Komisi Perlindungan Anak Indoensia (KPAI). (Foto: MA/Dini)

Majalahayah.com, Jakarta – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) angkat bicara persoalan kasus masuknya 1,622 ton narkoba ke Tanah Air Indonesia pada Jumat 23 Februari 2018 di Pelabuhan Sekupang, Batam.

Terkait hal tersebut, timbulnya kekhawatiran jika narkoba menyebarluas keberbagai kalangan, terutama pada anak. Oleh karenanya, KPAI menyatakan sikap tegas kepada orang tua, Lembaga Pendidikan serta Penegak Hukum bahwa bahaya narkoba pada anak bisa hadir melalui faktor internal maupun eksternal.

Seperti yang dipaparkan oleh Rita Pranawati selaku Wakil Ketua KPAI bahwa faktor internal hadir apabila anak kurang mendapatkan kasih sayang sehingga mencari jalan keluar yang tidak tepat, misalnya narkoba.

“Bagi para orang tua sering tidak menerima anak yang terkena narkoba dan menyalahkan anak semata, padahal pada nyatanya anak menggunakan narkoba disebabkan situasi yang tidak nyaman di rumah,” papar Rita Pranawati saat di hubungi Majalahayah.com (26/2).

Selain faktor internal, Rita menyampaikan adanya keterkaitan faktor eksternal. Ia memberi gambaran misalnya anak disuruh oleh seseorang untuk menyampaikan barang.

“saat anak menyampaikan barang, ia tak mengetahui isi dari barang tersebut adalah narkoba. Karena ingin berbuat baik anak ingin mengatarkan barang tersebut. Tak hanya itu, ada juga jajanan yang mengandung narkoba dijual disekitar rumah,” tambahnya.

Untuk menghindari hal tersebut, KPAI telah melakukan advokasi pencegahan baik melalui pengasuhan, pihak sekolah, dan pengawasan proses hukum jika anak menjadi tersangka.

Tak hanya itu, lanjut Rita “Kamis, 22 Februari 20178, KPAI menyerahkan MoU (Memorandum of Understanding) dengan BNN (Badan Narkotika Nasioal) untuk penguatan pencegahan hingga pendampingan proses hukum anak,” tuturnya.

Dalam meminimalisir anak menjadi korban Internal maupun eksternal narkoba, KPAI menghimbau kepada orang tua agar anak dibekali dengan pengetahuan bahwa selalu ada bahaya disekelilingnya. Dan harapan KPAI bagi lembaga pendidikan harus terus mengupayakan dan mengedukasi anak-anak, dengan cara pendekatan yang komunikatif, jangan sampai anak lari dari masalah.

Diakhir dialog Rita menyampaikan bahwa penegak hukum harus maksimal dalam menyelesaikan tugas terlebih prihal anak.

“Jika anak menjadi pelaku, maka harus menjalankan sistem peradilan pidana anak, karena narkoba peredarannya dari orang ke orang. Oleh karenanya, jangan sampai menunggu adanya korban dari keluarga terdekat baru peduli pada narkoba,” pungkasnya