Inilah Orang yang Terhalang dari Mendapat Kebaikan dan Rezeki

Inilah Orang yang Terhalang dari Mendapat Kebaikan dan Rezeki

195
0
SHARE
Orang yang terhalang mendapat kebaikan dan rezeki.
Ilustrasi Orang yang terhalang mendapat kebaikan dan rezeki. Sumber www.yosea.net

Majalahayah.com – Manusia merupakan tempat tampungan kebaikan dan keburukan. Di dalam dirinya tersimpan potensi yang mampu membawanya menjadi mulia namun bisa juga menjadikan dirinya hina. Sebagaimana apa yang tertuang dari perbuatannya bisa menimbulkan pahala dan dosa, layaknya dua sisi mata uang logam yang masing-masing memiliki konsekuensi.

Banyak orang yang tidak tahu bahwa pengaruh dosa terhadap kehidupan seseorang adakalanya memang membuat yang bersangkutan terhalang dari mendapatkannya secara nyata dan adakalanya terhalang dari mendapatkan berkah dan cahayanya.

Benarlah apa yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas r.a dalam salah satu atsarnya yang menyebutkan: “Sesungguhnya kebaikan itu mempunyai pengaruh cahaya pada wajah, cahaya dalam kalbu, keluasan dalam rezeki, dan kecintaan dalam hati makhluk. Adapun sesungguhnya keburukan itu mempunyai pengaruh kegelapan pada wajah, kegelapan dalam kalbu, kesempitan dalam rezeki, dan kebencian dalam kalbu makhluk.”

Salah seorang ulama mengatakan bahwa istilah anna’mah (kenikmatan) dengan nun yang difatahkan adalah hal yang sama-sama dimiliki, baik oleh manusia maupun oleh hewan. Adapun anni’mah (kesenangan) dengan nun yang dikasrahkan adalah suatu hal yang dapat dijadikan sarana untuk membantu seorang hamba guna melakukan ketaatan kepada Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Membalas.
Sebagian orang ada yang angkuh dengan kesenangan yang dimilikinya, tidak menghargainya, dan bersikap sombong karenanya, serta tidak menggunakannya untuk ketaatan kepada Allah SWT. Oleh karena itulah, ia terhalang dari mendapatkan rezeki, karena rezeki itu tidaklah dicari, kecuali dari Allah SWT.

Ibnu Taimiyyah menceritakan bahwa Abul Qasim Al-Maghribi pernah mengatakan kepadanya: “Tunjukkanlah kepadaku suatu amal yang dapat mendekatkan diriku kepada Allah dan sebuah kitab sesudah Al Qur’an yang dapat kujadikan pegangan dalam ilmu Hadits, dan jalan manakah yang lebih utama untuk mencari rezeki.”

Ibnu Taimiyyah menjawab: “Jalan yang paling utama untuk mencari rezeki adalah bertawakkal kepada Tuhan Yang Tunggal lagi Esa serta menyerahkan urusan kepada-Nya.”

Perhatikan jawaban Ibnu Taimiyyah yang bijak lagi alim ini. Dia memandang bahwa tiada yang memberi rezeki selain Allah dan tiada yang memberi karunia selain Dia. Oleh karena itu, hendaklah rezeki ini dijadikan sebagai sarana untuk taat kepada-Nya.

Dalam hal ibadah sesungguhnya Allah SWT tidak membutuhkan shalat kita, tidak butuh sujud dan ruku’ kita. Akan tetapi, shalat tersebut bermanfaat bagi kita untuk membuka pintu-pintu kebaikan sebagaimana yang ditunjukkan oleh Allah Rabb semesta alam.

Betapa banyak orang yang terhalang dari mendapatkan kebaikan ketika dia ketiduran dari mengerjakan shalat subuh. Sebagaimana yang terdapat dalam hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَبِيْثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ

“Orang malas yang jiwanya buruk.” (HR. Bukhari No. 1142 dan Muslim no. 776)

Ditutuplah pintu-pintu kebaikan dan ditutuplah pintu-pintu rezeki ketika dia terlewat mengerjakan shalat subuh. Permulaan hari, itulah kunci kebaikan, kesuksesan, kunci turunnya rezeki dan keberuntungan.

Barangsiapa terhalang dari mengerjakan shalat di permulaan hari, lalu apa yang dia harapkan di hari tersebut? Shalat, itulah pembuka dari berbagai kewajiban dalam Islam lainnya.

Wahai saudara-saudara yang budiman, terhalang mendapatkan rezeki merupakan pengaruh yang paling besar dari melakukan dosa dan maksiat. Allah SWT berfirman:

“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raaf: 96)
Akan tetapi, mereka tidak mau beriman dan tidak mau menerima petunjuk. Oleh karena itulah, Allah menutup semua pintu keberkahan dan menghalangi mereka dari meraih kebaikan.

Akhirnya, mereka tidak mendapatkan kemuliaan dengan memiliki harta benda yang berlimpah banyaknya dan tiada kebaikan pada kenikmatan yang mereka bergelimang di dalamnya jika semuanya itu tidak digunakan untuk ketaatan kepada Allah SWT.

LEAVE A REPLY