Ilustrasi Keshalihan ourangtua. Sumber : jalandamai.net

Majalahayah.com – Setiap orangtua pasti ingin memberikan yang terbaik buat anaknya dan bahkan mempersiapkan bekal untuk masa depan anaknya. Begitu juga saat orangtua tiada pun ingin meninggalkan sesuatu yang bermanfaat untuk anaknya kelak.

Sebagaimana pengaruh keshalihan orangtua yang sangat bermanfaat untuk kehidupan anak dan keturunannya. Hal ini telah menjadi hikmah dikisahkannya dalam pertemuan Nabi Musa As dan Nabi Khidir As pada perjalanan peristiwa yang ketiga.

Awalnya Nabi Musa Bersama Nabi Khidir singgah di sebuah perkampungan dan berharap dijamu sebagai tamu oleh pendudukanya, tapi ternyata penduduk setempat enggan menjamu keduanya, kemudian mereka keluar. Sesaat kemudian, Nabi Khidir melihat ada dinding yang hampir roboh. Nabi Khidir pun membangunnya dan menegakkannya kembali.

Baca juga :  Belajar dari Keikhlasan dan Doa Nabi Ibrahim 

Nabi Musa bertanya, “Kenapa kamu bangun itu kembali? Kita sudah diusir, tetapi mengapa kita harus berbuat baik?” dan Nabi Musa berkata,

“Kalau kamu mau, mintalah bayaran (upah) untuk itu.” (QS. Al-Kahfi [18] : 77)

Nabi Khidir pun menjawab,

“Adapun dinding itu kepunyaan dua anak yatim di kota itu, dan di bawahnya terdapat simpanan bagi mereka berdua, sedang ayah keduanya itu orang yang shalih, maka Tuhanmu menginginkan agar keduanya mencapai umur dewasa dan mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu, aku melakukan (tiga peristiwa) itu bukan atas kehendakku sendiri. Demikian itu tafsiran apa yang engkau tidak dapat sabar terhadapnya.” (QS: Al-Kahfi Ayat 82)

Pada ayat diatas telah disebutkan hikmahnya. Tembok itu di bawahnya ada kanzun lahuma, ‘perbendahaan, harta kekayaan untuk anak yatim tadi’. Allah SWT menjaga itu dengan wasilah Nabi Khidir supaya bisa dimanfaatkan untuk kedua anak yatim tersebut. Hal itu sebagai bentuk apresiasi Allah SWT kepada orangtua yang shalih.

Baca juga :  Standar Kepemimpinan dari Surah Al-Baqarah 

Maka perhatikanlah bagaimana Allah SWT menjaga harta pusaka anak yatim tersebut sebagai bentuk memuliakan dan balasan atas keshalihan kedua orangtuanya. Apakah kita menyangka atau meyakini bahwa harta simpanan yang Allah SWT jaga itu dikumpulkan dari harta haram? Sama sekali tidak. Orang tua yang shalih tidak akan mengumpulkan harta dari sumber yang haram dan tidak mungkin Allah SWT akan menjaganya jika harta itu tidak berasal dari sumber yang halal.

Diriwayatkan oleh Ibnu Katsir bahwa Seorang lelaki yang saleh dapat menyebabkan keturunannya terpelihara, dan berkah ibadah yang dilakukannya menaungi mereka di dunia dan akhirat. Yaitu dengan memperoleh syafaat darinya, dan derajat mereka ditinggikan ke tingkat yang tertinggi di dalam surga berkat orang tua mereka, agar orang tua mereka senang dengan kebersamaan mereka di dalam surga. Hal ini telah disebutkan di dalam Al-Qur’an, juga di dalam sunnah.

“…maka Tuhanmu menghendaki supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya. (Al-Kahfi:82)

Dalam ayat ini disebutkan bahwa iradah atau kehendak dinisbatkan kepada Allah SWT. karena usia balig keduanya tidaklah mampu berbuat apa pun terhadap harta terpendam itu, kecuali dengan pertolongan Allah SWT. Serta yang bertanggungjawab memikul beban penjagaan kemaslahatan anak keturunan demi memandang kepada keshalihan orangtua adalah Allah SWT, bukan yang lain.

Semoga kita bisa mengambil hikmah dibalik segala peristiwa, terlebih yang Allah SWT Firmankan dalam Kitabullah-Nya.

Baca juga :  Bagaimana Pengaruh Keshalihan Orangtua terhadap Anak?