Guru Perempuan Pertama Zaman Rasulullah SAW, Asy-Syifa Binti Abdullah

Guru Perempuan Pertama Zaman Rasulullah SAW, Asy-Syifa Binti Abdullah

164
0
SHARE
Ilustrasi Guru Perempuan Islam
Ilustrasi Guru Perempuan Islam. Sumber www.pinterest.com

Majalahayah.com – Bermula dari Gua Hira’ menyebarlah cahaya fajar Islam nan menyinari Kota Makkah dan sekitarnya dengan cahaya Allah. Memancarkan sinar ke dalam pikiran dan membuka hati-hati yang beriman, sebuah cahaya yang menyelimuti kebesaran Islam.

Berapa banyak orang yang diangkat derajatnya dengan Islam, mereka yang sebelumnya belum pernah terdengar namanya dan betapa banyak yang dengan Islam seseorang makin bertambah agung kedudukannya, yang makin memperjelas orang-orang pilihan di masa jahiliah dan orang pilihan di dalam Islam. Tidak ada perbedaan antara perempuan dan laki-laki. Beginilah asy-Syifa’ binti Abdullah bin Abdusy Syams bin Khalaf bin Syadad al-Qarsyiyah al-‘Adwiyah.

Diriwayatkan bahwa namanya adalah Laila dan dijuluki Ummu Sulaiman. Akan tetapi, ia terkenal dengan panggilan asy-Syifa’. Ia terkenal dengan nama asy-Syifa’ karena ada beberapa orang yang sembuh melaluinya, dengan izin Allah.

Asy-Syifa’ binti Abdullah menikah dengan Abu Khatsmah bin Hudzaifah bin Amir al-Qarsyi al-‘Udwi. Ia memeluk Islam dari kaum Muhajirin pada masa awal penyebarannya. Dia bersama orang-orang muslim pertama bersabar menanggung beban siksaan orang Quraisy dan gangguan mereka. Akhirnya, Allah SWT mengizinkan orang-orang yang bersabar, baik laki-laki maupun perempuan yang ada di Makkah untuk hijrah ke Yatsrib. Kemudian, hijrahlah ia bersama yang lainnya.

Asy-Syifa’ bin Abdullah al-‘Adwiyah termasuk minoritas orang yang bisa membaca dan menulis di zaman jahiliah. Allah SWT telah memberkatinya dengan membuatnya mencintai keduanya, yaitu dengan memberikan akal yang kuat dan ilmu yang bermanfaat. Ia juga bisa meruqyah sejak zaman jahiliah.

Sejak masuk Islam, ia berkata, “Aku tidak akan meruqyah sampai aku mendapatkan izin Rasulullah SAW.” Kemudian, ia datang menghadap Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah meruqyah dengan cara meruqyah orang jahiliah dan aku ingin menunjukkannya kepadamu.”

Rasulullah menjawab, “Tunjukkanlah!”

Kemudian, Asy-Syifa’ menunjukkan kepada Rasulullah. Ia meruqyah dengan menggunakan namilah (sejenis potongan dari kulit).

Lalu, Rasulullah bersabda, ”Meruqyahlah kamu dengan itu dan ajarkan hal itu kepada Hafshah. Dengan nama Allah, singkirkanlah siksaan, wahai Tuhan manusia. Dan, meruqyahlah dengan menggunakan kayu kunyit dan oleskan pada semut.”

Setelah peristiwa itu, Asy-Syifa’ terus meruqyah orang-orang yang sakit dari kalangan kaum muslimin, baik laki-laki maupun perempuan. Dia juga mengajarkannya kepada Ummul Mukminin Hafshah. Jika diperhatikan dalam kejadian ini, walaupun Asy-Syifa’ memiliki ilmu kuno yang dia dapatkan sebelum menemukan cahaya Islam, ia tidak mau menggunakannya, kecuali setelah mengetahui dan memastikan hukumnya secara syar’i.

Ketika ia telah mendapatkan izin dari Rasulullah SAW., ia pergunakan untuk membantu manusia. Tidak cukup hanya dengan itu, dalam zaman jahiliah dimana masih banyak kaum buta huruf terutama kaum perempuan ia berperan ingin mencerdaskan orang sekitar. Asy-Syifa’ mengajarkan kepada para muslimah membaca dan menulis sehingga layak dikatakan sebagai guru perempuan pertama dalam Islam.

Tidak banyak tulisan yang membahas tentang Syifa’ binti Abdullah, bahkan sangat sedikit. Ibnu Hajar dalam kitabnya,al-Ishabah, menggambarkan bahwa asy-Syifa termasuk cendekia dari kalangan wanita. Rasulullah SAW memfasilitasinya dengan menyediakan rumah di Madinah sebagai tempat tinggalnya. Ia tinggal di tempat itu bersama putranya Sulaiman bin Abu Khatsmah.

Umar bin Khaththab R.A. memercayai pendapatnya, mendahulukan untuk mendengar ucapannya dibanding dengan yang lain sampai dikatakan bahwa ia diangkat untuk mengurus beberapa hal yang berkenaan dengan pengelolaan pasar.

Asy- Syifa’ sangat menghormati Umar bin Khaththab RA. Disampaikan oleh Ibnu Sa’ad di dalam Thabaqat yang diriwayatkan dari cucunya Umar bin Sulaiman bin Abi Khatsmah dari bapaknya berkata,

“Asy-Syifa’ binti Abdullah berkata, Aku melihat beberapa pemuda berjalan dengan pelan-pelan: Lalu, Asy-Syifal berkata. “Apa ini?” Mereka berkata, “ini adalah ahli ibadah”; Lalu, ia berkata, “Demi Allah, Umar adalah orang yang ketika ia berkata terdengar jelas, jika berjalan melangkah dengan cepat, dan jika memukul akan menyakitkan. Dia adalah sebenar-benarnya manusia.”

Dapat disimpulkan bahwa dari pembicaraan Asy-Syifa’ binti Abdullah tersebut adalah bagian dari tugas seorang pengawas harga. Akan tetapi, sebagaimana diceritakan dalam kejadian tersebut, ia tidak berbicara langsung kepada kumpulan pemuda tersebut, tetapi hanya berkata kepada orang yang mendampinginya.

Di antara tugasnya juga amar ma’ruf dan nahi munkar (menyeru pada kebaikan dan mencegah kemungkaran), khususnya yang berkenaan dengan wanita. Mungkin juga pengawas pengajaran anak-anak karena hal itu termasuk pekerjaan seorang pengawas dalam Islam. Wallahu a’lam.

Asy-Syifa’ binti Abdullah meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW  dan juga dari Umar bin Khaththab. Beberapa yang meriwayatkan hadits darinya adalah anaknya, Sulaiman bin Abu Khutsmah, dan cucu-cucu yang lainnya. Haditsnya diriwayatkan pula oleh Bukhari dalam Bab Adab dan Bab Pekerjaan Seorang Hamba, sebagaimana pula diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Nasa’i.

Guru wanita pertama dalam Islam ini wafat pada zaman kekhalifahan Umar bin Khaththab pada tahun 20 Hijriah. Allah melimpahkan pahala kepadanya dari kaum muslimin dan muslimat atas apa yang dia perbuat untuk umat dengan mengurus orang-orang yang sakit dan memberikan pengajaran kepada kaum perempuan.

Guru perempuan Islam pertama dalam sejarah Rasulullah yang mengantarkan para wanita muslimah mengerti dan paham ilmu agama.

LEAVE A REPLY