Foto : Imam Besar FPI, Habib Rizieq. (sumber twitter.com)

Majalahayah.com, Jakarta – Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab menjawab polemik politik identitas yang selama ini diarahkan kepada pihaknya. Menurutnya para habaib dan ulama tidak pernah menggunakan politik identitas yang merusak toleransi.

Rizieq juga menyampaikan bahwa politik identitas yang dibawanya akan sesuai dengan syariat dan konstitusi. Juga mementingkan kondisi bangsa dan juga asas Ketuhanan.

“Akan tetapi para habaib dan ulama yang istiqarah akan selalu memainkan politik identitas yang terhormat dan bermartabat yaitu politik identitas umat kebangsaan berdasarkan ketuhanan yang maha esa,” ujarnya melalui pesan suara dari Mekah, Arab Saudi kepada para peserta Ijtima Ulama, Ahad (16/9/2018).

Bahkan Rizieq menyebut politik identitas lah yang menjadikan Indonesia merdeka. Termasuk katanya dasar-dasar negara yang lahir dengan cara politik tersebut.

“Ingat indonesia merdeka dengan politik identitas. Ingat NKRI juga lahir melalui politik identitas. Ingat pancasila pun disusun dengan politik identitas,” tuturnya yang disambut takbir oleh para peserta.

Lulusan King Saud University ini pun menerangkan kisah-kisah pejuang kemerdekaan, baik pada era modern hingga kerajaan. Baginya para pejuang tersebut pun menggelorakan semangat politik identitas.

“Para Walisongo para Sultan Nusantara juga Imam Bonjol, Diponegoro, Tengku Umar dan masih banyak lagi para pejuang pahlawan melawan penjajah Belanda, Inggris, Portugis hingga Jepang juga dengan politik identitas,” urainya.

“Tatkala Bung Tomo meminta petuah ulama dan menggerakan santri dengan takbir, juga merupakan politik identitas, tatkala Sudirman yang menjadi panglima besar masuk ke hutan melakukan perlawanan dengan cara gerilya untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia pun melalui politik identitas, tatkala pak Harto bersama TNI dan ulama serta umat Islam membasmi PKI juga merupakan politik identitas,” ucap Rizieq.

Rizieq pun menyinggung keberhasilan pada Pilkada DKI 2017 lalu, baginya kemenangan tersebut berasal dari adanya politik identitas. Karena menurutnya masyarakat telah memperjuangkan ayat-ayat suci agama.

“Bahkan saat pilkada DKI di Jakarta tahun 2017 kemarin ulama dan umat Islam juga melakukan politik identitas untuk menjunjung tinggi ayat suci di atas ayat konstitusi agar konstitusi negara dan semua turunan perundang-undangannya selalu terjaga dan terkawal supaya tidak bertentangan dengan ayat ilahi,” jelasnya kemudian.

Karena itu dirinya menyakinkan bahwa politik identitas yang dibawanya tidak akan merusak toleransi. Tapi merupakan cita-cita untuk memperjuangkan keberkahan dari Tuhan.

“Jadi, ijtima ulama akan terus menghidupkan dan menggelorakan politik identitas umat kebangsaan atas dasar ketuhanan yang maha esa demi menjaga keutuhan NKRI dan Pancasila menuju Indonesia berkah,” pungkasnya.