Ilustrasi ilmu hidupnya hati. Sumber www.fearthedunya.wordpress.com

 Majalahayah.comSegala sesuatu ada ilmunya dan membutuhkan ilmu, sehingga dalam berkehidupan lebih terarah serta lebih bijak dalam mengelola keputusan. Waktu yang dihabiskan dalam hidup membutuhkan banyak interaksi dengan ilmu, terlebih dalam melewati permasalahan dan ujian hidup.

Hal yang penting sebenarnya bukanlah mencari pengertian ilmu yang paling lengkap, melainkan mencari maknanya yang paling sesuai dengan pandangan hidup kita sebagai muslim. Hal yang paling penting karena ilmulah yang akan memandu setiap tindakan kita. Pemahaman yang salah tentunya akan menghasilkan tindakan yang salah.

Ibnul Qoyyim –rahimahullah– mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerupakan ilmu (wahyu) yang beliau bawa dengan hujan karena ilmu dan hujan adalah sebab adanya kehidupan. Hujan adalah sebab hidupnya jasad. Sedangkan Ilmu adalah sebab hidupnya hati. Hati sendiri dimisalkan dengan lembah. Sebagaimana hal ini terdapat pada firman Allah Ta’ala,

أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا

“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya.” (QS. Ar Ro’du: 17).”

Tingkatan Manusia dalam Mengambil Faedah Ilmu

Dalam hadis ini juga Rasulullah SAW menghimbau kepada umatnya agar mempelajari ilmu pengetahuan. Terdapat kandungan dalam hadits ini bahwa manusia diumpamakan ibarat tanah yang bermacam-macam karakternya:

Pertama, ada yang pandai, mengamalkan ilmu dan mengerjakannya kepada orang lain. Dia tak ubahnya seperti bumi yang subur, yang bisa menumbuhkan tumbuh-tumbuhan sehingga bermanfaat kepada yang lainnya.

     Kedua, memiliki banyak ilmu tetapi tidak mau mengamalkannya, hanya saja mau mengajarkannya kepada orang lain. Dia tak ubahnya seperti tanah yang tandus yaitu bisa menampung air sehingga memberi manfaat kepada manusia.

     Ketiga, mengetahui ilmu tetapi tidak memelihara juga tidak mengamalkan serta mengajarkannya kepada orang lain. Dia seperti tanah yang keras dan datar yang tidak bisa menampung air juga tidak bias menumbuhkan tumbuh-tumbuhan.

Keutamaan Orang yang Berilmu

Rasulullah SAW. menjelaskan bahwa mencarinya merupakan suatu kewajiban bagi setiap Muslim. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu (agama) itu wajib bagi setiap Muslim.” (HR Ibnu Majah dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)

Di antara keutamaan orang yang berilmu adalah sebagai berikut.

  • Dimudahkan jalannya menuju surga

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW. bersabda:

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Dan barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Muslim dan yang lainnya)

  • Para malaikat ridha apa yang dikerjakannya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ خَارِجٍ يَخْرُجُ مِنْ بَيْتِهِ يَطْلُبُ الْعِلْمَ إِلَّا وَضَعَتْ لَهُ الْمَلائِكَةُ أَجْنِحَتَهَا، رِضًا بِمَا يَصْنَعُ

“Tidaklah seseorang itu keluar dari rumahnya untuk menuntut ilmu, kecuali malaikat pasti meletakkan (mengepakkan) sayap-sayapnya karena ridha dengan apa yang dilakukannya.” (HR At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)

  • Mendapatkan pahala haji secara sempurna

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُرِيدُ إِلَّا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمَهُ كَانَ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حَجَّتُهُ

“Barangsiapa yang pergi menuju masjid, dia tidak bermaksud kecuali untuk belajar kebaikan atau untuk mengajarkannya, maka baginya pahala seperti berhaji secara sempurna.” (HR Ath-Thabrani)

  • Kedudukannya seperti orang-orang yang berjihad di jalan Allah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ جَاءَ مَسْجِدِي هَذَا لَمْ يَأْتِهِ إِلَّا لِخَيْرٍ يَتَعَلَّمُهُ أَوْ يُعَلِّمُهُ، فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَمَنْ جَاءَ بِغَيْرِ ذَلِكَ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الرَّجُلِ يَنْظُرُ إِلَى مَتَاعِ غَيْرِهِ

“Barangsiapa yang mendatangi masjidku ini (yaitu Masjid An-Nabawi) tidaklah ia datang kecuali untuk kebaikan yang akan dipelajari atau diajarkannya, maka ia berada di kedudukan seperti orang-orang yang berjihad di jalan Allah. Dan barangsiapa yang datang dengan niat selain itu, maka kedudukannya laksana seorang laki-laki yang hanya memandang-mandang barang (perbekalan) saudaranya.” (HR Ibnu Majah dan Al-Baihaqi).

Di dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ حَتَّى يَرْجِعَ

“Barangsiapa keluar (dari rumahnya) dalam rangka menuntut ilmu, maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang.” (HR At-Tirmidzi.)

An Nawawi –rahimahullah– mengatakan,

Dalam hadits ini, terdapat beberapa pelajaran di antaranya adalah permisalan petunjuk dan ilmu. Juga di dalamnya adalah terdapat pelajaran mengenai keutamaan ilmu dan orang yang mengajarkan ilmu serta dorongan untuk memiliki ilmu syar’i dan mendakwahkannya. Dalam hadits ini juga terdapat celaan terhadap orang yang menjauhi dari ilmu syar’i. Wallahu a’lam.” (Syarh Muslim, 15/48)