Majalahayah.com, Jakarta – Bayi yang lahir prematur sebelum usia kehamilan 37 minggu membutuhkan perawatan lebih. Pasalnya, organ tubuh bayi prematur belum berkembang sempurna dan bisa menyebabkan infeksi hingga kematian.

Sepanjang 2010, sekitar 15 persen bayi di Indonesia lahir secara prematur. Lantas, bagaimana cara menghindari kelahiran prematur?

Dr. dr. Rinawati Rohsiswatmo, Sp. A (K), dari Rumah Sakit Pondok Indah mengatakan cara menghindari kelahiran prematur sebenarnya sederhana dan cukup mudah, yakni dengan mengatur asupan gizi di masa kehamilan.

“Yang paling gampang dan paling penting (dalam menghindari prematur) itu makanan. Jadi kalau mau makan itu harus lengkap, empat sehat lima sempurna. Karena yang terpenting dalam prematur adalah kelengkapan gizi,” jelas Rina dikutip dari Kompas, Sabtu (24/11/2018).

Rina menjelaskan, ibu hamil yang kekurangan asupan gizi sangat rentan mengalami preeklampsia atau sindrom yang ditandai dengan tekanan darah tinggi, kenaikan kadar protein di dalam urin (proteinuria), dan pembengkakan pada tungkai (edema).

Preeklampsia merupakan kondisi pembentukan plasenta yang tidak sempurna, salah satunya karena kekurangan asupan gizi selama kehamilan.

Hal ini mengganggu pertukaran metabolisme dan gas antara ibu dan janin, serta menghambat pertumbuhan hormon pada janin.

Jika kondisi seperti ini terjadi, tindakan yang harus segera diambil adalah melahirkan lebih cepat karena dapat membahayakan janin dan ibunya.

Mengingat ada sekitar lima hingga delapan persen ibu hamil yang mengalami preeklampsia, maka kita harus paham benar bahwa asupan gizi bagi ibu hamil adalah hal yang sangat penting.

“Jadi makanan selama kehamilan harus makan yang bagus. Bahkan, sebelum melakukan program hamil, sebaiknya perempuan sudah membangun pola konsumsi yang baik supaya asupan gizinya tepat untuk calon bayi,” jelas Rina.

“Nutrisi seperti protein bisa didapat di telur, susu, daging, tahu, dan tempe. Lalu micro nutrient bisa diperoleh dari sayuran. Kemudian ditambah lagi susu, itu jangan lupa,” sambungnya.

Rina menegaskan, selain mengatur asupan gizi selama kehamilan, ibu hamil wajib melakukan kontrol rutin ke layanan kesehatan untuk melihat grafik perkembangan janin.

“Biasanya ibu suka lupa kontrol, ini bahaya sebenarnya. Perlu dilihat itu tren tumbuhnya, kalau semua diperhatikan dengan baik, calon bayi akan jadi anak yang berkualitas. Jadi menolong bayi prematur itu bukan hanya untuk hidup tapi memiliki kualitas hidup yang baik. Ini dimulai sejak dini. Enggak boleh terlambat,” pungkas Rina.