Majalahayah.com, Jakarta – Islam tak hanya mengatur hubungan kita dengan Allah SWT namun juga mengatur hubungan kita dengan sesama manusia, bahkan dengan sesama makhluk seperti hewan dan tumbuhan. Tak terkecuali, Islam juga mengatur hubungan dengan tetangga.

Di tengah pandemi corona ini, hak-hak tetangga kurang mendapat perhatian. Oleh karena itu ada baiknya kita lebih perhatian kepada tetangga di tengah himbauan physical distancing

Dilansir dari About Islam, Jumat, (3/4/2020), Ustadzah Ameena Blake mengatakan, meskipun situasi saat ini kita diminta physical distancing, sebaiknya kita juga memikirkan nasib tetangga kita.

Tetangga kita mungkin lansia, seorang janda dengan beberapa anak, seorang ibu yang tinggal sendirian, orang yang sakit.

“Pastikanlah kondisi mereka baik-baik saja, termasuk memiliki cukup makanan di lemari mereka. Pastikan juga mereka memiliki obat-obatan, setidaknya paracetamol,” ujar Ustadzah Ameena.

Jika tetangga tak punya makanan, sebagai umat Islam sudah seharusnya membagikan makanannya kepada tetangga. Allah pasti akan menjamin rejekinya.

Rasulullah SAW menekankan pentingnya berbuat baik kepada tetangga. Rasulullah bersabda,

“Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tetangga.” (HR Abu Dawud).

Kemudian, disampaikan oleh Rasulullah SAW, “Malaikat Jibril senantiasa mewasiatkan tetangga kepadaku, sampai-sampai aku mengira bahwa Jibril menetapkan hak waris bagi tetangga (HR Malik).

Lebih lanjut, Rasulullah SAW memaparkan hak-hak tetangga,

أَتَدْرُونَ مَا حَقُّ الْجَارِ؟ إِنِ اسْتَعَانَكَ أَعَنْتَهُ، وَإِنِ اسْتَقْرَضَكَ أَقْرَضْتَهُ، وَإِنِ افْتَقَرَ عُدْتَ عَلَيْهِ، وَإِنْ مَرِضَ عُدْتَهُ، وَإِنْ مَاتَ شَهِدْتَ جَنَازَتَهُ، وَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ هَنَّأْتَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ مُصِيبَةٌ عَزَّيْتَهُ، وَلَا تَسْتَطِيلَ عَلَيْهِ بِالْبِنَاءِ، فَتَحْجُبَ عَنْهُ الرِّيحَ إِلَّا بِإِذْنِهِ، وَإِذَا شَرَيْتَ فَاكِهَةً فَاهْدِ لَهُ، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَأَدْخِلْهَا سِرًّا، وَلَا يَخْرُجْ بِهَا وَلَدُكَ لِيَغِيظَ بِهَا وَلَدَهُ، وَلَا تُؤْذِهِ بِقِيثَارِ قَدْرِكَ إِلَّا أَنْ تَغْرِفَ لَهُ مِنْهَا أَتَدْرُونَ مَا حَقُّ الْجَارِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا يَبْلُغُ حَقُّ الْجَارِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّنْ رَحِمَ اللهُ

Artinya, “Apakah kalian tahu hak tetangga? Jika tetanggamu meminta bantuan kepadamu, engkau harus menolongnya. Jika dia meminta pinjaman, engkau meminjaminya. Jika dia fakir, engkau memberinya. Jika dia sakit, engkau menjenguknya. Jika dia meninggal, engkau mengantar jenazahnya. Jika dia mendapat kebaikan, engkau menyampaikan selamat untuknya. Jika dia ditimpa kesulitan, engkau menghiburnya. Janganlah engkau meninggikan bangunanmu di atas bangunannya, hingga engkau menghalangi angin yang menghembus untuknya, kecuali atas izinnya. Jika engkau membeli buah, hadiahkanlah sebagian untuknya. Jika tidak melakukannya, maka simpanlah buah itu secara sembunyi-sembunyi. Janganlah anakmu membawa buah itu agar anaknya menjadi marah. Janganlah engkau menyakitinya dengan suara wajanmu kecuali engkau menciduk sebagian isi wajan itu untuknya. Apakah kalian tahu hak tetangga? Demi Dzat yang menggenggam jiwaku, tidaklah hak tetangga sampai kecuali sedikit dari orang yang dirahmati Allah,” (HR At-Thabarani).

Betapa menakjubkannya ini! Jadi kita juga termasuk khalifah di bumi dan kita memiliki tanggung jawab terhadap orang-orang di sekitar kita seperti tetangga, serta diri kita sendiri dan keluarga kita sendiri.

Tetangga sangat penting bagi kita. Sebab mereka juga yang pertama menolong kita, saat kita membutuhkan bantuan.