Bayi dan ayah. Sumber www.pinterest.com

Majalahayah.com, Jakarta – Hari Prematur Sedunia diperingati setiap 17 November. Bayi disebut lahir prematur bila ia dilahirkan kurang dari 37 minggu.

Umumnya, bayi prematur akan menjalani perawatan di Neonatal Intensive Care Unit (NICU), dan membutuhkan perhatian ekstra dibandingkan bayi yang lahir normal.

dr Benny Johan Marpaung, selaku ahli kandungan mengungkapkan, bayi yang lahir prematur memiliki fungsi organ yang belum sempurna. Jika persalinan normal terjadi pada usia kehamilan 40 minggu, kelahiran prematur terjadi pada usia kandungan 20-37 minggu.

“Semakin awal kelahiran, tumbuh kembang organnya semakin tidak baik. Makin prematur, kemungkinan infeksi dan kematian meningkat,” kata Benny, dilansir dari CNNIndonesia saat berbicara soal prematur pada Jumat (16/11/2018).

Agar mengurangi risiko infeksi dan kematian, Benny menyebut, bayi harus mendapatkan perawatan intensif di NICU. Kondisi bayi akan dipantau oleh tim pediatris.

Tim pediatris yang berisi dokter spesialis anak bertugas memastikan fungsi organ bayi seperti mata, jantung, paru-paru, dan sebagainya dapat bekerja dengan sempurna. Untuk mencapai fungsi organ yang matang, umumnya bayi menjalani rawat inap yang cukup lama di NICU berkisar sepekan hingga sebulan. Perawatan ini pun membutuhkan biaya yang tak sedikit.

Sementara itu, ibu dan ayah diminta untuk tetap memberikan dukungan pada anak. Tak jarang pula, ibu tetap harus memberikan ASI secara langsung atau pun melalui pompa.

Saat fungsi organ sudah membaik, bayi akan diizinkan pulang ke rumah. Di saat seperti ini, orang tua harus memperhatikan kondisi buah hati.

Ahli kandungan lain, Profesor Ali Baziad mengimbau agar orang tua rutin memantau pertumbuhan berat badan anak. Bila tidak menunjukkan kenaikan, segera periksakan kembali ke dokter.

“Saat sudah pulang orang tua harus pantau berat badan anak, keaktifan, loyo atau bagaimana, gampang menangis atau tidak,” kata Ali yang merupakan profesor di Universitas Indonesia ini.