Majalahayah.com, Jakarta – Indonesia Murojaah menggelar Seminar Menghafal Al-Quran dengan mengusung tema “Mahkota Syurga untuk Orang Tercinta” dengan menghadirkan Hilya Qonita Juara 1 Hafizh Indonesia RCTI 2013 dan Muhammad Naja Hudia Afifurohman hafizh Indonesia RCTI 2019 pada Ahad, 1 September 2019 di Prosperity Tower SCDB Sudirman, Jakarta.

Menghadirkan dua anak hafizh Quran Indonesia, tak terduga jumlah peserta mencapai 280 orang. Padahal disampaikan oleh Halimah sebagai humas acara, awalnya hanya menampung 240 peserta.

Melejitnya jumlah peserta yang hadir tentu hal yang wajar. Mengapa? sebab dua hafizh Quran ini membuat para peserta kagum hingga meneteskan air mata

Hilya yang keinginannya menghafal Al-Quran demi kedua orangtuanya, para pesertapun amat tersanjung mulai dari ibu-ibu, bapak-bapak hingga remaja dan dewasa. Bagaimana tidak? Anak sedini itu sudah bisa membahagikan orangtua didunia dan akhirat.

Bukan hanya Hilya, Naja Hudia atau akrab disapa Naja pun demikian. Menderita celebral palsy atau lumpuh otak ia semangat untuk terus menghafal Al-Quran.

Awalnya, Ibunda Naja, Dahlia Andayani katakan bahwa buah hatinya belum bisa membaca. Tak pantang menyerah, Dahlia pun mencari metode lain agar si kecil Naja bisa mengafal Al-Quran.

Ya! Metode yang digunakan ialah mendengar.

“Saya cari metode yang paling tepat yaitu dengan cara mendengar. Naja untuk semua ilmu pengetahuan khususnya ilmu agama dia lakukan dengan cara mendengar. Waktu dia menghafal Al-Quran waktunya sedikit berbeda dengan orang lain. Orang kebanyakan itu waktu setelah subuh atau waktu hening lainnya,” jelas Dahlia saat di wawancarai Majalahayah.com usai Seminar.

Sebagai seorang ibu dan setiap harinya selalu bersama Naja, ia paham betul gaya belajar si buah hati. Dahlia ungkapkan bahwa Naja menghafal Al-Quran sejam sebelum tidur dan waktu setelah ia terbangun.

“Naja hafalan ketika sebelum tidur. Sejam sebelum tidur saya perdengarkan halaman yang akan dihafal. Sama saat Naja terbangun. Ketika pikiran lagi kosong saya dengarkan lagi. Nanti jam 2 dan 5 sore Naja setoran Al-Quran setelah sekolah. Ia tidak pernah mengeluh,” tambahnya.

Perbandingan Naja pun disebutkan oleh Ibundanya. Ia katakan bahwa dari segi kesehatan sangat jauh berbeda.

“Naja sebelum menghafal Al-Quran sedikit-sedikit batuk, sesak, langsung lari kerumah sakit. Tapi kalau sekarang kuat. Interaksi dengan orang lebih baik. Kalau dulu agak takut dia,” ucapnya.

Semangat yang tak pernah surut, Ibunda berharap agar kelak Naja bisa memberikan manfaat dan memotivasi masyarakat terkhusus anak-anak.