Majalahayah.com, Jakarta – PT Regio Aviasi Industri (RAI) pengembang pesawat R80 menjelaskan, untuk mengembangkan industri penerbangan, pesawat terbang angkut (large transport airplane) masih menjadi penggerak utama industri, sementara drone hanya pelengkap industri.

Sebelumnya, pemerintah tidak memasukkan proyek pengembangan pesawat R80 dan N245 dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) dan menggantikan dengan drone.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengumumkan memasukkan tiga proyek pengembangan teknologi drone senilai Rp27,17 triliun dalam daftar PSN. Proyek itu menggantikan pengembangan pesawat R80 dan N245 peninggalan BJ Habibie yang sebelumnya masuk dalam PSN.

Dalam keterangan pers, RAI menyebut pengembangan drone merupakan pelengkap dari industri penerbangan. Alat ini juga akan menjadi arah pengembangan teknologi masa depan menggunakan prinsip otomasi dan sistem propulsi listrik.

Meski demikian, RAI tidak mempermasalahkan keputusan pemerintah untuk mengeluarkan proyek pengembangan pesawat terbang regional turboprop R80 dari Proyek Strategis Nasional (PSN). Sebab, RAI meyakini pemerintah akan tetap mendukung pesawat R80 yang direncanakan oleh mantan presiden B.J. Habibie.

“Pemerintah akan tetap mendukung R80,” kata Humas PT RAI Justin Djogo dalam keterangan tertulisnya, Jumat (5/6/2020).

PSN tahun ini didorong untuk pengembangan proyek-proyek infrastruktur dan pengembangan kawasan industri/pariwisata, serta proyek pendukung pemulihan ekonomi pasca Covid-19.

Kedua proyek pesawat itu, akan dialihkan ke Prioritas Riset Nasional (PRN) di bawah Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN).

Padahal menurut RAI, industri dirgantara bernilai strategis ekonomi yang sangat besar. Industri ini dinilai bisa membantu untuk mendukung visi Indonesia menjadi lima pelaku ekonomi terbesar dunia pada 2045.

Untuk menjadi lima besar ekonomi dunia perlu pertumbuhan ekonomi rata-rata di atas 5 persen per tahun.

“Hal ini bisa dilakukan jika Indonesia membangun industri berbasis teknologi dan inovasi, selain mengandalkan komoditas sumber daya alam,” tulisnya.”

“Ini yang menjadi pesan utama kehadiran program pengembangan pesawat R80 di Indonesia tercinta ini.”

Selain itu, dia mengatakan nilai strategis yang diberikan oleh industri dirgantara nasional adalah memberdayakan dan mengembangkan SDM

“Dengan diproduksinya pesawat R80 di dalam negeri, maka akan memberikan dampak positif dan manfaat strategis bagi perekonomian nasional, daripada kita harus membelinya dari luar negeri,” ujarnya.

Di sisi lain, Justin mengatakan R80 dimaksudkan untuk dapat mengisi pasar domestik dan regional menggantikan pesawat asing. Selain itu, R80 diklaim meregenerasi kemampuan teknologi bangsa yang sempat tertunda karena perombakan PTDI di tahun 2000an dan menjadi salah satu ujung tombak pertumbuhan ekonomi.

PT RAI juga menyampaikan terima kasih kepada kementerian dan lembaga yang telah memberi dukungan selama fase konseptual program R80, seperti Bappenas, Kemenlu, hingga Kemenristek.

“Kami juga berterima kasih kepada masyarakat yang telah mendukung melalui jalur crowd funding dengan menggunakan platform kitabisa.com,” ujar Justin.