KPPPA

Majalahayah.com, Jakarta – Asdep Hak Sipil, Informasi dan Partisipasi Anak Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak, KPPPA, Darmawan, menyampaikan bahwa anak tidak bisa terlepas oleh teknologi, terutama gawai. Hal tersebut dikarenakan kurikulum pendidikan sudah terikat dengan teknologi.

“Jadi tidak bisa anak lepas teknologi, nanti mereka tidak mendapatkan pelajaran. Namun harus ada pendampingan, jangan sampai gawai, laptop, komputer berada dikamar anak, orang tua harus mengetahui jam pemakaian teknologi terhadap anak,” ucap Darmawan dalam Media Talk di Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), di Jakarta Pusat (18/05/2018).

Sudah sepatutnya orang tua mempunyai pemahaman bahwa tuntutan secara sepihak terhadap anak, tak dibenarkan. Hal ini dikarenakan anak tak mempunyai hak untuk memilih siapa orang tuanya.

Dalam hal ini, menurut Darmawan, jika anak aktif bermain gawai, dipastikan kebiasaan tersebut timbul karena orang tuanya mempunyai hal yang sama.

“Ketika anaknya dibilang gaboleh megang gawai, seringkali orang tua mengaplikasikan gawai didepan anak, itu persoalannya gak memberikan contoh,” tegasnya.

Menurut himbauan, Presiden Joko Widodo, anak diperbolehkan mengakses gawai minimal mulai usia 13 tahun baru diperkenankan.

“Pertimbangannya bisa bijaksana menggunakan gadget karena sudah layak menimbang ini baik atau tidak buat anak. Seperti, televisi, padahal sudah jelas tayangan sangat bebas disana mengandung unsur kekerasan,” ungkapnya.

Menurut, Darmawan, jika anak berubah menjadi pendiam, dan banyak miskomunikasi terhadap orang tua, itu disebabkan penanaman pemikiran yang salah dari orang tuanya.

“Fatalnya jika anak hubungan kekerabatan dengan keluarga tak terjalin dengan baik akan memicu tindakan kekerasan sehingga akan menimbulkan gap antara anak dengan orang tua,” ucap Darmawan.

Mengatasi permasalahan tersebut, Darmawan sampaikan langkah terbaik adalah disaat moment hari libur. Menurut Darmawan waktu libur sudah seharusnya dipakai untuk menyiapkan waktu luang anak dengan keluarga agar kekerabatan terjalin dengan baik.

“Kalau sering interaksi tindakam kekerasan dapat terminimalisir, dan hubungan anak dengan orang tua tidak ada gap interaksi,” tukasnya.