pada 2002, Rossi merebut gelar dengan menggeber motor RC211V 990cc.

Saat sudah menyeberang ke Yamaha, gelar Rossi juga didapat dengan dua motor berbeda. Pada 2004-2005, dia jadi juara dengan motor YZR-M1 990cc, sedangkan saat meraih titel pada 2008-2009 motornya adalah YZR-M1 800cc.

Artinya, Rossi cuma belum menjadi juara dunia dengan motor 1.000cc yang mulai dipakai di MotoGP pada 2012. Namun, dia pernah menang dengan motor tersebut.

Di sisi lain, Marquez meraih kemenangan plus gelar hanya dengan satu motor, yakni RC213V 1.000cc. Kalau MotoGP tak melakukan perubahan regulasi soal kapasitas mesin motor, maka pencapaian Rossi yang juara dengan empat motor berbeda tak mungkin bisa disamai oleh Marquez.

4. Juara Dunia di 2 Era

Bukan cuma jago menaklukkan berbagai tipe motor, Valentino Rossi juga mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Hal itu membuktikan bahwa The Doctor punya kemampuan balap yang mumpuni dan ditunjang pengetahuan soal motor.

Saat merebut titel 500cc bersama Honda pada 2001, konfigurasi mesin motor NSR500 yang digeber The Doctor masih dua tak. Teknologi kuda besi tersebut belum secanggih sekarang. Karena itu, hasil balapan sangat ditentukan kemampuan si pebalap.

Rossi ternyata tetap dominan saat kelas 500cc berubah jadi MotoGP pada 2002 dan memakai motor empat tak yang teknologinya sudah lebih maju, terutama elektronik, yang membuat motor lebih jinak sehingga lebih aman ketimbang motor 500cc dua tak.

Marquez hanya merasakan era motor empat tak. Kalau tak ada perubahan lagi di MotoGP, maka pencapaian Rossi tak akan bisa diulang. Namun, pada 2015 Marquez pernah mengatakan tak masalah jika MotoGP kembali ke era dua tak 500cc asal semua pebalap memakai motor yang sama.