Hedonisme pada Anak, Ummu Balqis Sampaikan Pentingnya Orang Tua Belajar Pola Asuh

Hedonisme pada Anak, Ummu Balqis Sampaikan Pentingnya Orang Tua Belajar Pola Asuh

266
SHARE

Majalahayah.com, Jakarta – Berbicara tentang Hedonisme di era modern memang terbilang sulit untuk dihindarkan, terlebih pada anak yang sudah mulai aktif menggunakan sosial media. Hal ini turut dipaparkan oleh Ummu Bilqis sebagai founder sekolah bengkel diri bahwa peran orang tua dalam menanamkan konsep diri merupakan hal penting untuk pola asuh terhadap anak.

“Harus sedini mungkin orang tua belajar terkait pola asuh, lahirnya hedonisme pada anak itu kita contohkan seperti orang tua yang selalu menilai segala sesuatu dari sisi materi atau brand dari suatu barang, jika anak terus ditanamkan dengan menilai segala sesuatu dari sisi materi, kedepannya akan sulit merubah pola pikir anak tersebut,” papar Ummu Bilqis saat di wawancarai majalahayah.com di Aula Masjid Utama Universitas Indonesia, Usai Mengisi Kajian Kemuslimahan di Depok, Jawa Barat (06/06/2018).

Memahami setiap orang tua selalu ingin memberikan yang terbaik untuk anak, Ummu Balqis tegaskan agar jangan memberikan pemahaman price tag minded.

“Orang tua belikan karena hal itu baik, bermanfaat untuk anak, dan memang anak butuh itu, kemudian jika kita memberikan karena berkualitas baik, ya sudah kita berikan saja. Kita memberika itu bukan karena brandnya tapi karena manfaatnya, karena kualitasnya,” imbuh Ummu Balqis.

Baca juga :   Open House AIIS, Mewujudkan Cendekia Muslim Berperilaku Ihsan

Tak hanya dari peran keluarga, lingkungan pun turut berpartisipasi lahirnya hedonisme pada anak, oleh karenanya Ummu Balqis menilai bahwa hedonisme adalah suatu penyakit yang menular.

“Hedonisme itukan ada pencetus bibitnya, ada seperti melalui media televisi, ini seperti penyakit menular, hedonisme itu mudah dicetuskan oleh hal-hal sekitar yang terekam oleh panca indera kita. Kalau kita melihat input dari luar, seperti teman kita pakai mobil bagus, seolah-olah hati kita terinfeksi, dan ini tidak berhenti kalau tidak dipuaskan,” tambah Ummu Balqis.

Ummu jelaskan, saat anak meminta sesuatu yang menurut para orang tua belum waktunya anak memilikinya dan hanya ingin mengikuti gaya temannya saja, saya tegaskan jangan dituruti.

“Misal anak kelas 2 SD minta handphone sendiri, itu kan belum ia butuhkan, karenanya kita siapkan alternative lain agar anak teralihkan karena sejatinya anak-anak itu hanya butuh sesuatu untuk sibuk, untuk happy bareng, kalau kita memfasilitasinya insya Allah anak-anak kita bisa teralihkan,” cakapnya.

Jadi, pada dasarnya mencegah lahirnya hedonisme pada anak itu mudah, jika anak ingin mainan mahal, Ummu jelaskan kita bisa alihkan dengan beragam kreativitas. Karena sebenarnya anak-anak simple, tak serumit apa yang dipikirkan orang dewasa, cukup kita main sama kita itu jauh lebih happy daripada gadget, hanya saja sekarang lebih banyak orangtua yang malas bermain sama anak.

Baca juga :   Gunung Merapi Kembali Meletus Freatik , Status Tetap Normal

Kurangnya ilmu pengetahuan tentang pendidikan orang tua terhadap anak, hal ini adalah pemicu utama timbulkan tingkat kekerasan terhadap anak di Indonesia, oleh karenanya, Ummu sampaikan bahwa Ilmu itu mampu menumbuhkan hati yang kering, sanggup menumbuhkan kemampuan yang 0 menjadi ada.

“Tidak ada salahnya menambahkan ilmu, ikuti yang sesuai hati kita, nurani kita, prinsip kita, kalau kita orang muslim maka sesuaikan pedoman hidup kita. Selama tidak bertentangnya, ayo kita terapkan. Insya Allah sesuatu yang berbasis ilmu tentunya meminimalisir kesalahan.

Diakhir kata, Ummu katakan sebenarnya menjadi orang tua itu adalah sekolah, biar mengetahui yang salah dan mana yang benar, dan kita sebagai orang tua, tidak perlu harus salah dahulu. Dengan kita belajar parenting itu dapat mengurangi kesalahan, dan kita dapat belajar dari kesalahan orang lain sehingga mampu meminimalisir trial error pola pengasuhan kepada buah hati kita.