Ilustrasi pinjaman online. (Foto: bsmi.co.id)

Majalahayah.com, Saat mengetik kata kunci ‘pinjaman online’, atau ‘pinjaman dana mudah dan cepat’, atau ‘pinjam dana’ di Playstore, bermacam aplikasi online untuk mendapatkan dana segar akan muncul di HP Anda.

Namun, bijaklah dalam berutang. Kemudahan yang ditawarkan dalam meminjam dana bukan berarti segala kebutuhan dapat dibiayai dari pinjaman dana online cepat cair tersebut.

Tanpa kecermatan menggunakan aplikasi pinjaman online tersebut, bisa jadi Anda malah akan terjerat lilitan utang yang tak berkesudahan. Sebab, bunga pinjaman online sangat tinggi, sekitar 1 persen per hari atau 30 persen per bulan, jauh melebihi suku bunga kredit tanpa agunan di bank. Belum lagi bila telat membayar angsuran.

Ketika tak bisa menepati perjanjian pinjaman, maka yang terjadi selanjutnya mungkin adalah gali lubang tutup lubang dari satu aplikasi ke aplikasi yang lainnya.

Jamak terjadi penyelesaian utang online dengan cara itu dipilih oleh nasabah. Ingat, cara tersebut bukanlah cara yang tepat dalam menyelesaikan utang!

Keluhan Konsumen

Sejumlah keluhan diungkapkan para debitur yang bermasalah berkaitan dengan tata cara penagihan dari pihak ketiga yang disewa oleh perusahaan aplikasi pinjaman online.

Mereka tak tahan, bahkan ada yang sampai ingin mengakhiri hidup saking depresinya berhadapan dengan para debt colector pinjaman online.

Lantaran, para penagih utang tersebut bukan hanya menagih utang kepada debitur. Akan tetapi, juga menelpon dan mengirim pesan singkat lewat media sosial kepada rekan-rekan nasabah. Bahkan, atasan kerja dari debitur pun dihubungi. Tidak hanya mengabarkan tentang utang piutang, tetapi juga disertai dengan nada ancaman. Memalukan, bukan?

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta mengungkapkan, banyaknya laporan para debitur aplikasi pinjaman online yang akhirnya menjadi stres dan depresi karena dikejar-kejar oleh debt collector. Cara menagih seperti itu pun dianggap melanggar etika penagihan.

LBH Jakarta juga mengungkapkan bahwa dari laporan pengaduan yang masuk, terungkap bahwa satu orang debitur ternyata bukan hanya berutang pada satu aplikasi online.

“Jarang yang cuma satu-dua, bahkan sampai ada yang (terjerat) 35 aplikasi,” ungkap Pengacara Publik LBH Jakarta Jeannya Silvia Sari Sirait.

Bila tidak cermat dalam berutang melalui aplikasi online dari fintech, hal-hal seperti dipaparkan di atas akan Anda alami pula.